Jejak Ketidaksadaran dalam Wajah Budaya Lokal

Kamis, 2 April 2026 - 23:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: mantra ardhana/ceraken.id

Foto: mantra ardhana/ceraken.id

CERAKEN.ID — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat kerap merasa sedang bergerak maju secara rasional; mengikuti logika pasar, teknologi, dan efisiensi. Namun, di balik itu semua, ada lapisan yang jarang disadari: dorongan-dorongan tak kasat mata yang justru ikut menentukan arah gerak sosial.

Inilah yang oleh Mantra Ardhana dipahami sebagai ruang unconscious—ketidaksadaran yang hidup, bukan sekadar dalam diri individu, tetapi dalam tubuh kebudayaan itu sendiri.

Konsep ini menemukan artikulasinya yang paling konkret dalam praktik seni. Pada 3–4 April 2026, Mantra Ardhana bersama sejumlah kolaborator menghadirkan pertunjukan seni media baru bertajuk “Organic Mind Unconscious Theory” di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi NTB.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertunjukan ini merupakan eksplorasi artistik atas gagasan ketidaksadaran sebagai medan energi kultural dan spiritual yang terus bekerja di balik realitas sehari-hari.

Di atas panggung, konsep tersebut tidak lagi berhenti sebagai wacana, melainkan diterjemahkan ke dalam bahasa visual, suara, dan gerak; menghadirkan pengalaman imersif tentang bagaimana “pikiran organik” manusia berinteraksi dengan memori kolektif yang tak selalu disadari.

Berbeda dengan gagasan unconscious dalam psikoanalisis Sigmund Freud yang menekankan represi dan konflik batin individu, pendekatan ini justru menempatkan ketidaksadaran sebagai ruang yang lebih luas: tempat nilai, mitos, dan spiritualitas bersemayam.

Baca Juga :  Merayakan Proses, Menyemai Masa Depan: Seni sebagai Jalan Menuju Generasi Emas

Ia bukan sesuatu yang harus “disembuhkan”, melainkan dipahami sebagai fondasi yang menjaga kesinambungan identitas.

Dalam kehidupan masyarakat, hal ini tampak nyata. Ritual adat, simbol-simbol dalam seni, hingga pola relasi sosial sering kali dijalankan tanpa pertanyaan rasional yang panjang.

Ia hadir sebagai “kebiasaan yang terasa benar”. Dalam perspektif Mantra Ardhana, itulah bentuk kerja ketidaksadaran kolektif, memori budaya yang diwariskan lintas generasi dan terus mengendap dalam praktik sehari-hari.

Pertunjukan “Organic Mind Unconscious Theory” menjadi semacam cermin artistik atas fenomena tersebut. Ia menunjukkan bahwa seni bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi juga medium untuk “membaca” lapisan terdalam manusia, lapisan yang sering luput dari kesadaran rasional.

Dalam konteks ini, seni media baru berfungsi sebagai jembatan antara tradisi dan teknologi, antara masa lalu yang mengendap dan masa depan yang terus bergerak.

Di titik ini, pemikiran Mantra Ardhana beririsan dengan konsep collective unconscious dari Carl Jung, yang menyebut adanya lapisan ketidaksadaran bersama berisi arketipe dan simbol universal.

Baca Juga :  Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar

Namun, yang membedakan adalah pijakan lokalnya. Jika Jung berbicara dalam kerangka universal, Mantra Ardhana menegaskan bahwa setiap kebudayaan memiliki “arsip ketidaksadaran” sendiri; yang lahir dari sejarah, lanskap alam, dan pengalaman kolektif masyarakatnya.

Dalam konteks pembangunan dan perubahan sosial, pemahaman ini menjadi penting. Banyak program modernisasi gagal bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan karena mengabaikan dimensi ketidaksadaran budaya.

Ketika kebijakan tidak selaras dengan nilai yang hidup secara laten dalam masyarakat, resistensi muncul; kadang halus, kadang terbuka. Sebaliknya, ketika perubahan mampu membaca dan merangkul lapisan ini, ia lebih mudah diterima sebagai bagian dari kelanjutan, bukan ancaman.

Catatan ini pada akhirnya mengajak kita melihat bahwa masyarakat tidak hanya digerakkan oleh apa yang tampak di permukaan; data, kebijakan, atau keputusan rasional. Ada lapisan yang lebih dalam, tempat budaya bekerja tanpa suara, namun berpengaruh besar.

Melalui panggung seni seperti “Organic Mind Unconscious Theory”, ketidaksadaran itu seolah diberi tubuh; ditampilkan, dirasakan, dan diajak berdialog.

Ketidaksadaran, dalam pemaknaan Mantra Ardhana, bukanlah ruang gelap yang harus diterangi sepenuhnya, melainkan ruang hidup yang perlu dipahami, agar modernitas tidak tercerabut dari akarnya sendiri. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna
Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar
“Suara Karya”: Ruang Belajar, Ruang Bicara Generasi Muda
Merayakan Proses, Menyemai Masa Depan: Seni sebagai Jalan Menuju Generasi Emas
Dari Pinggiran ke Panggung Budaya: “Suara Karya” Menegaskan Daya Hidup Kreativitas Pelajar
Serpihan Surga dalam Arsip: Menyusun Mandalika dari Legenda hingga Lintasan Dunia
Resep Keadilan dari Ruang Baca: Ketika Seni, Riset, dan Suara Akar Rumput Bertemu di NTB
“Last Song” dan Suara Sunyi dari Alam yang Terluka

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 20:28 WITA

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Jumat, 17 April 2026 - 20:27 WITA

Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar

Jumat, 17 April 2026 - 17:36 WITA

“Suara Karya”: Ruang Belajar, Ruang Bicara Generasi Muda

Jumat, 17 April 2026 - 13:46 WITA

Merayakan Proses, Menyemai Masa Depan: Seni sebagai Jalan Menuju Generasi Emas

Jumat, 17 April 2026 - 12:06 WITA

Dari Pinggiran ke Panggung Budaya: “Suara Karya” Menegaskan Daya Hidup Kreativitas Pelajar

Berita Terbaru

Langkah ini bukan sekadar respons jangka pendek terhadap keterbatasan anggaran. Ia mencerminkan upaya untuk membangun fondasi keuangan yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Melampaui Batas Fiskal: Mataram dan Jalan Baru Pembiayaan Daerah

Kamis, 23 Apr 2026 - 13:10 WITA

SOSIAL EKONOMI

ITDC Dukung Media Gathering JMSI NTB di Kawasan Mandalika

Rabu, 22 Apr 2026 - 10:43 WITA