CERAKEN.ID — Di tengah rak-rak buku yang biasanya sunyi dan tertib, Gedung Layanan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kini menghadirkan denyut yang berbeda. Bukan sekadar tempat membaca, ruang ini menjelma menjadi arena refleksi sosial, tempat seni, riset, dan pengalaman hidup bertaut dalam satu narasi besar: keadilan bencana.
Melalui kolaborasi lintas batas bersama University of Leeds dan Pascasarjana Universitas Mataram, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB menghadirkan Pameran Seni Resep Keadilan Bencana; sebuah ikhtiar kolektif yang tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga menggugah kesadaran publik tentang wajah kebencanaan yang kerap luput dari perhatian.
Pameran ini resmi dibuka untuk umum dan akan berlangsung hingga 18 April 2026. Namun lebih dari sekadar agenda temporer, ia adalah simpul dari perjalanan panjang diskusi, penelitian, dan perjumpaan lintas komunitas yang telah berlangsung sejak awal tahun di berbagai wilayah Pulau Lombok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengurangan Risiko Bencana
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Ashari, menegaskan bahwa pameran ini merupakan salah satu luaran utama dari rangkaian kegiatan bertajuk Festival Resep Keadilan Bencana. Festival tersebut dirancang sebagai ruang temu antara pemerintah, sektor swasta, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil dalam merumuskan pendekatan pengurangan risiko bencana yang inklusif.
Festival pembukaannya sendiri telah digelar di Gedung Rektorat Universitas Mataram pada 6 April 2026, dihadiri lebih dari 120 peserta dari beragam latar belakang. Mulai dari organisasi disabilitas seperti HWDI, GERKATIN, dan PPDI, hingga komunitas seperti Pesisir Juang dan perwakilan pemerintah provinsi, semua duduk dalam satu ruang diskusi yang setara.
Di sana, kebijakan tidak lagi berdiri di menara gading, melainkan diuji langsung oleh pengalaman hidup mereka yang selama ini paling terdampak.
Namun kekuatan utama pameran ini justru terletak pada bagaimana seni menjadi medium untuk menyampaikan kompleksitas realitas sosial. Karya-karya yang dipajang bukan sekadar ekspresi estetika, melainkan hasil dari riset mendalam yang dilakukan tim University of Leeds sejak Mei 2025, yang mengupas isu keadilan bencana di Pulau Lombok.
Salah satu narasi paling kuat yang mengemuka adalah tentang kemiskinan sebagai bencana. Dalam perspektif masyarakat lokal, kemiskinan bukan hanya kondisi ekonomi, melainkan krisis yang terus-menerus memperlemah daya tahan terhadap guncangan, baik itu gempa bumi 2018 maupun pandemi COVID-19.
Ketika sumber daya terbatas, proses pemulihan menjadi jauh lebih panjang dan berat.
Pameran ini juga menyoroti beban berlapis yang dihadapi kelompok rentan, terutama perempuan dan penyandang disabilitas. Diskriminasi, ketimpangan gender, serta terbatasnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak menjadikan mereka berada pada posisi paling rawan dalam setiap situasi krisis.
Dalam konteks ini, bencana tidak pernah benar-benar netral, ia memperbesar ketimpangan yang sudah ada.
Merumuskan Jalan Keadilan
Namun di balik narasi kerentanan, pameran ini juga menghadirkan kisah-kisah ketangguhan yang tumbuh dari akar rumput.
Inisiatif seperti desa tangguh bencana, sekolah informal, hingga usaha-usaha inklusif menjadi bukti bahwa kelompok yang sering dianggap “rentan” justru memiliki kapasitas besar sebagai agen perubahan. Mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga merumuskan jalan menuju keadilan yang lebih luas.
Isu-isu yang diangkat dalam pameran ini sebelumnya telah memantik diskusi hangat dalam forum festival. Mulai dari minimnya lapangan kerja inklusif bagi penyandang disabilitas, pencegahan pernikahan anak yang berkelindan dengan kemiskinan struktural, hingga praktik penyusunan kebijakan yang kerap tidak melibatkan kelompok terdampak secara langsung.
Di titik inilah pameran ini menemukan relevansinya: sebagai jembatan antara pengetahuan dan kebijakan, antara pengalaman lived experience dan keputusan struktural. Seni, dalam konteks ini, bukan pelengkap, melainkan bahasa yang mampu menjangkau empati publik sekaligus mendorong refleksi kritis.
Ashari mengajak seluruh lapisan masyarakat; pelajar, mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum, untuk datang dan menyaksikan langsung pameran ini. Ia berharap setiap pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari gerakan kesadaran kolektif dalam mendukung pengurangan risiko bencana yang lebih adil dan inklusif.
Ajakan itu bukan tanpa alasan. Di tengah tantangan perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan kompleksitas kebijakan publik, pendekatan teknokratis semata tidak lagi cukup.
Diperlukan ruang-ruang seperti ini; yang mempertemukan data dengan cerita, riset dengan rasa, dan kebijakan dengan kemanusiaan.
Pada akhirnya, “Resep Keadilan Bencana” bukanlah formula instan. Ia adalah proses panjang yang menuntut keterlibatan semua pihak.
Dan di Gedung Layanan Perpustakaan Provinsi NTB, proses itu kini sedang dimasak; perlahan, penuh kesadaran, dan dengan harapan bahwa suatu hari nanti, keadilan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan oleh semua. (*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: ntbprov.go.id


























































