Serpihan Surga dalam Arsip: Menyusun Mandalika dari Legenda hingga Lintasan Dunia

Sabtu, 11 April 2026 - 11:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ni Ketut Wesanita Sari Dewi. Menyusun prolog yang berangkat dari rasa dan kedekatan dengan cerita lokal (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

Ni Ketut Wesanita Sari Dewi. Menyusun prolog yang berangkat dari rasa dan kedekatan dengan cerita lokal (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di sebuah ruang kerja yang dipenuhi dokumen, foto, dan catatan sejarah, masa lalu dan masa depan Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang dirangkai dalam satu narasi utuh. Pemerintah Provinsi NTB kini tengah mematangkan materi arsip untuk ditampilkan dalam Pameran Virtual yang digagas Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), yang akan dapat diakses publik mulai 18 Mei 2026.

Pameran bertema “Arsip Kita Cerita Kita” ini bukan sekadar etalase data, melainkan upaya menghadirkan kembali ingatan kolektif dalam format yang lebih hidup dan interaktif. NTB, melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, memilih Mandalika sebagai pusat narasi; sebuah kawasan yang memuat lapisan sejarah, budaya, hingga transformasi modern dalam satu bentang waktu.

Arsiparis NTB, Ni Ketut Wesanita Sari Dewi, menjadi salah satu sosok di balik perancangan diorama kearsipan tersebut. Dengan pendekatan yang tidak hanya teknis, tetapi juga personal, ia menyusun prolog yang berangkat dari rasa dan kedekatan dengan cerita lokal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baginya, arsip bukan sekadar kumpulan dokumen, melainkan medium untuk menghidupkan kembali makna.

Tokoh Perempuan dalam Tradisi

“Serpihan Surga di Ujung Selatan Lombok” dipilih sebagai tajuk. Sebuah frasa yang merangkum perjalanan panjang kawasan Mandalika, dari legenda hingga menjadi panggung dunia.

Narasi dimulai dari kisah Putri Mandalika, tokoh perempuan dalam tradisi lisan masyarakat Lombok yang menjadi simbol pengorbanan dan persatuan. Dari legenda itu, pengunjung akan diajak menyusuri keindahan alam selatan Pulau Lombok, termasuk Pantai Seger, serta tradisi tahunan Bau Nyale yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Baca Juga :  Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar

Namun diorama ini tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Ia bergerak maju, menampilkan evolusi Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang kini dikenal dunia.

Dokumentasi visual dan data pendukung akan memperlihatkan bagaimana kawasan ini dibangun, mulai dari infrastruktur, fasilitas wisata, hingga pemberdayaan masyarakat lokal yang menjadi bagian penting dalam proses transformasi tersebut.

Salah satu titik kulminasi dari narasi ini adalah kehadiran Sirkuit Mandalika, yang menjadikan NTB sebagai tuan rumah ajang balap internasional MotoGP Mandalika. Dari sebuah kawasan pesisir yang sarat legenda, Mandalika kini menjelma menjadi simbol kebanggaan NTB di panggung global, sebuah lompatan yang tidak hanya mencerminkan pembangunan fisik, tetapi juga perubahan identitas daerah.

Dalam diorama ini, setiap arsip—baik foto, video, maupun data—disusun dalam kerangka tematik yang saling terhubung. Pengunjung virtual nantinya dapat menjelajahi ruang pamer hanya dengan satu klik, berpindah dari kisah legenda ke realitas modern dalam alur yang utuh dan naratif.

Teknologi menjadi jembatan yang memungkinkan arsip berbicara lebih luas, melampaui batas ruang dan waktu.

Arsip sebagai Narasi Hidup

Menariknya, diorama NTB tidak hanya berfokus pada Mandalika. Sejumlah arsip penting lain juga akan ditampilkan, termasuk rekaman sejarah letusan gunung berapi seperti Gunung Samalas, Gunung Rinjani, dan Gunung Tambora.

Baca Juga :  “Last Song” dan Suara Sunyi dari Alam yang Terluka

Ketiganya merupakan bagian penting dari sejarah geologis yang membentuk lanskap dan kehidupan masyarakat NTB hingga hari ini.

Melalui pendekatan ini, arsip tidak lagi diposisikan sebagai benda statis yang tersimpan rapi di ruang penyimpanan, melainkan sebagai narasi hidup yang terus relevan. Ia menjadi alat untuk memahami perjalanan daerah, sekaligus medium untuk memperkenalkan identitas NTB kepada dunia.

Pameran virtual ini, yang akan berlangsung hingga akhir tahun 2026 dan diikuti oleh seluruh provinsi di Indonesia, menjadi momentum penting dalam memperluas akses publik terhadap arsip. Lebih dari itu, ia membuka kemungkinan baru dalam cara kita membaca sejarah; tidak hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai fondasi untuk membangun masa depan.

Seperti yang ditegaskan oleh Nita, diorama ini adalah bukti bahwa masa lalu dan masa depan dapat berjalan beriringan dalam satu bingkai arsip. Di tangan para arsiparis, serpihan-serpihan cerita itu disusun kembali, bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipahami, dirawat, dan diwariskan.

Dan dari Mandalika, dunia diajak melihat bahwa di balik gemerlap lintasan balap dan geliat pariwisata, tersimpan kisah panjang tentang identitas, budaya, dan perjuangan sebuah daerah dalam meneguhkan dirinya di peta global. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: ntbprov.go.id

Berita Terkait

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna
Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar
“Suara Karya”: Ruang Belajar, Ruang Bicara Generasi Muda
Merayakan Proses, Menyemai Masa Depan: Seni sebagai Jalan Menuju Generasi Emas
Dari Pinggiran ke Panggung Budaya: “Suara Karya” Menegaskan Daya Hidup Kreativitas Pelajar
Resep Keadilan dari Ruang Baca: Ketika Seni, Riset, dan Suara Akar Rumput Bertemu di NTB
Jejak Ketidaksadaran dalam Wajah Budaya Lokal
“Last Song” dan Suara Sunyi dari Alam yang Terluka

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 20:28 WITA

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Jumat, 17 April 2026 - 20:27 WITA

Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar

Jumat, 17 April 2026 - 17:36 WITA

“Suara Karya”: Ruang Belajar, Ruang Bicara Generasi Muda

Jumat, 17 April 2026 - 13:46 WITA

Merayakan Proses, Menyemai Masa Depan: Seni sebagai Jalan Menuju Generasi Emas

Jumat, 17 April 2026 - 12:06 WITA

Dari Pinggiran ke Panggung Budaya: “Suara Karya” Menegaskan Daya Hidup Kreativitas Pelajar

Berita Terbaru

Langkah ini bukan sekadar respons jangka pendek terhadap keterbatasan anggaran. Ia mencerminkan upaya untuk membangun fondasi keuangan yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Melampaui Batas Fiskal: Mataram dan Jalan Baru Pembiayaan Daerah

Kamis, 23 Apr 2026 - 13:10 WITA

SOSIAL EKONOMI

ITDC Dukung Media Gathering JMSI NTB di Kawasan Mandalika

Rabu, 22 Apr 2026 - 10:43 WITA