Menimbang Arah Kebijakan di Nusa Tenggara Barat: Antara Pertumbuhan Tahunan dan Capaian Kumulatif

Minggu, 15 Februari 2026 - 13:48 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar tingginya angka pertumbuhan, tetapi sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata dan berkelanjutan (Foto: ist)

Ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar tingginya angka pertumbuhan, tetapi sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata dan berkelanjutan (Foto: ist)

CERAKEN.ID — Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator utama dalam membaca keberhasilan pembangunan suatu daerah.

Pada 2025, pertumbuhan ekonomi NTB tercatat 12,49 persen secara year-to-year (y-to-y), sementara pertumbuhan kumulatif atau cumulative-to-cumulative (c-to-c) berada di angka 3,22 persen.

Dua angka ini sama-sama menunjukkan perkembangan ekonomi, namun memiliki makna berbeda ketika digunakan sebagai dasar perumusan kebijakan pembangunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaannya, angka mana yang lebih penting bagi kebijakan dan strategi pembangunan daerah?

Memahami Perbedaan Dua Indikator

Pertumbuhan y-to-y membandingkan kinerja ekonomi pada suatu periode dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka ini sering menjadi sorotan karena mampu menunjukkan lonjakan atau perlambatan ekonomi secara cepat.

Tidak jarang, angka y-to-y menjadi headline utama dalam laporan ekonomi karena menggambarkan momentum pertumbuhan.

Sebaliknya, pertumbuhan c-to-c melihat kinerja ekonomi secara kumulatif dalam satu tahun berjalan dibandingkan periode sebelumnya. Indikator ini mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih menyeluruh dan relatif stabil karena mengurangi efek fluktuasi musiman atau lonjakan sesaat.

Di tingkat nasional, indikator ini juga menjadi acuan penting dalam membaca stabilitas ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Baca Juga :  APBN 2026 Tumbuh Ekspansif, Sinyal Optimisme Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global
Mengapa Angka C-to-C Lebih Penting bagi Kebijakan?

Dalam konteks penyusunan kebijakan pembangunan, angka c-to-c dinilai lebih penting dibanding y-to-y. Alasannya antara lain:

Pertama, mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih stabil.
Pertumbuhan y-to-y bisa melonjak akibat faktor musiman, proyek besar sementara, atau lonjakan sektor tertentu yang belum tentu berkelanjutan. Sebaliknya, angka kumulatif menunjukkan performa ekonomi sepanjang periode, sehingga lebih mencerminkan kondisi riil masyarakat dan dunia usaha.

Kedua, lebih relevan untuk perencanaan anggaran dan investasi publik.
Kebijakan pembangunan membutuhkan prediksi pendapatan daerah, daya beli masyarakat, serta kemampuan investasi jangka menengah. Angka c-to-c memberikan gambaran yang lebih aman untuk menetapkan target pembangunan, belanja daerah, hingga strategi investasi.

Ketiga, membantu menjaga keberlanjutan pembangunan.
Lonjakan pertumbuhan sesaat tidak selalu berarti kesejahteraan meningkat. Pemerintah daerah justru perlu memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati masyarakat secara merata dan berkelanjutan, bukan hanya terjadi pada sektor tertentu dalam waktu singkat.

Peran Angka Y-to-Y Tetap Penting

Meski demikian, angka y-to-y tetap memiliki fungsi strategis. Indikator ini penting sebagai alarm dini untuk membaca perubahan ekonomi secara cepat. Jika terjadi perlambatan tajam, pemerintah dapat segera melakukan intervensi kebijakan.

Baca Juga :  Menjembatani Kebersamaan dari Pesantren: Saat Silaturahmi Menjadi Gerakan Sosial

Sebaliknya, jika terjadi lonjakan besar, pemerintah bisa mengidentifikasi sektor yang perlu diperkuat.

Dengan kata lain, y-to-y penting untuk membaca momentum, sementara c-to-c penting untuk menentukan arah.

Bagi NTB, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan angka pertumbuhan tinggi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut stabil, inklusif, dan berkelanjutan.

Artinya, pembangunan harus memperkuat sektor-sektor produktif yang memberi dampak luas, seperti pertanian, pariwisata, industri pengolahan, dan ekonomi kreatif, bukan hanya mengandalkan proyek besar atau sektor ekstraktif sesaat.

Karena itu, dalam merumuskan kebijakan dan strategi pembangunan, pemerintah daerah lebih tepat menggunakan indikator pertumbuhan c-to-c sebagai pijakan utama, sementara angka y-to-y menjadi alat pemantauan dinamika ekonomi jangka pendek.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan sekadar tingginya angka pertumbuhan, tetapi sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata dan berkelanjutan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menjembatani Kebersamaan dari Pesantren: Saat Silaturahmi Menjadi Gerakan Sosial
Dari Bedah Rumah hingga Modal Usaha: Ikhtiar Menteri PKP Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Menjaga Napas Pembangunan dari Jerat Utang
Menembus Kutukan Lima Persen
Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB
Perbankan Nasional Tetap Tangguh, Kredit Tumbuh di Tengah Gejolak Global
Ekonomi Indonesia Melaju 5,61 Persen, Sinyal Keluar dari “Kutukan” Pertumbuhan Lima Persen
APBN 2026 Tumbuh Ekspansif, Sinyal Optimisme Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:42 WITA

Dari Bedah Rumah hingga Modal Usaha: Ikhtiar Menteri PKP Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Selasa, 19 Mei 2026 - 00:18 WITA

Menjaga Napas Pembangunan dari Jerat Utang

Jumat, 15 Mei 2026 - 23:13 WITA

Menembus Kutukan Lima Persen

Rabu, 13 Mei 2026 - 12:33 WITA

Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB

Kamis, 7 Mei 2026 - 21:59 WITA

Perbankan Nasional Tetap Tangguh, Kredit Tumbuh di Tengah Gejolak Global

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA