CERAKEN.ID — Tepuk tangan riuh mahasiswa menggema di ruang perkuliahan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram pada Jumat, 13 Maret 2026. Pementasan Wayang Kafka “Metamorfosis” yang dibawakan oleh Sigit Susanto baru saja berakhir setelah berlangsung selama 34 menit 38 detik.
Namun energi pertunjukan itu tidak berhenti di panggung. Diskusi yang menyusul setelahnya justru menjadi ruang eksplorasi intelektual yang sama hidupnya dengan pertunjukan itu sendiri.
Acara tersebut digelar dalam format Kelas Kolaborasi Bersama Praktisi di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Para mahasiswa bukan hanya menjadi penonton, melainkan juga calon kreator yang sedang mempersiapkan proyek akhir mata kuliah Praktik Sastra Pertunjukan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wayang yang dipentaskan Sigit merupakan adaptasi dari novelet klasik karya Franz Kafka berjudul Die Verwandlung, kisah tentang Gregor Samsa yang suatu pagi terbangun sebagai serangga raksasa.
Namun bagi mahasiswa PBSI, pertunjukan tersebut bukan hanya menghadirkan cerita Kafka, melainkan membuka pintu kemungkinan baru: bagaimana prosa dapat menjelma menjadi pertunjukan wayang kontemporer.
Legenda Sumbawa dan Imajinasi Wayang
Sesi diskusi dimulai dari presentasi Kelompok 2 yang berencana mengadaptasi legenda Sumbawa berjudul Lala Buntar. Cerita ini memiliki kemiripan dengan legenda Putri Mandalika, tetapi dengan alur berbeda. Jika Mandalika memilih terjun ke laut, Lala Buntar justru bersembunyi di dalam bukit bersama para dayangnya.
Kelompok tersebut berencana memadukan berbagai unsur seni: teater, musik, tari, dan wayang, dalam satu pagelaran.
Menanggapi gagasan tersebut, Sigit menilai pendekatan lintas seni itu sangat mungkin dilakukan. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri ketika mengadaptasi Metamorfosis.
“Novela Metamorfosis tebalnya sekitar 80 halaman, tetapi saya ringkas menjadi delapan halaman untuk naskah wayang,” ujarnya.
Menurutnya, adaptasi sastra tidak harus rumit. Yang terpenting adalah menjaga inti cerita sambil menemukan bentuk pertunjukan yang efektif.
Ia juga menceritakan pengalaman ketika tampil di Eropa. Di Swiss dan Jerman, mencari penari bukan masalah besar, tetapi menemukan dalang yang mampu berbahasa Jerman justru sangat sulit.
“Di sana wayang justru dianggap unik dan menarik. Sementara di Indonesia, menjadi dalang mulai dijauhi anak muda,” katanya.

Wayang dari Kaleng Jagung
Pertanyaan berikutnya datang dari Wiwit, penanya pertama. Ia ingin mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan pemula untuk belajar pementasan wayang dan berapa besar biaya yang harus disiapkan untuk membuat perangkat wayang.
Menjawab pertanyaan itu, Sigit justru mengisahkan perjalanan kreatifnya yang penuh improvisasi.
Ketika pertama kali tampil di Swiss, ia tidak memiliki perangkat lengkap seperti dalam pertunjukan wayang tradisional. Tidak ada batang pisang (gedebog) untuk menancapkan wayang, sehingga ia menggantinya dengan jerami. Wayang yang digunakan pun sebagian besar dibeli sebagai suvenir di kawasan Malioboro.
Bahkan alat kecrek, instrumen ritmis penting dalam wayang, dibuat dari kaleng jagung bekas yang dipotong.
“Orang Swiss tidak akan memeriksa apakah pegangannya bambu atau bukan. Bagi mereka, warna dan bentuk wayang sudah sangat eksotis,” katanya.
Ia juga mengisahkan kejadian lucu ketika memainkan lakon Ramayana di Eropa. Wayang Rahwana yang seharusnya tampil di tengah adegan ternyata masih tertempel di tembok. Namun pertunjukan tetap dilanjutkan.
“The show must go on,” ujar Sigit.
Video pertunjukan sederhana itu kemudian diunggah ke YouTube. Tanpa disangka, rekaman tersebut membuatnya diundang tampil di sebuah museum di Jerman dengan honor 500 euro.
Menulis Naskah dari Sastra
Marliza, penanya kedua, kemudian mengangkat persoalan teknis adaptasi. Ia bertanya bagaimana cara menulis naskah wayang dari sebuah buku tanpa menghilangkan inti cerita, serta apakah dialog harus sama persis dengan teks asli.
Sigit menjawab dengan pendekatan yang sederhana. Ia mengaku belum pernah menulis naskah drama secara formal.
“Saya menulis cerpen, novel, dan puisi. Tetapi naskah wayang saya mulai dari membuat sinopsis,” katanya.
Ia menekankan bahwa proses menerjemahkan karya sastra sebenarnya sudah menjadi bentuk pembacaan paling mendalam.
“Guru saya di Swiss pernah mengatakan: translator is the best reader,” ujarnya.

Karena ia sendiri yang menerjemahkan karya Kafka, banyak dialog dalam pementasan tetap mengikuti teks asli. Namun improvisasi tetap diperlukan, terutama untuk menyesuaikan konteks lokal.
Dalam pementasan di Lombok, misalnya, ia menyisipkan ungkapan seperti “tabe” dan “innalillahi” yang tentu tidak ada dalam teks Kafka.
Membaca Jiwa Pengarang
Pertanyaan berikutnya datang dari Icha, penanya ketiga. Ia ingin mengetahui bagaimana menjaga pesan utama novel ketika naskah yang awalnya panjang harus dipadatkan menjadi sangat singkat.
Menurut Sigit, kunci utama adaptasi adalah memahami biografi penulis.
Kafka, katanya, dikenal sebagai pribadi yang melankolis dan pemalu. Atmosfer muram itu harus tetap terasa dalam pertunjukan.
“Dalam Metamorfosis tidak ada suasana gembira. Semuanya terasa mencekam,” jelasnya.
Ia bahkan pernah mengalami kesalahan ketika memesan wayang Gregor Samsa. Wajah wayang tersebut dibuat dengan ekspresi gembira, padahal karakter Gregor seharusnya penuh kesedihan.
Kesalahan kecil itu membuatnya semakin sadar bahwa memahami kehidupan pengarang sangat penting dalam proses adaptasi.
Konflik Tanah Suci dan Investor
Diskusi kemudian berlanjut dengan presentasi Kelompok 3 yang berencana mengadaptasi cerpen Iblis Tanah Suci karya Arianto Adipurwanto. Cerita tersebut berlatar Lombok Utara dan menyoroti konflik antara masyarakat lokal dengan investor asing yang ingin membangun kawasan wisata di tanah yang dianggap suci.
Kelompok ini bertanya bagaimana cara memvisualisasikan berbagai karakter dalam cerita tersebut melalui wayang.
Sigit menilai tema itu sangat relevan dengan isu ekologis dan sosial masa kini.
Ia menyarankan agar tokoh-tokoh dalam cerita divisualisasikan secara kontras: misalnya turis asing dengan wajah Barat, sementara tokoh lokal mengenakan peci dan sarung.

“Kontras figur itu penting agar penonton langsung memahami konflik cerita,” katanya.
Untuk menghemat biaya, ia bahkan menyarankan agar wayang dibuat dari karton dengan ilustrasi yang kuat.
Menghadapi Tema Sensitif
Sementara itu Kelompok 1 berencana mengadaptasi cerpen klasik karya A. A. Navis berjudul Robohnya Surau Kami. Mereka mengaku sedikit khawatir karena tema cerpen tersebut dianggap sensitif dari sisi keagamaan.
Sigit mengakui bahwa karya Navis memang kritis dan tidak selalu mudah dipahami masyarakat umum.
Namun ia melihat sisi positifnya. Tema yang kuat bisa menjadi pintu masuk untuk diskusi sastra yang lebih luas.
Meski demikian, ia menyarankan mahasiswa untuk memulai dari tema yang lebih aman sebelum mencoba karya yang kontroversial.
“Kalau langsung berat, nanti belum apa-apa sudah tidak bisa tampil lagi,” katanya.
Wayang di Dunia Tanpa Batas
Menutup diskusi, Sigit mengingatkan mahasiswa bahwa dunia seni kini berada dalam era digital yang tanpa batas.
Apa pun yang dipentaskan di ruang kelas kecil dapat dilihat oleh penonton di berbagai belahan dunia melalui internet.
Karena itu ia mendorong mahasiswa untuk berani bereksperimen.
“Kalau sudah berhasil mengadaptasi karya bahasa Indonesia, coba juga dari bahasa asing,” ujarnya.
Ia mencontohkan novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan berpotensi dipentaskan di panggung internasional.
“Yang penting mencoba. Jangan menunggu,” katanya.
Pementasan Wayang Kafka di kampus itu akhirnya bukan sekadar pertunjukan sastra. Ia menjadi bukti bahwa tradisi, sastra dunia, dan kreativitas generasi muda dapat bertemu dalam satu ruang yang sama, menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru bagi masa depan seni pertunjukan. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































