Menakar “Maniak” dalam Tradisi Resensi: Membaca Hernadi Tanzil dari Halaman ke Halaman

Senin, 2 Maret 2026 - 19:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari ratusan tulisan itu, hanya 37 resensi yang disunting dan dimasukkan ke dalam buku (Foto: aks/ceraken.id)

Dari ratusan tulisan itu, hanya 37 resensi yang disunting dan dimasukkan ke dalam buku (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Sesi pertama “Bincang Buku” Komunitas Teman Baca, Sabtu (28/2), dibuka dengan pembacaan kritis atas buku “(R)esensi Maniak: Esai dari Pagina ke Pagina” (2026) karya Hernadi Tanzil.

Buku ini dibedah oleh Iin Farliani, penulis novel Mei Salon (2024), yang mengajak audiens melihat resensi bukan sekadar ringkasan, melainkan medan intelektual yang penuh tarik-menarik antara teks, sejarah, dan sikap pembaca.

Buku tersebut merupakan hasil seleksi dari 429 esai yang ditulis Hernadi sejak 2005. Dari ratusan tulisan itu, hanya 37 resensi yang disunting dan dimasukkan ke dalam buku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Angka itu segera memantik pertanyaan: mengapa 37? Apa pertimbangan estetik dan konseptual di balik penyusutan drastis tersebut?

Namun sebelum masuk ke pertanyaan kuratorial itu, Iin lebih dulu membedah isi buku dengan membaginya ke dalam tiga bahasan besar: Metabuku, Sastra Indonesia, dan Sastra Terjemahan.

Metabuku: Dunia Buku yang Bergolak

Bagian pertama, Metabuku, memuat delapan resensi yang berfokus pada hiruk-pikuk dunia perbukuan itu sendiri. Di sini, buku tidak sekadar dibaca sebagai karya, melainkan sebagai peristiwa sosial dan politik.

Iin mencontohkan sejumlah isu yang diangkat Hernadi: pencurian buku besar-besaran, sejarah panjang penyusunan kamus Oxford English yang dirampungkan selama tujuh puluh tahun, hingga penghancuran buku dalam berbagai rezim dan zaman. Dunia buku tampil sebagai arena konflik, ambisi, dan ideologi.

Konteks Indonesia tak luput dari sorotan. Hernadi menyinggung kasus plagiat yang pernah dituduhkan kepada Hamka atas novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, perdebatan seputar mitos apakah Lekra benar-benar membakar buku, hingga sosok Pramoedya Ananta Toer yang karya-karyanya pernah dibungkam oleh kekuasaan.

Bagian Metabuku ditutup dengan resensi atas buku panduan menulis resensi, sebuah lingkaran reflektif yang membuat buku ini seperti bercermin pada dirinya sendiri. Resensi menjadi objek sekaligus subjek pembicaraan.

Baca Juga :  Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang

Bagi Iin, bagian ini menunjukkan bahwa dunia buku tak pernah steril dari kepentingan. Ia adalah ruang perdebatan yang terus bergerak, di mana teks, ideologi, dan sejarah saling bersinggungan.

Sastra Indonesia: Politik dalam Pilihan Buku

Bagian kedua memuat tujuh resensi buku sastra Indonesia, baik fiksi maupun nonfiksi. Namun Iin menekankan bahwa yang menyatukan pilihan buku di bagian ini adalah sisi politiknya.

Beberapa karya yang diresensi memuat kehidupan Indonesia di masa lampau, termasuk kekerasan dan genosida pada era Hindia Belanda. Ada pula kisah humanis yang bertaut dengan sejarah industri kretek dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala, serta dinamika kekuasaan kolonial dalam Sang Raja karya Iksaka Banu.

Iin Farliani (kedua dari kiri) lebih dulu membedah isi buku dengan membaginya ke dalam tiga bahasan besar: Metabuku, Sastra Indonesia, dan Sastra Terjemahan (Foto: aks/ceraken.id)

Pilihan-pilihan ini, menurut Iin, menunjukkan kecenderungan Hernadi untuk menautkan sastra dengan sejarah dan politik. Buku tidak hanya dinilai dari sisi estetika, tetapi juga dari kemampuannya membuka lapisan-lapisan masa lalu.

“Tiga bahasan besar ini terikat oleh masa lampau,” ujar Iin. “Jadi bagaimana kita mau terpukau, atau kita malah tersandera cinta yang membutakan?”

Pernyataan itu menjadi refleksi kritis: apakah pembacaan kita atas masa lalu bersifat kritis, atau justru terjebak dalam romantisme?

Sastra Terjemahan: Jembatan ke Dunia Lain

Bagian ketiga, Sastra Terjemahan, merupakan porsi terbesar dengan 22 resensi. Pilihannya mencakup karya-karya klasik dunia hingga novel kontemporer seperti The Namesake karya Jhumpa Lahiri.

Tema-tema yang dibahas pun beragam: politik identitas, gender, seksualitas, kolonialisme, diaspora, dan benturan budaya. Melalui resensi-resensi ini, pembaca Indonesia diajak menjelajahi problem global tanpa meninggalkan konteks lokal.

Bagi Iin, bagian ini menunjukkan keluasan bacaan Hernadi sekaligus kegigihannya merawat tradisi resensi sebagai jembatan pengetahuan. Resensi bukan sekadar promosi buku, melainkan bentuk dialog lintas budaya.

Antara Kekaguman dan Pertanyaan

Sebagai pembaca, Iin mengaku terkesima oleh ketekunan Hernadi yang konsisten meresensi buku selama lebih dari dua dekade. Di titik itu, kata “maniak” terasa masuk akal, ia menunjuk pada dedikasi dan intensitas.

Baca Juga :  Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Namun dari sisi penyuntingan, Iin mempertanyakan seleksi 37 esai dari 429 tulisan. Mengapa angka itu? Apa yang membedakan 37 tulisan ini dari ratusan lainnya? Apakah ini representasi terbaik, atau sekadar pilihan praktis?

Begitu pula dengan kata “maniak” yang berulang kali muncul dalam buku. Apakah ia benar-benar menggambarkan sikap ekstrem terhadap dunia resensi, atau hanya hiperbola yang terdengar provokatif?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk meruntuhkan buku, melainkan memperkaya pembacaan. Justru di situlah fungsi diskusi: membuka ruang tanya yang tak selalu terjawab tuntas.

Dalam sesi tanya jawab, Iin menyinggung persoalan klasik dalam dunia resensi: kecenderungan untuk menceritakan ulang isi buku. Banyak peresensi, menurutnya, tergelincir menjadi pencerita.

Padahal bagi pembaca yang tak menyukai “spoiler”, tindakan itu bisa merampas pengalaman membaca secara utuh.

Resensi ideal, bagi Iin, bukanlah ringkasan detail, melainkan peta yang memberi arah tanpa membocorkan seluruh lanskap. Ia harus mampu memantik rasa ingin tahu, bukan menggantikannya.

Pada akhirnya, pembacaan Iin atas buku ini memperlihatkan dua hal sekaligus: kekaguman terhadap konsistensi Hernadi dan kegelisahan atas pilihan kuratorial serta istilah yang digunakan.

Namun lebih dari itu, sesi pertama “Bincang Buku” menunjukkan bahwa tradisi resensi masih hidup. Di tengah derasnya arus informasi digital, di mana opini sering singkat dan dangkal, keberadaan buku setebal ini menjadi penanda bahwa pembacaan mendalam tetap memiliki tempat.

Resensi bukan sekadar catatan pinggir atas buku orang lain. Ia adalah cara membaca zaman. Melalui halaman demi halaman, Hernadi Tanzil menunjukkan bahwa mencintai buku bisa menjadi laku intelektual yang serius bahkan, jika perlu, sedikit “maniak”. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman
Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang
Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Wayang Sasak: Membaca Jejak Dakwah, Seni, dan Identitas Lombok dari Rak Perpustakaan Museum NTB
Hari Buku Nasional: Stasiun Kereta Api di Frankfurt Sediakan Teks Metamorfosis Kafka
Ajoeba Wartabone, Republik, dan Jalan Panjang dari Gorontalo ke Djokja
Adil Akbar dan Jejak Sejarah dalam Imajinasi Cerpen
Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:42 WITA

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Selasa, 2 Juni 2026 - 19:50 WITA

Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang

Senin, 1 Juni 2026 - 15:02 WITA

Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:13 WITA

Wayang Sasak: Membaca Jejak Dakwah, Seni, dan Identitas Lombok dari Rak Perpustakaan Museum NTB

Senin, 18 Mei 2026 - 07:21 WITA

Hari Buku Nasional: Stasiun Kereta Api di Frankfurt Sediakan Teks Metamorfosis Kafka

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA