Kafka sebagai Hologram: Membaca Triyanto di Lorong Interferensi Teks

Senin, 2 Maret 2026 - 14:42 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak awal, “kebenaran” tentang Kafka sudah mengalami interferensi; ditafsirkan, disunting, diperdebatkan (Foto: Sigit Susanto)

Sejak awal, “kebenaran” tentang Kafka sudah mengalami interferensi; ditafsirkan, disunting, diperdebatkan (Foto: Sigit Susanto)

CERAKEN.ID — Sesi kedua “Bincang Buku” Komunitas Teman Baca, Sabtu (28/2), menjadi ruang tafsir yang intens ketika Kiki Sulistyo membedah kumpulan puisi “Dalam Hologram Kafka” (KPG, 2025) karya Triyanto Triwikromo.

Sejak awal, Kiki tidak hanya membicarakan buku, tetapi juga menempatkan Triyanto dalam lanskap sejarah sastra Indonesia. Ia menyebut Triyanto sebagai pengarang yang mulai muncul pada akhir 1980-an dan menguat pada 1990-an, termasuk salah satu tokoh yang memelopori gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (1990).

Ciri kepengarangannya dikenal puitik, metaforik, bahkan hiperbolik. Salah satu karya puisinya yang disebut Kiki adalah Kematian Kecil Kartosoewirjo (2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun dalam buku terbaru ini, Kafka hadir bukan sebagai biografi, melainkan metafor; pantulan, bukan potret.

Hologram sebagai Metafora Teks

Untuk menjelaskan konsep “hologram”, Kiki menggunakan analogi ilmiah. Ia menggambarkan sinar laser yang dipecah dua: satu ditembakkan langsung ke pelat perekam, satu lagi dipantulkan lebih dulu ke objek sebelum kembali ke pelat tersebut.

Pertemuan dua sinar itu menimbulkan interferensi gelombang. Ketika sinar lain ditembakkan, difraksi terjadi, dan muncullah citra objek asli. Itulah hologram.

“Dalam pengandaian seperti itu, sinar laser adalah teks,” ujar Kiki.

Ia kemudian memecah teks dalam buku ini menjadi dua sumber. Pertama, teks yang berasal dari Triyanto sendiri; puitika, estetika, obsesi, dan ideologi penyair. Kedua, teks yang memantul dari biografi, bibliografi, dan aneka tafsir atas Franz Kafka.

Baca Juga :  Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Pertemuan keduanya membentuk interferensi. Dan ketika pembaca memancarkan pengalaman tafsirnya sendiri ke arah tumpukan teks itu, terciptalah “hologram Kafka”; citra yang seolah-olah asli, tetapi sesungguhnya hasil tabrakan berbagai gelombang makna.

Dengan demikian, dalam puisi-puisi Triyanto, teks Kafka tak bisa dipisahkan sepenuhnya dari teks Triyanto. Di dalam satu, tampak yang lain. Di dalam bayangan, ada tubuh yang memantulkan.

Tonal Gelap dan Repetisi

Kiki mengamati bahwa puisi-puisi dalam buku ini sarat dengan diksi wilayah negatif manusia: kematian, kekerasan, keterasingan, absurditas.

Tonalnya gelap, brutal, penuh ketakutan. Bahkan anasir grotesk ikut membangun atmosfer.

Tema-tema itu tentu identik dengan Kafka. Namun, yang menarik, Triyanto memoles intensitas tersebut dengan repetisi.

Hampir semua puisi mengandung pengulangan; baik pada kata, frasa, maupun suasana batin.

“Tonal gelap yang dipoles terus dengan repetisi itu pada gilirannya membentuk dinding tebal,” jelas Kiki. “Namun, dinding itu kemudian dilontari siasat lain, yakni penyangkalan (negasi), sehingga retak dan memunculkan dimensi lain.”

“Dengan demikian, Kafka telah hadir sebagai hologram. Sampai sekarang, entah sudah berapa banyak variasinya,” ujar Kiki Sulistyo (kedua dari kanan) (Foto: aks/ceraken.id)

Repetisi menghadirkan penegasan, sementara negasi membongkar penegasan itu. Keduanya saling berpunggungan, saling membangun sekaligus meruntuhkan.

Hasilnya adalah gambaran yang menolak terwujud sepenuhnya; sebuah citra yang selalu bergerak, tak pernah final.

Jarak Etis dan Kedekatan yang Dinamis

Dalam pembacaan Kiki, Triyanto juga bermain dengan “jarak etis”, yakni jarak antara teks puisi dan teks sumbernya.

Ada puisi yang sangat dekat dengan karya Kafka, seperti “Variasi untuk Di Depan Hukum”, yang merujuk pada kisah dalam Before the Law. Ada pula puisi seperti “99” yang tampak jauh dari referensi langsung, tetapi tetap berada dalam orbit semesta makna Kafka.

Baca Juga :  Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang

Jarak itu dinamis. Tidak seluruh puisi berusaha menjadi cermin langsung. Beberapa memilih menjadi bayangan samar. Namun, keduanya tetap berinterferensi.

Kafka yang Telah Menjadi Bayangan

Pada bagian akhir, Kiki mengingatkan bahwa Kafka telah wafat seabad lalu. Bahkan, karya-karyanya baru dikenal luas setelah kematiannya.

Sejak awal, “kebenaran” tentang Kafka sudah mengalami interferensi; ditafsirkan, disunting, diperdebatkan.

“Dengan demikian, Kafka telah hadir sebagai hologram. Sampai sekarang, entah sudah berapa banyak variasinya,” ujar Kiki.

Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa tidak ada Kafka yang tunggal. Yang ada adalah rangkaian citra yang lahir dari pembacaan demi pembacaan.

Menjawab pertanyaan Muzhar dari Lombok Utara, yang menyinggung tentang lorong-lorong baru yang ditambahkan Triyanto sehingga pembaca harus bergerak mencari sumber pesan, meski mungkin sumber itu tak pernah ada, Kiki menjawab secara retoris:

“Apakah kita sebenarnya sudah sampai ke sumber pesan yang dimaksud?”

Pertanyaan itu menggantung, sekaligus menjadi simpul diskusi.

Barangkali, seperti hologram itu sendiri, makna bukanlah objek yang bisa disentuh. Ia adalah pantulan yang terus berubah tergantung dari sudut mana kita memandang.

Dalam ruang interferensi antara Kafka dan Triyanto, pembaca bukan sekadar penonton, ia adalah sinar ketiga yang membuat citra itu hidup. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman
Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang
Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Wayang Sasak: Membaca Jejak Dakwah, Seni, dan Identitas Lombok dari Rak Perpustakaan Museum NTB
Hari Buku Nasional: Stasiun Kereta Api di Frankfurt Sediakan Teks Metamorfosis Kafka
Ajoeba Wartabone, Republik, dan Jalan Panjang dari Gorontalo ke Djokja
Adil Akbar dan Jejak Sejarah dalam Imajinasi Cerpen
Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:42 WITA

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Selasa, 2 Juni 2026 - 19:50 WITA

Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang

Senin, 1 Juni 2026 - 15:02 WITA

Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:13 WITA

Wayang Sasak: Membaca Jejak Dakwah, Seni, dan Identitas Lombok dari Rak Perpustakaan Museum NTB

Senin, 18 Mei 2026 - 07:21 WITA

Hari Buku Nasional: Stasiun Kereta Api di Frankfurt Sediakan Teks Metamorfosis Kafka

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA