Wayang Kafka Tanpa Kelir: Metamorfosis di Ruang Bincang

- Penulis

Selasa, 3 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Tanpa bayangan di layar, tanpa jarak simbolik, kisah Gregor Samsa tampil lebih terbuka (Foto: aks/ceraken.id)

Tanpa bayangan di layar, tanpa jarak simbolik, kisah Gregor Samsa tampil lebih terbuka (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Kegiatan “Bincang Buku” Komunitas Teman Baca, Sabtu (28/02) lalu, dibuka dengan sebuah pementasan yang tak biasa. Bukan bedah buku konvensional, melainkan pertunjukan “wayang Kafka” oleh Sigit Susanto, penulis dan penerjemah yang lama bergulat dengan karya-karya Franz Kafka.

Namun kali ini, wayang itu hadir tanpa kelir. Tanpa layar putih dan bayangan hitam yang lazim dalam tradisi wayang kulit.

Tokoh-tokoh digerakkan secara langsung di hadapan penonton, seolah menanggalkan batas antara dunia bayangan dan realitas. Pilihan artistik ini membuat kisah yang dibawakan terasa lebih telanjang; lebih dekat, sekaligus lebih mengganggu.

Lakon yang dipentaskan adalah Metamorfosis (1915), kisah fenomenal tentang Gregor Samsa, seorang salesman yang terbangun dan mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa. Seekor kecoa yang menjijikkan.

Perubahan mendadak itu membuatnya terasing dari keluarga dan masyarakat. Ia yang semula menjadi tulang punggung keluarga, berubah menjadi beban yang memalukan.

Tubuh yang Terbuka, Keterasingan yang Nyata

Tanpa kelir sebagai medium bayangan, transformasi Gregor tampil lebih nyata dan konfrontatif. Tidak ada jarak simbolik antara penonton dan sosok serangga itu.

Ketegangan tercipta bukan dari permainan cahaya, melainkan dari gestur, suara, dan dialog yang dibiarkan mengalir apa adanya.

Sigit mengakui sekitar 70 persen lakon yang ia bawakan berasal langsung dari teks Kafka. Pementasan itu memang terasa seperti meringkas novel, namun ia berupaya tidak menghilangkan bagian inti cerita. Alienasi, dehumanisasi, dan tekanan hidup modern tetap menjadi poros.

Baca Juga :  Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Kematian Gregor yang tragis, diabaikan keluarganya sendiri, menjadi klimaks yang getir. Lebih getir lagi karena kematiannya justru membawa kelegaan bagi keluarga, yang kemudian merencanakan masa depan tanpa dirinya.

Di situlah Kafka memantulkan cermin bagi masyarakat modern: nilai seseorang kerap diukur dari produktivitasnya. Ketika tak lagi menghasilkan, keberadaannya menjadi soal.

Proses Kreatif dan Tafsir

Bagi Sigit, mendalang dengan lakon berbasis Metamorfosis adalah bagian dari proses kreatifnya. Selama ini ia lebih sering menampilkan lakon “Ramayana” atau “Dewa Ruci” dalam durasi pendek, sekitar 25 menit, di Swiss dan Jerman.

Pesan tentang keterasingan manusia modern terasa semakin nyata (Foto: aks/ceraken.id)

Kali ini ia ingin melakukan hal baru. menghadirkan Kafka dalam medium wayang, tetapi dengan pendekatan yang lebih minimalis.

Dalam sesi diskusi, ia menjelaskan bahwa “background” panggung yang sederhana, bahkan di luar ekspektasi penonton, justru mencerminkan dunia Kafka: tampak polos, tetapi menyimpan kedalaman makna.

“Orang bilang bukunya bagus, tapi Kafka malah bilang tulisannya seperti cakar ayam,” ujarnya, mengutip ironi sang pengarang.

Menanggapi Fathul Rakhman yang menyebut dalang memegang peran penting dalam menafsirkan teks Kafka, Sigit menegaskan bahwa teks Kafka memang tidak menyisakan ruang kegembiraan.

 “Teks Kafka tidak ada yang gembira,” katanya.

Penonton dibuat tegang, bahkan risih, terutama saat Gregor tampil sebagai kecoa yang sangat menjijikkan.

Ia sendiri merendah. “Yang jelas saya bukan dalang,” ucapnya, seraya menyebut telah sembilan kali menampilkan lakon Ramayana dan Dewa Ruci di Eropa. Pernyataan itu bukan penyangkalan, melainkan kesadaran bahwa yang ia lakukan adalah eksplorasi, bukan klaim atas otoritas tradisi.

Baca Juga :  Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Dari Boja ke Eropa, dari Kafka ke Wayang

Sigit telah menetap di Swiss lebih dari 25 tahun. Ia dikenal sebagai penerjemah karya-karya Kafka dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Modal sosial dan kultural itu pula yang membawanya mengembangkan wayang di Eropa.

Namun akar masa kecilnya tetap kuat. Ia tumbuh di Boja, Kendal, Jawa Tengah, akrab dengan wayang kulit dalam hajatan perkawinan, sunatan, atau sedekah desa. Ingatan itulah yang terus ia bawa bahkan ketika kini dikenal sebagai “dalang” di seputaran Swiss dan Jerman.

Pementasan wayang Kafka tanpa kelir di Komunitas Teman Baca menjadi semacam jembatan antara ingatan dan eksperimen, antara tradisi dan modernitas, antara Jawa dan Eropa.

Kafka yang lahir dari kegelisahan Eropa awal abad ke-20 menemukan resonansi baru dalam ruang diskusi literasi di Indonesia.

Tanpa bayangan di layar, tanpa jarak simbolik, kisah Gregor Samsa tampil lebih terbuka.

Dan mungkin justru karena itu, pesan tentang keterasingan manusia modern terasa semakin nyata: bahwa dalam dunia yang menilai manusia dari kegunaannya, siapa pun bisa sewaktu-waktu berubah menjadi “serangga” di mata orang lain. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA