White Dophed: Ketika Inti Matahari Menjadi Cermin Kehidupan

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

I Nyoman Sandiya,

I Nyoman Sandiya, "White Dophed", akrilik di atas kanvas berukuran 60 x 80 sentimeter, tahun 2026 (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Dunia sains ternyata kerap hadir dalam keliaran imajinasi pelukis I Nyoman Sandiya. Setelah sebelumnya menghadirkan “Pale Blue Dot” yang meminjam perspektif astronomi tentang kecilnya bumi di semesta raya, kini lahir karya baru bertajuk “White Dophed”, akrilik di atas kanvas berukuran 60 x 80 sentimeter, tahun 2026.

Di tangan Sandiya, sains tidak berhenti sebagai pengetahuan dingin yang tersimpan di laboratorium atau buku astronomi. Ia menjelma bahasa batin, metafora sosial, sekaligus cermin bagi manusia modern yang mulai kehilangan pusat kehidupannya sendiri.

Lukisan itu didominasi warna biru yang pekat, seperti ruang kosmos yang tidak berbatas. Di tengah hamparan biru itu, sebuah lingkar putih menyala begitu kontras, menyerupai inti matahari yang memancar diam-diam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara warna merah hanya tampak sebagai pijaran kecil di sekelilingnya, namun justru menghadirkan tegangan visual yang kuat, terbuka terhadap banyak tafsir.

Matahari yang Tidak Pernah Memilih Siapa yang Disinari

Bagi Sandiya, inti matahari bukan sekadar objek astronomi. Ia adalah simbol tentang nilai dasar kehidupan manusia yang sering tidak terlihat namun menentukan segalanya.

“White Dophed dalam karya ini mengambil ide inti atau dasar dari matahari, dari warna keemasan atau kemerahan yang kita lihat dari bumi, ternyata intinya berwarna putih,” buka Sandiya.

Ia lalu menjelaskan bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah melihat inti matahari secara langsung. Jarak 150 juta kilometer dan lapisan gas yang menutupinya membuat manusia hanya mampu menangkap pantulan luarnya saja.

Namun justru dari inti yang tak terlihat itulah kehidupan di bumi bergantung.

“Kita tidak pernah melihat inti matahari secara langsung, 150 juta km jauhnya, tertutup lapisan gas. Tapi semua yang hidup di bumi bergantung sama energi yang keluar dari sana,” sambungnya.

Di titik itu, Sandiya menarik garis antara sains dan moralitas manusia. Baginya, inti matahari serupa dengan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, kerja keras, dan gotong royong. Nilai-nilai itu tidak glamor, jarang dipamerkan, tetapi ketika hilang maka kehidupan sosial perlahan runtuh.

Baca Juga :  Dari Panggung MTQ ke Panggung Peradaban

Matahari, dalam tafsirnya, juga menjadi lambang kemurahan dan ketulusan. Ia menyala selama 4,6 miliar tahun tanpa pernah memilih siapa yang akan disinari. Energinya mengalir tanpa meminta balasan.

Karena itu, Sandiya melihat matahari sebagai metafora bagi orang-orang sederhana yang bekerja di balik layar: petani yang tekun di sawah, atau mereka yang diam-diam membersihkan sampah plastik tanpa menunggu pujian.

Orbit Kehidupan dan Kekacauan Manusia Modern

Pada bagian putih di pusat lukisan, tampak tekstur menyerupai lintasan atau orbit. Detail ini bukan sekadar permainan visual, melainkan penegasan filosofis bahwa segala sesuatu memiliki jalurnya masing-masing.

Menurut Sandiya, planet harus bergerak sesuai orbitnya agar semesta tetap seimbang. Ketika keluar dari orbit, kehancuran menjadi akibat yang tak terhindarkan. Tafsir itu kemudian diperluas menjadi refleksi sosial dan politik.

Negara, menurutnya, telah memiliki falsafah hidup yang lahir dari alam dan lingkungan masyarakatnya. Manusia pun demikian, mempunyai orbit moral yang semestinya dijalani.

Namun ketika manusia dipenuhi hasrat menguasai, ego, dan kerakusan, orbit itu rusak. Dari sanalah perang, kerusakan lingkungan, hingga penderitaan lahir.

Dalam pembacaan itu, “White Dophed” menjadi kritik halus terhadap kehidupan modern yang sibuk mengejar pengakuan. Dunia hari ini, menurut Sandiya, semakin menjauh dari kerja-kerja sunyi yang justru menopang kehidupan.

“Kenapa ini penting buat cara hidup,” tanya Sandiya.

Lulusan IKIP Negeri Yogyakarta itu lalu menjawab sendiri pertanyaannya.

“Inti Matahari kerja pelan, panas, stabil, 4.6 miliar tahun tanpa henti dan tidak pamer. Inti tubuh manusia juga gitu, jantung kita sudah berdetak 2.5 miliar kali sejak kita lahir tanpa disuruh. Dan sangat bertolak belakang dengan kehidupan modern yang banyak isinya dengan ego, status, pengakuan.”

Pernyataan itu menjadikan lukisan ini tidak sekadar karya visual, melainkan semacam renungan eksistensial. Bahwa yang paling penting dalam kehidupan justru sering bekerja tanpa sorotan.

Baca Juga :  Bermain Sendiri di Lautan Ramai: Sun Noosea dan Keberanian Menjadi Diri Sendiri
Putih yang Lahir dari Kematian Bintang

Judul “White Dophed” sendiri diambil dari istilah astronomi tentang fase bintang yang telah mati dan berubah menjadi inti putih yang sangat padat. Sandiya meminjam konsep itu untuk menjelaskan tentang kemurnian hati manusia.

“Itu inti matahari berwarna putih, terbuat dari matinya bintang yang sudah tidak bersinar lagi, mengembang jadi ‘raksasa merah’. Sangat berat dan padat satu sendok teh seberat 50 ton. Makanya saya sandingkan dengan intinya manusia berupa hati yang putih bersih bisa menyinari dan bermanfaat bagi kehidupan. Begitu inti filosofi ‘White Dophed’,” urai Sandiya menjawab rasa penasaran.

Dalam cara pandang itu, kematian sebuah bintang tidak dipahami sebagai akhir, melainkan proses menuju inti yang lebih murni. Sandiya seperti hendak mengatakan bahwa manusia pun memerlukan proses pengikisan ego agar menemukan cahaya terdalam dalam dirinya.

Secara filosofis, “White Dophed” memang berbicara tentang perbedaan antara apa yang tampak dan apa yang sesungguhnya. Mata manusia mungkin melihat matahari sebagai kuning keemasan atau merah membara, tetapi esensinya justru putih dan bersih.

Dari sana, karya ini mengingatkan bahwa kenyataan terdalam sering tersembunyi di balik permukaan yang kasatmata.

Melalui metafora matahari, orbit, dan inti bintang, Sandiya menghadirkan seni yang tidak berhenti sebagai objek estetis. Ia menjadi ruang dialog antara kosmos dan manusia, antara sains dan nurani.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh pencitraan, “White Dophed” seperti mengajak orang kembali mencari inti paling sederhana dalam hidup: ketulusan yang bekerja diam-diam, namun menopang seluruh kehidupan. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Beda Generasi, Jembatan Cinta dalam Kanvas Lingsartha
Esti Ebhi Evolisa dan Nyanyian Alam dari Kanvas Ecoprint
Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok
Satar Tacik dan Jejak Pulang ke Budaya: Dari “Cahaya Kegelapan” Menuju Narasi Sasak dalam Seri Praja
Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok
Dari Panggung MTQ ke Panggung Peradaban
Merawat Ruh Gula Gending dari Panggung Teater
Rahmatan Lil Alamin di Panggung MTQ NTB: Ketika 300 Penari Merawat Harmoni Semesta

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 21:05 WITA

Beda Generasi, Jembatan Cinta dalam Kanvas Lingsartha

Minggu, 14 Juni 2026 - 20:22 WITA

Esti Ebhi Evolisa dan Nyanyian Alam dari Kanvas Ecoprint

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:28 WITA

Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:02 WITA

Satar Tacik dan Jejak Pulang ke Budaya: Dari “Cahaya Kegelapan” Menuju Narasi Sasak dalam Seri Praja

Kamis, 11 Juni 2026 - 01:08 WITA

Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok

Berita Terbaru

Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan antikorupsi sejatinya memiliki akar yang sama dengan ajaran moral dan spiritual yang diajarkan agama (foto: ppid.mataramkota.go.id / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Hijrah, Integritas, dan Ikhtiar Membangun Bangsa

Rabu, 17 Jun 2026 - 11:37 WITA

Kliping yang mulai memudar menjadi pengingat, keteguhan dalam berkesenian tidak selalu lahir dari panggung besar (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Warjack, Keteguhan yang Tak Lekang oleh Waktu

Rabu, 17 Jun 2026 - 09:34 WITA

Kreativitas selalu kembali pada pilihan manusia untuk memberi makna atas hidupnya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia

Selasa, 16 Jun 2026 - 16:28 WITA