CERAKEN.ID — Kegiatan “Bincang Buku” Komunitas Teman Baca, Sabtu (28/02) lalu, dibuka dengan sebuah pementasan yang tak biasa. Bukan bedah buku konvensional, melainkan pertunjukan “wayang Kafka” oleh Sigit Susanto, penulis dan penerjemah yang lama bergulat dengan karya-karya Franz Kafka.
Namun kali ini, wayang itu hadir tanpa kelir. Tanpa layar putih dan bayangan hitam yang lazim dalam tradisi wayang kulit.
Tokoh-tokoh digerakkan secara langsung di hadapan penonton, seolah menanggalkan batas antara dunia bayangan dan realitas. Pilihan artistik ini membuat kisah yang dibawakan terasa lebih telanjang; lebih dekat, sekaligus lebih mengganggu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lakon yang dipentaskan adalah Metamorfosis (1915), kisah fenomenal tentang Gregor Samsa, seorang salesman yang terbangun dan mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa. Seekor kecoa yang menjijikkan.
Perubahan mendadak itu membuatnya terasing dari keluarga dan masyarakat. Ia yang semula menjadi tulang punggung keluarga, berubah menjadi beban yang memalukan.
Tubuh yang Terbuka, Keterasingan yang Nyata
Tanpa kelir sebagai medium bayangan, transformasi Gregor tampil lebih nyata dan konfrontatif. Tidak ada jarak simbolik antara penonton dan sosok serangga itu.
Ketegangan tercipta bukan dari permainan cahaya, melainkan dari gestur, suara, dan dialog yang dibiarkan mengalir apa adanya.
Sigit mengakui sekitar 70 persen lakon yang ia bawakan berasal langsung dari teks Kafka. Pementasan itu memang terasa seperti meringkas novel, namun ia berupaya tidak menghilangkan bagian inti cerita. Alienasi, dehumanisasi, dan tekanan hidup modern tetap menjadi poros.
Kematian Gregor yang tragis, diabaikan keluarganya sendiri, menjadi klimaks yang getir. Lebih getir lagi karena kematiannya justru membawa kelegaan bagi keluarga, yang kemudian merencanakan masa depan tanpa dirinya.
Di situlah Kafka memantulkan cermin bagi masyarakat modern: nilai seseorang kerap diukur dari produktivitasnya. Ketika tak lagi menghasilkan, keberadaannya menjadi soal.
Proses Kreatif dan Tafsir
Bagi Sigit, mendalang dengan lakon berbasis Metamorfosis adalah bagian dari proses kreatifnya. Selama ini ia lebih sering menampilkan lakon “Ramayana” atau “Dewa Ruci” dalam durasi pendek, sekitar 25 menit, di Swiss dan Jerman.

Kali ini ia ingin melakukan hal baru. menghadirkan Kafka dalam medium wayang, tetapi dengan pendekatan yang lebih minimalis.
Dalam sesi diskusi, ia menjelaskan bahwa “background” panggung yang sederhana, bahkan di luar ekspektasi penonton, justru mencerminkan dunia Kafka: tampak polos, tetapi menyimpan kedalaman makna.
“Orang bilang bukunya bagus, tapi Kafka malah bilang tulisannya seperti cakar ayam,” ujarnya, mengutip ironi sang pengarang.
Menanggapi Fathul Rakhman yang menyebut dalang memegang peran penting dalam menafsirkan teks Kafka, Sigit menegaskan bahwa teks Kafka memang tidak menyisakan ruang kegembiraan.
“Teks Kafka tidak ada yang gembira,” katanya.
Penonton dibuat tegang, bahkan risih, terutama saat Gregor tampil sebagai kecoa yang sangat menjijikkan.
Ia sendiri merendah. “Yang jelas saya bukan dalang,” ucapnya, seraya menyebut telah sembilan kali menampilkan lakon Ramayana dan Dewa Ruci di Eropa. Pernyataan itu bukan penyangkalan, melainkan kesadaran bahwa yang ia lakukan adalah eksplorasi, bukan klaim atas otoritas tradisi.
Dari Boja ke Eropa, dari Kafka ke Wayang
Sigit telah menetap di Swiss lebih dari 25 tahun. Ia dikenal sebagai penerjemah karya-karya Kafka dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Modal sosial dan kultural itu pula yang membawanya mengembangkan wayang di Eropa.
Namun akar masa kecilnya tetap kuat. Ia tumbuh di Boja, Kendal, Jawa Tengah, akrab dengan wayang kulit dalam hajatan perkawinan, sunatan, atau sedekah desa. Ingatan itulah yang terus ia bawa bahkan ketika kini dikenal sebagai “dalang” di seputaran Swiss dan Jerman.
Pementasan wayang Kafka tanpa kelir di Komunitas Teman Baca menjadi semacam jembatan antara ingatan dan eksperimen, antara tradisi dan modernitas, antara Jawa dan Eropa.
Kafka yang lahir dari kegelisahan Eropa awal abad ke-20 menemukan resonansi baru dalam ruang diskusi literasi di Indonesia.
Tanpa bayangan di layar, tanpa jarak simbolik, kisah Gregor Samsa tampil lebih terbuka.
Dan mungkin justru karena itu, pesan tentang keterasingan manusia modern terasa semakin nyata: bahwa dalam dunia yang menilai manusia dari kegunaannya, siapa pun bisa sewaktu-waktu berubah menjadi “serangga” di mata orang lain. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































