Algoritma Bayangan Sastra: Ketika Wayang Kafka Menghidupkan Metamorfosis di Universitas Mataram

- Penulis

Sabtu, 14 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kelas Kolaborasi Bersama Praktisi (Foto: aks/ceraken.id

Kelas Kolaborasi Bersama Praktisi (Foto: aks/ceraken.id

CERAKEN.ID — Barangkali pementasan itu sendiri merupakan sebuah metamorfosis, bukan hanya bagi tokoh dalam cerita, tetapi juga bagi sastra yang bergerak dari halaman buku menuju ruang pertunjukan.

Pada Jumat siang, 13 Maret 2026, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram, sebuah karya sastra dunia yang lahir lebih dari satu abad lalu menjelma kembali dalam medium yang tak biasa: wayang.

Bisa jadi, pementasan Wayang Kafka dengan lakon Metamorfosis berada di luar bayangan sang dalang, Sigit Susanto. Pertunjukan yang dihelat Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) itu bukan hanya menghadirkan tontonan, melainkan juga ruang pembelajaran.

Sigit hadir sebagai praktisi yang berbagi pengalaman mengenai eksperimen artistiknya, mengawinkan sastra modern Eropa dengan tradisi wayang.

“Kami menyebutnya Kelas Kolaborasi Bersama Praktisi,” ujar akademisi Rinda Widya.

Menurut pengampu Mata Kuliah Pilihan Praktik Sastra Pertunjukan itu, kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa tentang bagaimana karya sastra dapat diproses menjadi seni pertunjukan.

“Terutama untuk Mata Kuliah Praktik Sastra Pertunjukan,” tambahnya.

Kelas kolaborasi tersebut diikuti sekitar 60 mahasiswa dari dua kelas yang digabungkan. Bagi mereka, pementasan Wayang Kafka bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga laboratorium kreatif.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan pada proses adaptasi karya prosa, dalam hal ini novelet Metamorfosis, ke dalam bentuk pertunjukan wayang. Pengalaman ini menjadi bekal awal bagi mereka yang nantinya harus membuat proyek akhir berupa pagelaran wayang yang diadaptasi dari prosa Indonesia, baik cerpen, novel, maupun cerita rakyat, pada Juni mendatang.

Di ruang kelas itulah sastra mengalami transformasi. Ia tidak lagi berhenti sebagai teks, tetapi menjadi pengalaman visual, dramatik, dan performatif.

Metamorfosis Gregor Samsa

Sekira pukul 14.30 WITA, pertunjukan dimulai. Lakon yang dipentaskan adalah Metamorfosis, karya monumental Franz Kafka yang pertama kali terbit pada 1915 dengan judul asli Die Verwandlung.

Cerita ini berkisah tentang Gregor Samsa, seorang pedagang kain keliling yang menjadi tulang punggung keluarganya. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan adik perempuannya yang bernama Grete, berusia 17 tahun.

Sigit Susanto. Perubahan tidak hanya terjadi pada tubuh Gregor, tetapi juga pada perilakunya (Foto: aks/ceraken.id)

Pada awalnya keluarga Samsa hidup berkecukupan. Namun kehidupan mereka berubah ketika bisnis sang ayah bangkrut. Untuk menutup utang keluarga, Gregor harus bekerja keras sebagai pedagang keliling.

Namun suatu pagi yang aneh, Gregor terbangun dari mimpi buruk dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa yang menjijikkan.

Perubahan itu mengguncang seluruh keluarga.

Baca Juga :  Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Gregor yang sebelumnya menjadi penopang ekonomi keluarga kini berubah menjadi makhluk yang membuat keluarganya ketakutan.

Perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada tubuh Gregor, tetapi juga pada perilakunya. Ia tidak lagi menyukai makanan segar, melainkan makanan basi. Cara bergeraknya pun berubah, ia lebih suka merangkak di dinding atau menggantung di langit-langit rumah.

Keluarga Samsa tidak tahu harus berbuat apa. Gregor akhirnya dikurung di kamar dan perlahan-lahan dijauhi oleh keluarganya sendiri.

Dua bulan kemudian, Gregor meninggal dunia dalam kondisi yang mengenaskan karena tubuhnya semakin lemah.

Kisah tersebut menjadi salah satu metafora paling kuat dalam sastra modern mengenai alienasi manusia, tentang bagaimana seseorang dapat terasing bahkan di dalam keluarganya sendiri.

Franz Kafka dan Dunia Sastra Modern

Franz Kafka lahir di Praha pada 3 Juli 1883. Ia dikenal sebagai salah satu sastrawan paling berpengaruh dalam sejarah sastra abad ke-20.

Kafka meninggal dunia pada 3 Juni 1924 akibat penyakit tuberkulosis pada usia 40 tahun. Meskipun semasa hidupnya tidak terlalu dikenal luas, karya-karya Kafka kemudian menjadi fondasi penting bagi perkembangan sastra modern.

Karyanya banyak mengangkat tema absurditas kehidupan manusia, ketidakberdayaan individu dalam sistem sosial, serta perasaan terasing yang dialami manusia modern.

Menariknya, karya Kafka justru lebih banyak dibaca di luar Jerman. Bahkan sejumlah pengamat sastra menyebut bahwa karya Kafka menjadi salah satu karya sastra Jerman yang paling luas dibaca di dunia, melampaui karya Johann Wolfgang von Goethe maupun Thomas Mann.

Karya Kafka mengalami perjalanan lintas budaya yang unik (Foto: aks/ceraken.id)
Wayang Kafka: Eksperimen Budaya

Di tangan Sigit Susanto, karya Kafka mengalami perjalanan lintas budaya yang unik. Kisah yang lahir di Eropa Tengah itu kini dipentaskan dalam bentuk wayang kulit, seni pertunjukan tradisional Nusantara.

Namun Wayang Kafka bukanlah wayang dalam pengertian klasik.

Ia merupakan bentuk eksperimen artistik yang menggabungkan sastra modern dengan estetika wayang.

Dalam pertunjukan tersebut terdapat sembilan karakter utama, yakni ayah, ibu, Gregor Samsa, Grete, pembantu rumah tangga keluarga Samsa, kepala kepegawaian, serta tiga penyewa kamar yang digambarkan sebagai pria berjambang.

Selain itu terdapat pula figur lukisan perempuan cantik dengan mantel bulu lebat, sebuah simbol yang muncul dalam cerita Kafka.

Tokoh Gregor bahkan dibuat dalam empat figur berbeda, sesuai dengan posisi tubuhnya dalam cerita: Gregor di tempat tidur, Gregor di bawah sofa, Gregor berdiri, dan Gregor merangkak.

Sementara tokoh Grete memiliki dua figur: Grete sebagai adik Gregor dan Grete yang memainkan biola.

Baca Juga :  Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Wajah-wajah tokoh tersebut diambil dari foto orang Eropa tahun 1920-an yang ditemukan melalui internet, menyesuaikan dengan latar waktu cerita ketika novelet tersebut ditulis.

Dalam wayang klasik, gunungan biasanya berbentuk gunung yang dihiasi pohon, harimau, ular, dan berbagai simbol kosmologis.

Namun dalam Wayang Kafka, gunungan diganti dengan gambar rumah Kafka.

Rumah tersebut adalah rumah tempat Kafka pernah tinggal bersama orang tuanya dan tempat ia menulis Die Verwandlung.

Sigit menemukan gambar rumah itu dari salah satu sampul buku Metamorfosis.

Dengan menjadikannya sebagai gunungan, ia menghadirkan simbol baru dalam tradisi wayang, sebuah rumah yang menjadi titik awal lahirnya cerita.

Pengalaman ini menjadi bekal awal bagi mereka yang nantinya harus membuat proyek akhir, pada Juni mendatang (Foto: aks/ceraken.id)
Wayang yang Lahir dari Eksperimen

Wayang Kafka yang dimainkan dalam pertunjukan ini dibuat oleh seorang perajin bernama Sulistiyo dari Patean, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Desa tersebut hanya sekitar 30 menit perjalanan sepeda motor dari desa tempat tinggal Sigit di Bebengan, Boja.

Sulistiyo mengaku bahwa Wayang Kafka merupakan proyek wayang kontemporer pertama yang ia kerjakan. Biasanya ia membuat wayang klasik.

Namun melalui proyek ini, ia harus menyesuaikan bentuk wayang dengan karakter orang Eropa.

Pertunjukan Wayang Kafka juga menggunakan beberapa properti sederhana yang membantu membangun suasana cerita.

Properti tersebut antara lain pintu kamar Gregor berwarna putih, meja, kursi, jam beker di atas meja, mangkuk makanan Gregor, sapu rumah tangga, tongkat milik kepala kepegawaian, serta apel merah yang dilemparkan oleh ayah Gregor.

Musik latar yang digunakan berasal dari dua sumber di internet.

Pertama adalah musik instrumental berjudul Metamorphosis (Die Verwandlung), dan kedua adalah musik biola dari musisi Indonesia Endang Tiara.

Kombinasi keduanya membangun suasana dramatik yang sesuai dengan atmosfer cerita Kafka yang muram dan penuh tekanan psikologis.

Pementasan Wayang Kafka di Universitas Mataram menunjukkan bahwa sastra tidak pernah berhenti bergerak.

Ia dapat berpindah medium, berubah bentuk, dan menemukan cara baru untuk bercerita. Dari halaman buku menuju panggung pertunjukan, dari teks menuju figur wayang, karya Kafka mengalami metamorfosis yang baru.

Di ruang kelas FKIP Universitas Mataram pada sore itu, sastra dunia dan tradisi Nusantara bertemu dalam sebuah eksperimen artistik.

Dan dari pertemuan itu lahir satu kesadaran baru: bahwa sastra, seperti kehidupan itu sendiri, selalu memiliki kemungkinan untuk berubah bentuk, selama masih ada orang yang berani menafsirkan dan memainkannya kembali. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA