Kebudayaan dan Desa Berdaya: Fondasi yang Tak Boleh Sekadar Ornamen

- Penulis

Selasa, 3 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ketika kebudayaan ditempatkan sebagai fondamen, maka Desa Berdaya menumbuhkan martabat dari akar budaya masyarakatnya sendiri (Foto: akun Lalu Surya Mulawarman/ceraken.id)

Ketika kebudayaan ditempatkan sebagai fondamen, maka Desa Berdaya menumbuhkan martabat dari akar budaya masyarakatnya sendiri (Foto: akun Lalu Surya Mulawarman/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Sebuah unggahan singkat di media sosial memantik diskusi yang lebih luas tentang arah pembangunan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menulis informasi ringkas: rapat pimpinan Dinas Kebudayaan bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya dan Museum membahas keterlibatan dalam program Desa Berdaya serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. “Semangaat,” tulisnya menutup keterangan.

Kalimat itu sederhana. Namun respons yang muncul menunjukkan bahwa kebudayaan bukan perkara teknis belaka. Ia menyentuh cara pandang tentang pembangunan itu sendiri.

Seorang pemerhati dan pelaku kebudayaan, Prima W Putra, menanggapi dengan nada reflektif sekaligus kritis. “Pemikiran yang salah jika menempatkan para pekerja budaya hanya sebagai ornamen pelengkap pembangunan,” tulisnya.

Baginya, kebudayaan adalah cermin peradaban yang melahirkan kemampuan merasa, berpikir, dan bertindak masyarakat; rasa, cipta, karsa.

Pernyataan ini menegaskan satu hal: pembangunan tanpa fondasi kebudayaan berisiko kehilangan arah.

Desa Berdaya: Lebih dari Agenda Teknis

Program Desa Berdaya NTB selama ini dipahami sebagai strategi pengentasan kemiskinan ekstrem. Namun, sebagaimana dicatat ceraken.id, dampak yang diharapkan bukan sekadar penurunan angka kemiskinan.

Program ini diarahkan pada tumbuhnya desa-desa mandiri dan produktif, kemandirian ekonomi rumah tangga berbasis potensi lokal, serta penguatan kerukunan dan gotong royong sosial.

Dengan pendekatan tersebut, Desa Berdaya ditegaskan bukan hanya program administratif, melainkan gerakan perubahan; dari ketergantungan menuju keberdayaan, dari bantuan menuju kemandirian, dari statistik menuju martabat manusia.

Di titik inilah kebudayaan menemukan relevansinya. Sebab keberdayaan tidak lahir semata-mata dari intervensi anggaran atau pelatihan teknis.

Ia bertumbuh dari cara masyarakat memaknai hidup bersama, menghargai tradisi, dan mengelola nilai-nilai lokal sebagai modal sosial.

Baca Juga :  Merawat Ingatan di Atas Kanvas: Kala Taman Budaya NTB Menghidupkan Kembali Dua Dekade Sejarah Seni Rupa
Sosio-Kultural sebagai Amanah

Prima W Putra mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2022 tentang pendirian Provinsi NTB menekankan asas pembangunan berbasis sosio-kultural. Artinya, kebudayaan bukan sektor pinggiran. Ia adalah arus utama.

Dalam konteks ini, keterlibatan Dinas Kebudayaan dan UPT Taman Budaya serta Museum dalam Desa Berdaya semestinya tidak berhenti pada partisipasi simbolik. Ia perlu menjelma dalam strategi yang konkret: penguatan identitas desa, revitalisasi seni tradisi, dokumentasi pengetahuan lokal, hingga pembinaan pelaku budaya sebagai agen perubahan sosial.

Jika desa hendak didorong menjadi mandiri dan produktif, maka potensi lokal; baik kerajinan, seni pertunjukan, tradisi lisan, maupun kearifan agraris, harus ditempatkan sebagai sumber daya ekonomi sekaligus penopang karakter.

Tanpa itu, Desa Berdaya berisiko menjadi sekadar program pemberdayaan yang menitikberatkan pada aspek ekonomi, tetapi rapuh dalam fondasi sosialnya.

Pekerja Budaya: Agen, Bukan Aksesoris

Kritik bahwa pekerja budaya kerap diposisikan sebagai “ornamen” pembangunan bukan tanpa dasar. Dalam banyak agenda seremonial, seni dan budaya hadir sebagai pembuka acara atau pemanis panggung. Setelah itu, pembahasan kembali pada angka, grafik, dan target capaian.

Padahal, dalam sejarah peradaban mana pun, kebudayaan selalu menjadi fondasi pembentukan masyarakat yang maju. Ia membentuk etos kerja, solidaritas, disiplin, dan visi kolektif.

Ketika Desa Berdaya berbicara tentang gotong royong, sesungguhnya ia sedang berbicara tentang nilai budaya. Ketika membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal, ia sesungguhnya memanfaatkan warisan tradisi.

Karena itu, peningkatan kapasitas SDM kebudayaan yang dibahas dalam rapat pimpinan tersebut menjadi krusial. SDM kebudayaan bukan hanya kurator atau seniman, melainkan fasilitator sosial, pendidik nilai, dan penjaga memori kolektif.

Baca Juga :  Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Dukungan anggaran yang memadai, sebagaimana disinggung Prima, bukan semata kebutuhan administratif. Ia adalah investasi jangka panjang untuk memastikan bahwa visi pembangunan tidak tercerabut dari akar budayanya.

Baldatun Toyyibatun: Cita-Cita yang Bernapas Budaya

Prima menyinggung frasa Baldatun Toyyibatun wa Rabbun Ghafur, sebuah gambaran tentang negeri yang baik dan mendapat ampunan Tuhan. Konsep ini bukan hanya religius, tetapi juga kultural. Ia mencerminkan harmoni antara kesejahteraan material dan keluhuran moral.

Jika Desa Berdaya hendak menuju ke sana, maka kebudayaan harus menjadi fondasi, bukan sekadar pelengkap.

Pembangunan ekonomi tanpa kebudayaan bisa menghasilkan pertumbuhan tanpa arah. Sebaliknya, kebudayaan tanpa dukungan kebijakan dan anggaran bisa menjadi romantisme tanpa daya.

Pertemuan antara keduanya, ekonomi dan kebudayaan, adalah jalan tengah yang menjanjikan.

Semangat yang Perlu Dijaga

Unggahan singkat “Semangaat” dari Kepala Taman Budaya mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan harapan bahwa institusi kebudayaan tidak tinggal diam dalam arus pembangunan.

Desa Berdaya membuka ruang kolaborasi lintas sektor. Di sanalah Dinas Kebudayaan, Taman Budaya, Museum, dan para pelaku seni dapat mengambil peran lebih strategis: menghidupkan ruang-ruang kreatif desa, mendampingi komunitas, dan menjadikan kebudayaan sebagai energi pemberdayaan.

Sebab pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang membangun jalan, pasar, atau infrastruktur. Ia adalah tentang membangun manusia dengan rasa, cipta, dan karsa.

Dan ketika kebudayaan ditempatkan sebagai fondamen, bukan ornamen, maka Desa Berdaya tidak sekadar menurunkan angka kemiskinan. Ia menumbuhkan martabat. Ia menegaskan bahwa perubahan sejati lahir dari akar yang kuat: akar budaya masyarakatnya sendiri. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA