Keris NTB: Jejak Silang Budaya dalam Sebilah Tosan Aji

- Penulis

Sabtu, 28 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ia adalah narasi tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita merawat peradaban (Foto: Museum Talk/ceraken.id)

Ia adalah narasi tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita merawat peradaban (Foto: Museum Talk/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Museum Talk Edisi 26 Februari 2026 menghadirkan percakapan hangat sekaligus mendalam tentang keris di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dipandu Kepala Museum Provinsi NTB, Ahmad Nuralam, dialog kali ini berlangsung di kediaman seorang pengusaha sekaligus kolektor keris, H. Zulfikar.

Di antara deretan bilah pusaka yang tertata rapi, diskusi mengalir dari soal bentuk, filosofi, hingga masa depan keris Lombok sebagai identitas budaya.

Keris di NTB bukan sekadar senjata tradisional. Ia adalah penanda sejarah panjang perjumpaan budaya.

Lombok bahkan kerap disebut sebagai “muara keris Nusantara”, karena hampir seluruh rumpun keris dari berbagai wilayah dapat ditemukan di pulau ini: mulai dari Jawa, Bali, Bugis, Melayu, hingga Sumbawa dan Bima.

Keberagaman itu menjadikan keris NTB sebagai cermin keterbukaan masyarakatnya dalam menerima, memadukan, dan membangun identitas baru.

Naga dalam Bilah: Filosofi Lurus dan Luk

Percakapan dibuka dengan pertanyaan sederhana: mengapa keris ada yang lurus dan ada yang ber-luk. Bagi H. Zulfikar, jawabannya tidak sesederhana estetika.

Ia menjelaskan konsep lama yang disebut aksaka jalma, perlambangan naga sebagai makhluk yang dimuliakan dan dijaga.

Keris lurus dimaknai sebagai “naga bertapa” (sarpa tapa), simbol ketenangan dan kekuatan yang terpusat. Keris dengan luk samar, di Lombok disebut luk ngelindung, diibaratkan naga berenang.

Sementara luk jeruju yang rapat dan banyak melambangkan naga yang sedang berburu. Filosofi ini memperlihatkan bahwa setiap lekukan bilah bukan sekadar teknik tempa, melainkan simbol gerak dan watak.

Dalam tradisi lama, naga diposisikan sebagai penjaga kehidupan, terutama yang berkaitan dengan air dan pengairan. Ia bukan makhluk menakutkan, melainkan penjaga keseimbangan.

Karena itu, simbol naga dalam keris menjadi lambang perlindungan dan kemuliaan.

Keunikan keris Lombok terletak pada persilangan pengaruh budaya. H. Zulfikar menyebut, di Lombok dapat dijumpai hampir seluruh rumpun keris Nusantara: Jawa, Bugis, Melayu, Bali, hingga Banjar.

Baca Juga :  Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Namun, setelah proses akulturasi panjang, Lombok tetap melahirkan bangun kerisnya sendiri.

Pengaruh Bali, misalnya, tampak pada keris berukuran besar dan gagah. Setelah runtuhnya Majapahit, tradisi keris Bali berkembang pesat, terutama di wilayah kekuasaan Karangasem dan Klungkung.

Keris Bali cenderung besar karena digunakan sebagai senjata perang, bukan sekadar aksesoris. Di Lombok, pengaruh itu melahirkan jenis keris panjang yang dikenal sebagai ligan, keris pedang dengan bilah tebal dan streamline.

Sementara pengaruh Jawa, khususnya era Majapahit, tampak pada bilah yang ringan akibat lipatan tempa yang banyak. Secara sepintas, keris Lombok bergaya Jawa kerap disangka keris asli Jawa.

Namun, perbedaannya terletak pada pesi (unting) yang lebih pendek pada keris Lombok.

Pengaruh Melayu terlihat dari bentuk gandik, pijetan, hingga lekuk yang lebih halus dan “sopan”. Pamor Wulan Gangsal dengan teknik tambal menjadi salah satu ciri yang sering ditemui.

Warangka dan handle pun memperlihatkan sentuhan Melayuan yang khas.

Di sisi lain, keris Sumbawa, Bima, dan Bugis juga memiliki tempat tersendiri di Lombok. Warangka yang lebih kecil dengan garis streamline menjadi pembeda utama keris Sumbawa.

Keris Bima cenderung lebih tebal dan kekar. Persinggungan geografis dan sosial membuat keris-keris dari rumpun ini akrab dan digemari masyarakat Lombok.

Jejak Pra-Majapahit: Petung Bayan

Menariknya, budaya keris di Lombok diyakini telah hadir jauh sebelum era Majapahit. Salah satu contohnya adalah keris tradisional yang dikenal sebagai Petung Bayan, banyak ditemukan di Lombok Utara.

Bentuknya sederhana, hanya satu sisi tajam, tanpa warangan, dan warangkanya knockdown. Tipologinya menunjukkan pengaruh era Buddha, menandakan bahwa masyarakat Lombok telah mengenal tosan aji jauh sebelum peristiwa letusan Samalas.

Temuan ini menegaskan bahwa keris bukanlah produk budaya yang datang belakangan, melainkan telah menyatu dalam sejarah panjang masyarakat Lombok.

Identitas, Status, dan Spiritualitas

Dalam masyarakat Nusantara, keris adalah bagian tak terpisahkan dari identitas laki-laki. Ia dibawa ke mana-mana bahkan saat bertamu.

Baca Juga :  Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Fungsinya berlapis: sebagai senjata tikam, simbol status sosial, penanda kedewasaan, hingga sarana spiritual.

Jumlah luk pun kerap dikaitkan dengan makna tertentu. Luk 3 diidentikkan dengan perlindungan (jangkung), luk 5 dimaknai sebagai Pandawa Lima. Namun, H. Zulfikar menegaskan bahwa pilihan itu kembali pada minat dan keyakinan pribadi.

Menariknya, tradisi juga mencatat bahwa perempuan di beberapa wilayah memiliki keris berukuran kecil sebagai alat pertahanan diri. Dalam tradisi Melayu dikenal istilah anak alang untuk senjata perempuan.

Kini, tantangan terbesar adalah bagaimana menempatkan keris sebagai warisan budaya, bukan sekadar benda mistis. Stigma bahwa keris “medeni” atau membawa petaka masih melekat di sebagian masyarakat.

Karena itu, diperlukan kesungguhan semua pihak; pemerintah, pendidik, hingga komunitas budaya untuk membangun pemahaman yang lebih utuh.

Di Bali, menurut H. Zulfikar, setiap besalen (tempat empu) baru mendapat dukungan luas dari puri dan pejabat setempat. Ada perputaran ekonomi dan kebanggaan kolektif yang menghidupkan tradisi.

Model seperti itu bisa menjadi inspirasi bagi NTB.

Keris hari ini mungkin tidak lagi menjadi senjata perang. Namun, ia tetap hidup sebagai identitas, aksesoris adat, bahkan simbol gengsi dan estetika.

Seperti telepon genggam di era modern, dahulu seseorang merasa ada yang kurang jika bepergian tanpa keris di pinggangnya.

Museum Talk edisi ini menegaskan satu hal: keris adalah cermin jati diri. Dari bentuk warangka, panjang pesi, hingga pamor bilah, tersimpan cerita tentang asal-usul, pergaulan budaya, dan nilai yang dianut pemiliknya.

Di tengah arus modernisasi, merawat keris berarti merawat ingatan kolektif. Sebab di setiap lekuknya, ada sejarah persinggungan Jawa, Bali, Bugis, Melayu, Sumbawa, dan Sasak, yang berkelindan menjadi identitas Lombok hari ini.

Sebilah keris bukan sekadar besi tempa. Ia adalah narasi tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita merawat peradaban. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA