Kafka sebagai Hologram: Membaca Triyanto di Lorong Interferensi Teks

- Penulis

Senin, 2 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sejak awal, “kebenaran” tentang Kafka sudah mengalami interferensi; ditafsirkan, disunting, diperdebatkan (Foto: Sigit Susanto)

Sejak awal, “kebenaran” tentang Kafka sudah mengalami interferensi; ditafsirkan, disunting, diperdebatkan (Foto: Sigit Susanto)

CERAKEN.ID — Sesi kedua “Bincang Buku” Komunitas Teman Baca, Sabtu (28/2), menjadi ruang tafsir yang intens ketika Kiki Sulistyo membedah kumpulan puisi “Dalam Hologram Kafka” (KPG, 2025) karya Triyanto Triwikromo.

Sejak awal, Kiki tidak hanya membicarakan buku, tetapi juga menempatkan Triyanto dalam lanskap sejarah sastra Indonesia. Ia menyebut Triyanto sebagai pengarang yang mulai muncul pada akhir 1980-an dan menguat pada 1990-an, termasuk salah satu tokoh yang memelopori gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (1990).

Ciri kepengarangannya dikenal puitik, metaforik, bahkan hiperbolik. Salah satu karya puisinya yang disebut Kiki adalah Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015).

Namun dalam buku terbaru ini, Kafka hadir bukan sebagai biografi, melainkan metafor; pantulan, bukan potret.

Hologram sebagai Metafora Teks

Untuk menjelaskan konsep “hologram”, Kiki menggunakan analogi ilmiah. Ia menggambarkan sinar laser yang dipecah dua: satu ditembakkan langsung ke pelat perekam, satu lagi dipantulkan lebih dulu ke objek sebelum kembali ke pelat tersebut.

Pertemuan dua sinar itu menimbulkan interferensi gelombang. Ketika sinar lain ditembakkan, difraksi terjadi, dan muncullah citra objek asli. Itulah hologram.

“Dalam pengandaian seperti itu, sinar laser adalah teks,” ujar Kiki.

Ia kemudian memecah teks dalam buku ini menjadi dua sumber. Pertama, teks yang berasal dari Triyanto sendiri; puitika, estetika, obsesi, dan ideologi penyair. Kedua, teks yang memantul dari biografi, bibliografi, dan aneka tafsir atas Franz Kafka.

Pertemuan keduanya membentuk interferensi. Dan ketika pembaca memancarkan pengalaman tafsirnya sendiri ke arah tumpukan teks itu, terciptalah “hologram Kafka”; citra yang seolah-olah asli, tetapi sesungguhnya hasil tabrakan berbagai gelombang makna.

Baca Juga :  Menghormati Jejak Kreatif Sang Pengarang: Apresiasi atas Kehadiran Novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu?*)

Dengan demikian, dalam puisi-puisi Triyanto, teks Kafka tak bisa dipisahkan sepenuhnya dari teks Triyanto. Di dalam satu, tampak yang lain. Di dalam bayangan, ada tubuh yang memantulkan.

Tonal Gelap dan Repetisi

Kiki mengamati bahwa puisi-puisi dalam buku ini sarat dengan diksi wilayah negatif manusia: kematian, kekerasan, keterasingan, absurditas.

Tonalnya gelap, brutal, penuh ketakutan. Bahkan anasir grotesk ikut membangun atmosfer.

Tema-tema itu tentu identik dengan Kafka. Namun, yang menarik, Triyanto memoles intensitas tersebut dengan repetisi.

Hampir semua puisi mengandung pengulangan; baik pada kata, frasa, maupun suasana batin.

“Tonal gelap yang dipoles terus dengan repetisi itu pada gilirannya membentuk dinding tebal,” jelas Kiki. “Namun, dinding itu kemudian dilontari siasat lain, yakni penyangkalan (negasi), sehingga retak dan memunculkan dimensi lain.”

“Dengan demikian, Kafka telah hadir sebagai hologram. Sampai sekarang, entah sudah berapa banyak variasinya,” ujar Kiki Sulistyo (kedua dari kanan) (Foto: aks/ceraken.id)

Repetisi menghadirkan penegasan, sementara negasi membongkar penegasan itu. Keduanya saling berpunggungan, saling membangun sekaligus meruntuhkan.

Hasilnya adalah gambaran yang menolak terwujud sepenuhnya; sebuah citra yang selalu bergerak, tak pernah final.

Jarak Etis dan Kedekatan yang Dinamis

Dalam pembacaan Kiki, Triyanto juga bermain dengan “jarak etis”, yakni jarak antara teks puisi dan teks sumbernya.

Ada puisi yang sangat dekat dengan karya Kafka, seperti “Variasi untuk Di Depan Hukum”, yang merujuk pada kisah dalam Before the Law. Ada pula puisi seperti “99” yang tampak jauh dari referensi langsung, tetapi tetap berada dalam orbit semesta makna Kafka.

Baca Juga :  Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Jarak itu dinamis. Tidak seluruh puisi berusaha menjadi cermin langsung. Beberapa memilih menjadi bayangan samar. Namun, keduanya tetap berinterferensi.

Kafka yang Telah Menjadi Bayangan

Pada bagian akhir, Kiki mengingatkan bahwa Kafka telah wafat seabad lalu. Bahkan, karya-karyanya baru dikenal luas setelah kematiannya.

Sejak awal, “kebenaran” tentang Kafka sudah mengalami interferensi; ditafsirkan, disunting, diperdebatkan.

“Dengan demikian, Kafka telah hadir sebagai hologram. Sampai sekarang, entah sudah berapa banyak variasinya,” ujar Kiki.

Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa tidak ada Kafka yang tunggal. Yang ada adalah rangkaian citra yang lahir dari pembacaan demi pembacaan.

Menjawab pertanyaan Muzhar dari Lombok Utara, yang menyinggung tentang lorong-lorong baru yang ditambahkan Triyanto sehingga pembaca harus bergerak mencari sumber pesan, meski mungkin sumber itu tak pernah ada, Kiki menjawab secara retoris:

“Apakah kita sebenarnya sudah sampai ke sumber pesan yang dimaksud?”

Pertanyaan itu menggantung, sekaligus menjadi simpul diskusi.

Barangkali, seperti hologram itu sendiri, makna bukanlah objek yang bisa disentuh. Ia adalah pantulan yang terus berubah tergantung dari sudut mana kita memandang.

Dalam ruang interferensi antara Kafka dan Triyanto, pembaca bukan sekadar penonton, ia adalah sinar ketiga yang membuat citra itu hidup. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas
Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak
Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri
Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu
Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan
Ketika Cahaya Itu Adalah Sosok “Nuriadi”: Novel “Datoq Nyatoq dalam Perspektif Strukturalisme Genetik
Membaca Keris NTB dari Vitrin Museum hingga Jejak Pengetahuan
Novel sebagai Jalan Literasi: Ketika Datoq Nyatoq Menjadi Jembatan Membaca Dunia

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:04 WITA

Dari Nine ke Ine: Membaca Perempuan Sasak di Antara Teks, Tradisi, dan Realitas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:55 WITA

Dari Kodrat ke Peran: Perdebatan Nine, Inaq, Ine dan Jejak Perempuan Sasak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 09:33 WITA

Nine, Inaq, Ine: Perempuan Sasak (yang) Berbicara dengan Bahasanya Sendiri

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:30 WITA

Nine, Inaq, Ine dan Cara Membaca Perempuan Sasak dari Banyak Pintu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 21:58 WITA

Nine, Inaq, Ine: Membaca Kembali Perempuan Sasak dari Rahim Kebudayaan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA