CERAKEN.ID — Pada 10 April 2026, unit musik Nusaria resmi merilis video musik untuk single perdana mereka berjudul Tanpa Nama melalui kanal YouTube mereka.
Perilisan ini bukan sekadar pelengkap dari sebuah lagu, melainkan penanda awal perjalanan artistik yang dibangun dengan kesadaran akan rasa; tentang kehilangan yang samar, keterlambatan yang sunyi, dan emosi yang tak pernah benar-benar menemukan bentuknya.
Sejak awal, “Tanpa Nama” tidak hadir sebagai lagu yang berupaya menjelaskan. Ia justru memilih menjadi ruang, ruang bagi pendengar untuk mengingat sesuatu yang mungkin belum sempat mereka pahami.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lagu ini berbicara tentang momen-momen yang sering terlewat dalam kehidupan; tentang seseorang yang datang, meninggalkan jejak yang tak kasat mata, lalu pergi sebelum sempat diberi arti. Dalam lanskap kehidupan modern yang serba cepat, narasi ini terasa relevan.
Banyak orang hidup dalam ritme yang padat, menunda kejujuran, hingga akhirnya hanya menyisakan penyesalan yang datang terlalu lambat.
Kehilangan tanpa Aba-Aba
Visualisasi dalam video musiknya memperkuat kesan tersebut. Alih-alih menghadirkan alur cerita yang gamblang, pendekatan sinematik yang diambil justru mengedepankan atmosfer.
Penonton diajak masuk ke dalam suasana yang awalnya hangat, romantis, dan intim, lalu perlahan digeser menuju ruang kosong yang sunyi. Transisi ini terasa halus namun menyayat; sebuah metafora visual tentang bagaimana kebersamaan bisa berubah menjadi kehilangan tanpa aba-aba yang jelas.
Di balik layar, proses kreatif video musik ini lahir dari sesuatu yang sederhana: percakapan. Yuga Anggana mengungkapkan bahwa proyek ini awalnya tidak dirancang sebagai produksi besar.
Bersama Sangga Boemi, ia hanya mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan lanjutan setelah perilisan single. Dalam diskusi tersebut, ide tentang video musik mulai tumbuh, meski dengan keterbatasan pemahaman teknis di bidang visual.

Namun, titik balik terjadi ketika Yuga menghubungi Indra Ganeza, seorang videografer profesional, dengan niat awal sekadar meminta arahan. Respons yang datang justru melampaui ekspektasi.
Setelah mendengarkan lagunya, Indra tidak hanya memberi masukan, tetapi juga menawarkan diri untuk terlibat langsung dalam produksi. Ia bahkan datang dengan referensi visual sejak pertemuan pertama; sebuah gestur yang bagi Yuga terasa sebagai bentuk apresiasi tulus terhadap karya mereka.
Kolaborasi ini kemudian berkembang menjadi kerja kolektif yang lebih luas. Pilihan lokasi jatuh pada Segara Space, sebuah ruang dengan nuansa vintage yang dianggap selaras dengan imajinasi visual Nusaria.
Di sana, Yuga mengajak Egi Gerhanandi untuk turut terlibat. Kehadiran Egi memperkaya perspektif visual, menciptakan dialog kreatif antara dua kepala yang saling melengkapi dalam merajut estetika “Tanpa Nama”.
Kejutan yang Menyenangkan
Proses produksi yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadan menghadirkan tantangan tersendiri. Kekhawatiran muncul, terutama terkait dinamika para pemeran dan kemungkinan terbatasnya energi selama proses syuting. Namun, kekhawatiran itu justru berubah menjadi kejutan yang menyenangkan.
Pemilihan Kasha Halim sebagai aktor utama didasarkan pada kesesuaian karakter, sementara Amorina Tarizka dihubungi hanya beberapa jam sebelum pengambilan gambar dimulai. Situasi ini sempat memunculkan keraguan, terutama soal chemistry.
Namun, pada pertemuan pertama, keduanya langsung menyatu. Interaksi mereka terasa natural dan intim, seolah-olah telah lama membangun kedekatan, padahal semuanya terjadi dalam waktu yang singkat.
Hasil akhirnya adalah sebuah video musik yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga jujur secara emosional. Disutradarai oleh Indra Ganeza bersama Egi Gerhanandi, karya ini menjadi titik temu berbagai energi kreatif; dari Lumora Studio, Segara Space, hingga Nusaria sendiri.
Proses rekaman audio dilakukan di Barline Audio Lab, menambah lapisan profesionalitas dalam produksi yang pada awalnya direncanakan sederhana.

Bagi Sangga Boemi, keterlibatan dalam proyek ini menjadi pengalaman personal yang penting. Ini adalah kali pertama ia terlibat hingga tahap produksi video musik; sebuah capaian yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga emosional.
Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tim yang telah meluangkan waktu dan energi, seraya menegaskan bahwa perjalanan ini adalah bagian dari proses panjang dalam bermusik.
Dalam percakapan dengan Ceraken.id, Sangga juga mengungkap bahwa proses produksi video musik berlangsung sekitar dua minggu. Ide awal datang dari diskusi antara Yuga dan Indra mengenai konsep dan sinopsis, yang kemudian berkembang menjadi kolaborasi penuh setelah Indra tertarik dengan lagunya.
Menemukan Sendiri Resonansi
Respon publik terhadap “Tanpa Nama” sendiri terbilang positif. Pendengar mengapresiasi karakter musiknya yang mudah dinikmati, bahkan ada yang menangkap nuansa retro yang mengingatkan pada Naif, sebuah perbandingan yang diterima dengan santai oleh Sangga.
Namun lebih dari sekadar respon pasar, “Tanpa Nama” bekerja pada lapisan yang lebih dalam. Ia menyentuh pengalaman personal banyak orang; tentang rasa yang tertunda, kata-kata yang tak sempat diucapkan, dan pertemuan yang berakhir tanpa penjelasan.
Dalam dunia yang semakin bising oleh kecepatan dan distraksi, Nusaria justru menawarkan keheningan sebagai medium refleksi.
Melalui karya ini, Nusaria tidak hanya memperkenalkan diri sebagai entitas musikal, tetapi juga membuka ruang dialog dengan pendengarnya. Mereka tidak memaksa makna, melainkan memberi kesempatan bagi setiap individu untuk menemukan sendiri resonansi yang paling dekat dengan pengalaman hidupnya.
“Tanpa Nama” pada akhirnya bukan sekadar judul. Ia adalah representasi dari banyak hal yang kita rasakan, tetapi tidak pernah benar-benar kita beri nama.
Sebuah pengingat bahwa dalam hidup, tidak semua hal datang tepat waktu dan tidak semua yang datang, sempat kita pahami sebelum ia pergi. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































