Kearifan Lokal dalam Arus Global: Sebuah Refleksi

Selasa, 25 November 2025 - 08:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Forum sederhana namun padat gagasan, menjadi ruang temu (foto: ist)

Forum sederhana namun padat gagasan, menjadi ruang temu (foto: ist)

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID- Waktu bergerak cepat, tetapi ada peristiwa yang tidak terhapus. Setahun telah berlalu sejak Diskusi Publik “Strategi Mempertahankan Eksistensi Kebudayaan Lokal” digelar oleh Perkumpulan Mahasiswa Jabodetabek Mataram bekerja sama dengan Sanggar Jalan Pulang dan Simposium NTB.

Forum itu, sederhana namun padat gagasan, menjadi ruang temu yang bukan saja memperbincangkan kebudayaan, melainkan juga merefleksikan posisi manusia di tengah arus perubahan. Kini, setahun sesudahnya, barangkali tiba saat untuk merekonstruksi ingatan, memahami konteks yang berkembang, dan memperbarui makna dari peristiwa tersebut.

Pada 24 November 2024, pukul 16.40, di Balai Diklat Koperasi UMKM NTB, para mahasiswa, seniman, pegiat budaya, dan akademisi duduk dalam satu lingkar wacana. Mereka membicarakan keberlanjutan kebudayaan lokal di tengah globalisasi yang kian intens.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa yang dulu menjadi kekhawatiran kini menjadi kenyataan: perubahan berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk menyesuaikannya. Karena itu, refleksi ini bukan sekadar kilas balik, tetapi juga sebuah ajakan untuk menilai ulang posisi kita sebagai penjaga, pewaris, dan pencipta kebudayaan.

Kebudayaan Sebagai Peristiwa Pertemuan

Salah satu gagasan paling kuat yang mengemuka dalam diskusi berasal dari pandangan Ary Darjanto, yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah “peristiwa pertemuan para pelaku/orang yang mempunyai etnis diri masing-masing.”

Ary Darjanto: Kebudayaan bukan benda mati, bukan dokumen, bukan pula sekadar peninggalan. Ia adalah perjumpaan: sebuah proses dialog yang terus-menerus antara manusia, pengalaman, dan identitas (foto: ist)

Dengan kalimat sederhana itu, Ary menegaskan bahwa kebudayaan bukan benda mati, bukan dokumen, bukan pula sekadar peninggalan. Ia adalah perjumpaan: sebuah proses dialog yang terus-menerus antara manusia, pengalaman, dan identitas.

Dalam refleksi setahun kemudian, kita melihat bahwa pernyataan itu semakin relevan. Beragam etnis, suku, dan kelompok masyarakat kini berinteraksi lebih intens melalui teknologi digital, mobilitas sosial, migrasi, dan jaringan global.

Ruang-ruang virtual menjadi arena baru bagi pertukaran budaya, tetapi sekaligus memunculkan tantangan: bagaimana memastikan bahwa pertemuan ini tidak mengaburkan identitas, melainkan memperkaya keberagaman?

Ary menyebut bahwa perubahan terjadi ketika globalisasi, kemajuan teknologi, dan pencarian akar budaya saling bertemu, memunculkan sebuah “peradaban baru.” Refleksi ini terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kita menyaksikan bagaimana musik tradisi berkolaborasi dengan teknologi modern, bagaimana bahasa daerah hadir dalam konten digital, atau bagaimana ritual adat menemukan wajah baru dalam kemasan festival. Tetapi pada saat yang sama, kita juga merasakan kegelisahan: apakah peradaban baru itu merawat atau justru mereduksi yang lama?

Satu tahun berlalu, dan pertanyaan itu semakin mendesak. Di beberapa komunitas, transformasi budaya justru memunculkan semangat baru: generasi muda mulai mendokumentasikan cerita rakyat melalui video, memperkenalkan tarian tradisi melalui media sosial, atau merancang fashion berbasis motif lokal.

Baca Juga :  Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Namun, tidak sedikit pula budaya yang terpinggirkan, kehilangan ruang praktik, dan hanya muncul sebagai dekorasi dalam acara seremonial. Di sinilah pentingnya refleksi: apakah kita membiarkan kebudayaan berjalan tanpa arah, ataukah kita memandu proses transformasinya?

Melestarikan Kebudayaan untuk Kesejahteraan

Dalam diskusi itu pula, Ahmad Junaidi, M.A, Ph.D mengingatkan bahwa melestarikan kebudayaan sesungguhnya bukan tujuan akhir. Sebaliknya, pelestarian budaya adalah sarana untuk membangun kesejahteraan manusia. Sasaran akhirnya adalah masyarakat yang well being, yakni masyarakat dengan kondisi emosional sehat, kehidupan sosial harmonis, serta kesadaran akan nilai yang mereka junjung.

Ahmad Junaidi: Sasaran akhirnya adalah masyarakat yang well being, yakni masyarakat dengan kondisi emosional sehat, kehidupan sosial harmonis, serta kesadaran akan nilai yang mereka junjung (foto: ist)

Refleksi setahun kemudian menunjukkan bahwa gagasan well being berbasis budaya semakin mendapatkan tempat dalam banyak program pemerintah maupun komunitas.

Banyak daerah mulai menyadari bahwa budaya tidak hanya berfungsi sebagai simbol identitas, tetapi juga sebagai instrumen peningkatan kualitas hidup. Misalnya, kesenian tradisional dijadikan ruang rekreasi yang menyehatkan mental, ritual adat menjadi sarana penguatan solidaritas sosial, dan kearifan lokal dijadikan dasar dalam penyelesaian konflik.

Ahmad Junaidi menekankan tiga ciri well being berbasis kebudayaan:

  1. Menimbulkan Kesehatan Emosional

Budaya, dalam bentuk seni, bahasa, musik, atau ritual, sering kali menjadi media penyembuhan. Dalam setahun terakhir, kita melihat semakin banyak sanggar dan komunitas yang menggunakan pendekatan budaya dalam proses rehabilitasi sosial, konseling komunitas, hingga pendidikan karakter.

Kesehatan mental menjadi isu publik, dan budaya terbukti memberi ruang yang lebih ramah dan bermakna untuk pemulihan.

  1. Masyarakat Semakin Harmonis

Setahun ini kita juga menyaksikan berbagai konflik sosial yang berhasil mereda melalui pendekatan adat. Para tokoh budaya memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antarwarga.

Nilai-nilai budaya seperti gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati kembali dipromosikan, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai praktik yang hidup dalam kegiatan masyarakat.

  1. Ada Nilai Yang Terus Diungkap dan Direlevansikan

Budaya tidak bisa dibiarkan membeku dalam masa lalu. Setiap generasi harus mengungkap makna baru dari nilai-nilai lama.

Itulah sebabnya Ahmad Junaidi menyebut perlunya riset dan pendekatan akademis. Kearifan lokal tidak boleh hanya dimitoskan, ia perlu ditelaah, dipertanyakan, dan dikembangkan agar relevan dengan tantangan masa kini seperti krisis lingkungan, digitalisasi, atau perubahan gaya hidup.

Selama setahun ini, beberapa kampus, sanggar, dan komunitas di NTB mulai menggagas riset kecil tentang tradisi lokal. Walau masih sporadis, langkah ini menunjukkan bahwa diskusi setahun lalu tidak berhenti sebagai wacana. Ada gerak yang nyata.

Masih menurut Ahmad Junaid, dua konsep penting dalam memahami pelestarian budaya adalah paradigma jika–maka dan rentang keseimbangan.

Paradigma jika–maka mengajarkan kita untuk berpikir kausal: jika budaya tertentu ditinggalkan, maka apa konsekuensinya bagi masyarakat? Jika budaya yang relevan diperkuat, maka dampak apa yang tercipta bagi generasi mendatang?

Baca Juga :  Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia

Satu tahun berlalu, kita bisa menguji paradigma ini:

  • Jika generasi muda semakin enggan menggunakan bahasa daerah, maka kehilangan identitas menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.
  • Jika seni tradisi diberi ruang berkarya yang lebih luas, maka ruang kreatif lokal tumbuh dan ekonomi budaya menguat.
  • Jika kearifan lokal diintegrasikan dalam kebijakan daerah, maka ketahanan sosial dan ekologis bisa meningkat.

Adapun rentang keseimbangan mengingatkan bahwa kebudayaan tidak boleh ditarik ke ekstrem puritan atau ekstrem modernis. Ia harus hidup di wilayah tengah yang fleksibel: tidak menolak perubahan, tetapi tidak kehilangan akar.

Dalam refleksi setahun ini, kita melihat bahwa banyak kegiatan budaya justru menemui tantangan dalam menjaga keseimbangan itu: terlalu modern sehingga kehilangan substansi, atau terlalu tradisional sehingga kehilangan relevansi. Tantangannya adalah menemukan titik temu yang dinamis.

Momentum Setahun: Apa yang Berubah?

Paradigma jika–maka mengajarkan kita untuk berpikir kausal (Foto: ist)

Setahun setelah diskusi publik itu, ada beberapa perkembangan yang layak dicatat dan menjadi tanya:

  1. Komunitas budaya semakin aktif membuat dokumentasi digital, baik berupa arsip video, pementasan daring, maupun podcast budaya.
  2. Kolaborasi antar-sanggar dan antar-komunitas meningkat, terutama di kota-kota NTB, dipicu oleh kesadaran bahwa kebudayaan hanya bisa lestari jika dijalankan bersama.
  3. Isu perlindungan nilai adat dan bahasa daerah mulai masuk dalam agenda diskusi publik generasi muda, terutama mahasiswa.
  4. Program riset kecil-kecilan mulai tumbuh, meski masih membutuhkan dukungan institusi yang lebih kuat.
  5. Kesadaran bahwa budaya adalah bagian dari kesejahteraan mulai menguat, terlihat dari banyaknya kegiatan seni yang digelar untuk edukasi mental dan sosial.

Namun, ada juga tantangan yang masih tetap sama: keterbatasan ruang publik, minimnya pendanaan, kurangnya publikasi akademis, dan belum adanya kebijakan besar yang mengikat.

Sebagai penutup, refleksi setahun ini menunjukkan bahwa diskusi publik yang diselenggarakan Perkumpulan Mahasiswa Jabodetabek Mataram bersama Sanggar Jalan Pulang dan Simposium NTB bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia adalah benih gagasan yang pelan-pelan tumbuh, menciptakan resonansi, dan perlahan membentuk kesadaran baru mengenai kebudayaan lokal.

Kita diajak untuk memahami bahwa kebudayaan adalah ruang pertemuan, ruang kelanjutan, dan ruang penciptaan. Melestarikannya bukan kewajiban semata, tetapi jalan menuju masyarakat yang lebih sehat, harmonis, dan bermakna.

Dan sekarang, setahun kemudian, kita dihadapkan pada pertanyaan baru:
“Apakah kita siap melanjutkan pertemuan itu, menjadikannya gerakan yang lebih kuat, dan memastikan bahwa kebudayaan kita tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi fondasi peradaban masa depan?”

#Akuair-Ampenan, 24-11-2025

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta
Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat
Tentang Igelan Jaran Endut
Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB
Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia
Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026
Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional
“Aklammang” di Desa Lantang, Jejak Persatuan dalam Filosofi Akbulo Sibatang

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:44 WITA

Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WITA

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:58 WITA

Tentang Igelan Jaran Endut

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:41 WITA

Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:26 WITA

Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA