CERAKEN.ID — Pementasan wayang kulit lakon Metamorfosis karya Franz Kafka tanpa kelir oleh Sigit Susanto pada Jumat sore, 13 Maret 2026, di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram bukan sekadar pertunjukan seni.
Kegiatan yang dimulai pukul 14.30 WITA itu merupakan bagian dari program Kelas Kolaborasi Bersama Praktisi yang digagas Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unram.
Kelas kolaborasi ini diikuti oleh sekitar 60 mahasiswa dari dua kelas gabungan. Mereka tengah mempersiapkan proyek akhir Mata Kuliah Praktik Sastra Pertunjukan yang akan dipentaskan pada Juni mendatang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena itulah, pementasan wayang Kafka menjadi semacam laboratorium kreatif, tempat mahasiswa melihat langsung bagaimana sebuah karya sastra diadaptasi ke panggung pertunjukan.
Tidak mengherankan jika sesi diskusi setelah pementasan dipenuhi pertanyaan. Setiap kelompok mahasiswa mencoba menguji ide-ide proyek mereka, sekaligus meminta pandangan dari dalang yang telah membawa wayang hingga panggung Eropa tersebut.
Lala Buntar dan Legenda yang Dihidupkan Kembali
Kelompok 2 menjadi penanya pertama. Mereka berencana mengangkat prosa rakyat dari Sumbawa berjudul Lala Buntar, yang memiliki kemiripan dengan legenda Putri Mandalika.
Jika Putri Mandalika memilih terjun ke laut untuk menghindari konflik para pangeran yang memperebutkannya, Lala Buntar diceritakan bersembunyi di dalam bukit bersama para dayangnya. Dalam rencana pementasan, kelompok ini ingin memadukan berbagai unsur seni: teater, musik, tari, dan wayang dalam satu pertunjukan.
Mereka juga mempertimbangkan kemungkinan menyelipkan gagasan atau pesan dari pemerintah dalam cerita tersebut.
“Pertanyaannya, bagaimana proses mengubah karya sastra yang alurnya tidak terlalu panjang agar tetap dekat dengan cerita aslinya, tetapi bisa menjadi pertunjukan wayang?” tanya mereka.
Menanggapi hal itu, Sigit Susanto mengingat pengalamannya ketika berkesenian di Eropa.
Di Swiss, katanya, mencari penari relatif mudah. Namun mencari dalang yang mampu memainkan wayang dengan bahasa Jerman hampir tidak mungkin. Justru karena itulah wayang menjadi sesuatu yang unik di mata penonton Eropa.
“Ironinya, di Indonesia sendiri wayang dan profesi dalang mulai dijauhi anak muda,” ujarnya.
Karena itu ia menyambut positif gagasan Kelompok 2 yang ingin memadukan legenda lokal dengan bentuk pertunjukan wayang berdurasi pendek.

Menurutnya, hal itu lebih merupakan persoalan teknis daripada konseptual. Ia memberi contoh bagaimana novela Die Verwandlung (Metamorfosis) karya Kafka yang tebalnya sekitar 80 halaman berhasil ia ringkas menjadi naskah pertunjukan sepanjang delapan halaman.
“Jadi kalau prosa Lala Buntar diolah menjadi wayang pendek, pasti bisa,” katanya.
Wayang untuk Cerita Tanah Suci
Kelompok 3 mengangkat karya berbeda. Mereka berencana mementaskan cerpen “Iblis Tanah Suci” karya Arianto Adipurwanto dengan latar Lombok Utara.
Cerita itu berkisah tentang konflik tanah suci yang ingin dikuasai oleh investor asing untuk pembangunan kawasan wisata. Dalam pementasan mereka, beberapa tokoh akan tampil, termasuk sosok pria berjambang yang menjadi penyewa atau tokoh antagonis.
Pertanyaan mereka sederhana namun penting: bagaimana memvisualisasikan tokoh-tokoh tersebut dalam bentuk wayang?
Sigit menilai tema yang diangkat kelompok ini sangat menarik karena berkaitan dengan persoalan ekologis dan konflik kepentingan antara masyarakat lokal dan investor asing.
“Walaupun hanya cerpen, temanya sangat kuat,” katanya.
Langkah pertama, menurutnya, adalah membayangkan bentuk visual tokoh-tokohnya. Dalam pengalamannya mengadaptasi cerita Kafka yang berlatar Praha, Republik Ceko, ia harus menyesuaikan desain tokoh dengan konteks Eropa.
Ia bahkan mencari referensi wajah orang Eropa era 1920-an melalui internet untuk membuat karakter yang sesuai dengan latar cerita.
Bagi mahasiswa yang mengangkat cerita Lombok Utara, pendekatannya bisa serupa. Tokoh turis asing bisa dibuat dengan figur “bule”, sementara tokoh lokal dapat ditampilkan dengan peci dan sarung.
“Yang penting ada kontras figur,” ujarnya. “Penonton langsung bisa mengenali siapa yang lokal dan siapa yang datang dari luar.”
Ia juga menyarankan agar mahasiswa tidak terlalu khawatir dengan biaya produksi. Wayang bisa dibuat dari karton dengan gambar yang dilukis secara baik sehingga wajahnya jelas terlihat dari depan maupun belakang.
Ketika Sastra Menjadi Sensitif
Kelompok 1 memilih karya klasik sastra Indonesia: cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A. A. Navis. Namun mereka mengaku sedikit khawatir karena cerita tersebut mengandung kritik sosial dan keagamaan yang cukup tajam.

“Apakah ini sensitif jika dipentaskan?” tanya mereka.
Sigit menjawab dengan melihat dua sisi karya Navis. Menurutnya, penulis asal Sumatra Barat itu memang sangat kritis dan kadang sulit dipahami oleh pembaca umum.
Di satu sisi, tema yang sensitif bisa menimbulkan persoalan jika dipentaskan di lingkungan yang belum memiliki pemahaman literasi yang memadai. Namun di sisi lain, karya-karya Navis memiliki kekuatan besar dalam wacana sastra Indonesia.
“Tahun lalu kalau tidak salah peringatan seratus tahun kelahiran A. A. Navis,” ujarnya.
Momentum seperti itu justru bisa menjadi peluang untuk menghadirkan pertunjukan sastra dalam berbagai forum diskusi atau festival.
Meski demikian, ia menyarankan mahasiswa untuk berhati-hati dalam memilih karya pertama mereka.
“Cari yang aman dulu,” katanya. “Kalau sudah yakin dan punya pengalaman, baru naik ke tema yang lebih berat.”
Ia mengingatkan bahwa memulai dengan karya yang terlalu kontroversial justru berisiko membuat kelompok tersebut enggan tampil lagi di kesempatan berikutnya.
Kelas yang Menjadi Panggung
Diskusi panjang sore itu menunjukkan bahwa pementasan wayang Kafka bukan hanya sebuah pertunjukan tunggal. Ia telah berubah menjadi ruang belajar yang hidup bagi para mahasiswa.
Dari legenda Lala Buntar di Sumbawa, konflik tanah suci di Lombok Utara, hingga kritik sosial dalam karya A. A. Navis, setiap kelompok membawa gagasan yang berbeda tentang bagaimana sastra bisa hadir di panggung.
Bagi Sigit Susanto, semua gagasan itu memiliki satu kesamaan: keberanian untuk mengubah teks menjadi pertunjukan.
Di ruang kelas yang berubah menjadi panggung kreatif itu, para mahasiswa sedang memulai proses metamorfosis mereka sendiri, dari pembaca sastra menjadi pencipta pertunjukan.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































