CERAKEN.ID — Di jantung Pulau Lombok, Kota Praya berdiri sebagai simpul penting yang menghubungkan denyut pemerintahan, geliat ekonomi, dan napas panjang kebudayaan Sasak. Sebagai ibu kota Kabupaten Lombok Tengah, Praya bukan sekadar pusat administrasi, melainkan ruang hidup yang terus bergerak, menyerap perubahan, namun tetap memelihara akar tradisi.
Letaknya yang strategis menjadikan Praya sebagai pintu gerbang menuju kawasan selatan Lombok yang kian mendunia. Kedekatannya dengan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) membuat kota ini menjadi titik transit sekaligus titik awal bagi wisatawan yang hendak menuju kawasan Mandalika dan sekitarnya.
Namun, di balik perannya sebagai jalur lalu lintas wisata, Praya menyimpan identitas yang lebih dalam: sebagai ruang budaya yang hidup, tempat nilai-nilai sosial-religius masyarakat Sasak tetap dijunjung tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah modernisasi yang kian terasa, Praya memperlihatkan wajah ganda yang harmonis. Di satu sisi, pembangunan infrastruktur terus digenjot; median jalan ditata, kawasan kota diperindah, dan fasilitas publik diperkuat.
Di sisi lain, desa-desa adat di sekitarnya tetap menjadi penjaga tradisi, dengan pola hidup agraris yang masih kuat. Sawah, ladang, dan interaksi sosial berbasis komunitas menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap keseharian masyarakat.
Tak jauh dari pusat kota, bentangan pantai selatan Lombok menawarkan kontras yang memikat. Dalam waktu 30 hingga 45 menit, wisatawan dapat menjangkau Pantai Kuta Mandalika, Tanjung Aan, hingga Gerupuk; kawasan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menjadi simbol transformasi ekonomi berbasis pariwisata.
Di antara perjalanan itu, Praya tetap menjadi titik pulang, ruang istirahat yang tenang di tengah geliat destinasi wisata yang semakin ramai.
Dukungan Ekosistem Keuangan
Dalam konteks inilah, dinamika ekonomi lokal menemukan relevansinya. Pertumbuhan sektor pariwisata tidak berdiri sendiri, tetapi membutuhkan dukungan ekosistem keuangan yang kuat, adaptif, dan berkelanjutan.
Di sinilah peran lembaga keuangan seperti Pegadaian menjadi signifikan; bukan hanya sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Momentum ulang tahun ke-125 Pegadaian pada 1 April 2026 menjadi refleksi penting tentang bagaimana sebuah institusi bertahan, beradaptasi, dan terus relevan di tengah perubahan zaman. Bagi Pemimpin Cabang Praya, Gunaji Agus Wibowo, usia tersebut bukan sekadar angka, melainkan simbol kedewasaan sekaligus tanggung jawab lintas generasi.
“Makna HUT ke-125 adalah pencapaian yang sangat matang untuk sebuah bisnis dan menjadi tanggung jawab semua generasi, supaya bisnis ini tetap tumbuh dan sustain sehingga bermanfaat untuk para stakeholder,” ujarnya.
Pernyataan itu tidak berhenti pada tataran normatif. Ia ditopang oleh capaian kinerja yang konkret. Hingga akhir Maret 2026, kinerja year to date (YTD) Triwulan I mencapai 15,69 persen, sementara outstanding loan (OSL) gross berada di angka 109,96 persen.
Angka-angka ini menjadi indikator bahwa strategi yang dijalankan tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan hasil yang terukur.
Militansi adalah Kunci
Namun, di balik capaian tersebut, terdapat pendekatan manajerial yang menarik untuk dicermati. Gunaji tidak hanya berbicara tentang target, tetapi juga tentang semangat.
Militansi, dalam konteks ini, menjadi kata kunci. Sejak awal tahun, seluruh pegawai didorong untuk memiliki orientasi yang jelas terhadap pencapaian, dengan kesadaran bahwa proses kerja adalah maraton panjang yang harus dijalani secara konsisten hingga akhir tahun.

Pendekatan ini diperkuat dengan mobilisasi seluruh sumber daya yang dimiliki. Tidak ada sekat antara front office, tenaga pemasaran, agen, hingga sistem digitalisasi. Bahkan tenaga alih daya (outsourcing) pun diberi ruang untuk berkontribusi secara maksimal melalui program “racing” yang disertai dengan reward bulanan.
Strategi ini mencerminkan pendekatan inklusif dalam manajemen sumber daya manusia; bahwa setiap individu, tanpa memandang posisi, memiliki peran dalam pencapaian organisasi.
Yang menarik, strategi tersebut tidak hanya berorientasi pada aspek material. Gunaji memasukkan dimensi spiritual sebagai bagian dari ekosistem kerja.
Pengajian bulanan dan program “Jumat Berkah” menjadi ruang refleksi sekaligus upaya membangun keyakinan bahwa rezeki tidak hanya datang dari usaha lahiriah, tetapi juga dari ikhtiar batiniah. Dalam konteks masyarakat Praya yang religius, pendekatan ini menjadi jembatan yang menghubungkan nilai budaya lokal dengan praktik manajemen modern.
Program EMAS (Eksplorasi Market dan Analisis Strategis) menjadi contoh lain dari bagaimana strategi dirancang secara komprehensif. Melalui pendekatan ini, aktivitas pemasaran tidak lagi bersifat sporadis, tetapi terstruktur dan menjadi kewajiban harian.
Cross selling, up selling, hingga personal selling dilakukan secara sistematis. Aktivitas seperti intimate lunch, mini seminar, dan canvassing menjadi sarana membangun relasi yang lebih dekat dengan masyarakat.
Tidak hanya itu, pendekatan kultural juga diintegrasikan melalui kunjungan dan kerja sama dengan tokoh agama (TGH) sebagai panutan di wilayah tersebut. Langkah ini menunjukkan pemahaman bahwa dalam masyarakat seperti Lombok Tengah, kepercayaan publik tidak hanya dibangun melalui produk dan layanan, tetapi juga melalui legitimasi sosial dari tokoh-tokoh yang dihormati.
Kebersamaan dan Integritas
Di tengah semua strategi itu, satu nilai yang terus ditekankan adalah integritas. Bagi Gunaji, kebersamaan tanpa integritas hanya akan menjadi slogan kosong.
Pernyataan ini menegaskan bahwa fondasi organisasi tidak hanya terletak pada sistem dan strategi, tetapi juga pada nilai-nilai yang dipegang oleh setiap individu di dalamnya.
“Ini yang menjadi panduan dalam setiap aktivitas kerja. Karena bagaimana pun nilai ini membentuk budaya organisasi dan memastikan sustainable perusahaan di masa depan,” tambahnya.
Apa yang dilakukan di Cabang Praya sesungguhnya mencerminkan bagaimana sebuah institusi besar seperti Pegadaian beradaptasi dengan konteks lokal tanpa kehilangan arah globalnya.
Di satu sisi, ia bergerak mengikuti dinamika ekonomi modern dengan memanfaatkan digitalisasi dan strategi pemasaran yang agresif. Di sisi lain, ia tetap berpijak pada nilai-nilai lokal; kebersamaan, religiusitas, dan kepercayaan sosial.
Dalam lanskap Praya yang terus berkembang, pendekatan ini menjadi relevan. Kota ini bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang sosial yang kompleks, di mana modernitas dan tradisi berjalan beriringan.
Keberhasilan sebuah institusi di dalamnya tidak hanya ditentukan oleh kekuatan finansial, tetapi juga oleh kemampuannya membaca dan merespons dinamika tersebut.
Dengan demikian, peringatan 125 tahun Pegadaian bukan sekadar seremoni. Ia adalah momentum refleksi tentang bagaimana sebuah institusi dapat tetap hidup, tumbuh, dan memberi makna di tengah perubahan zaman.
Di Praya, refleksi itu menemukan bentuknya; dalam angka-angka kinerja, dalam strategi yang dijalankan, dan dalam nilai-nilai yang terus dijaga.
Pada akhirnya, Praya dan Pegadaian bertemu dalam satu narasi yang sama: tentang pertumbuhan yang tidak melupakan akar, tentang kemajuan yang tetap berpijak pada nilai, dan tentang masa depan yang dibangun di atas fondasi integritas. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































