Membaca Dua Angka, Memahami Satu Arah: Ekonomi NTB di Tahun Transisi 2025

Rabu, 18 Februari 2026 - 12:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iqbal - Dinda. NTB tidak hanya bangkit, tetapi sedang menata ulang arah pertumbuhan ekonominya menuju struktur yang lebih kuat dan inklusif (Foto: ist)

Iqbal - Dinda. NTB tidak hanya bangkit, tetapi sedang menata ulang arah pertumbuhan ekonominya menuju struktur yang lebih kuat dan inklusif (Foto: ist)

CERAKEN.ID — Perdebatan publik mengenai pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat sepanjang 2025 sesungguhnya berangkat dari cara membaca data. Sebagian masyarakat menangkap angka 12,49 persen sebagai gambaran kondisi ekonomi daerah, sementara sebagian lain mengacu pada angka 3,22 persen.

Keduanya sama-sama benar, namun mengukur hal yang berbeda.

Menurut penjelasan resmi Badan Pusat Statistik, angka 12,49 persen merupakan pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 dibandingkan Triwulan IV 2024 (year-on-year). Angka ini mencerminkan lonjakan aktivitas ekonomi di penghujung tahun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, angka 3,22 persen merupakan pertumbuhan kumulatif sepanjang 2025 (cumulative to cumulative), yang menggambarkan rata-rata perjalanan ekonomi selama empat triwulan penuh.

Dengan kata lain, pertumbuhan 12,49 persen menggambarkan momentum kebangkitan di akhir tahun, sedangkan 3,22 persen merupakan potret perjalanan ekonomi satu tahun penuh di Nusa Tenggara Barat.

Dari Kontraksi ke Pemulihan

Data BPS menunjukkan bahwa pada Triwulan I dan II 2025 ekonomi NTB sempat mengalami kontraksi. Penyebab utama bukanlah sektor pertanian, yang justru tumbuh karena panen raya, melainkan penurunan tajam produksi sektor pertambangan yang selama ini menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap PDRB daerah.

Situasi mulai berubah pada Triwulan III ketika fasilitas smelter kembali beroperasi dan ekspor emas berjalan normal. Pada Triwulan IV, pertumbuhan melonjak hingga 12,49 persen. Pola ini menegaskan bahwa ekonomi NTB sepanjang 2025 bergerak dari fase koreksi menuju fase pemulihan.

Bahkan BPS menegaskan bahwa jika sektor tambang bijih logam dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai 8,33 persen secara kumulatif dan 13,7 persen secara tahunan. Artinya, sektor non-tambang seperti pertanian, perdagangan, industri pengolahan, serta konsumsi rumah tangga menunjukkan daya tahan yang kuat.

Perlambatan ekonomi 2025 dengan demikian lebih merupakan fase transisi industri tambang dan hilirisasi, bukan melemahnya ekonomi masyarakat.

Baca Juga :  Menimbang Arah Kebijakan di Nusa Tenggara Barat: Antara Pertumbuhan Tahunan dan Capaian Kumulatif
Tahun Pertama Pemerintahan dan Beban Pemulihan

Dalam konteks tersebut, capaian satu tahun kepemimpinan pasangan Lalu Muhammad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri perlu dibaca secara proporsional. Tahun 2025 menjadi tahun awal operasional hilirisasi sekaligus fase konsolidasi struktur ekonomi.

RPJMD NTB sebelumnya disusun dengan asumsi kondisi ekonomi normal, dengan titik awal pertumbuhan 2024 sebesar 5,30 persen dan target 2025 di level 6 persen, kenaikan moderat sekitar 0,70 poin.

Namun realitas di awal tahun berbeda. Alih-alih memulai dari kondisi stabil, ekonomi NTB justru mengalami kontraksi hingga minus 1,47 persen akibat gangguan teknis smelter yang berdampak langsung pada pertambangan.

Dalam situasi tersebut, keberhasilan menutup tahun dengan pertumbuhan positif 3,22 persen berarti terjadi lonjakan pemulihan sekitar 4,69 poin dalam satu tahun. Ini menunjukkan bahwa mesin ekonomi daerah tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berbalik menuju akselerasi.

Non-Tambang Menjadi Penopang

Keberhasilan pemulihan 2025 sekaligus menunjukkan bahwa ekonomi NTB tidak sepenuhnya bergantung pada tambang. Saat sektor tambang mengalami gangguan, sektor pertanian, perdagangan, jasa, industri pengolahan, serta konsumsi rumah tangga tetap bergerak dan menjadi penyangga utama.

PDRB per kapita NTB pada 2025 mencapai sekitar Rp33,67 juta per orang, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menandakan tiga pesan penting: kesejahteraan rata-rata meningkat, kapasitas ekonomi daerah menguat, dan proses transformasi ekonomi mulai tampak.

Dari sisi lapangan usaha, pertambangan, pertanian, dan perdagangan masih menjadi tulang punggung. Namun pertumbuhan tertinggi justru datang dari sektor bernilai tambah. Industri pengolahan melonjak 137,78 persen, jasa keuangan tumbuh 28,12 persen, dan perdagangan meningkat 12,29 persen.

Lonjakan industri pengolahan dipicu mulai beroperasinya smelter, menjadi tanda bahwa agenda hilirisasi mulai memberi dampak nyata terhadap ekonomi daerah.

Ekonomi Rakyat Mulai Pulih

Sepanjang 2025, sektor non-tambang yang bersentuhan langsung dengan masyarakat menunjukkan penguatan. Produksi padi meningkat signifikan, aktivitas perdagangan tumbuh mengikuti peningkatan produksi, sektor akomodasi dan makan minum kembali hidup, jumlah tamu hotel meningkat lebih dari 30 persen, sementara pergerakan penumpang udara tumbuh lebih dari 10 persen.

Baca Juga :  Menimbang Arah Kebijakan di Nusa Tenggara Barat: Antara Pertumbuhan Tahunan dan Capaian Kumulatif

Jasa keuangan, transportasi, serta konsumsi rumah tangga turut menguat, menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Maknanya jelas: ekonomi rakyat (pertanian, UMKM, jasa, dan pariwisata) kembali bergerak. Struktur ekonomi NTB mulai menjadi lebih seimbang, tidak hanya bertumpu pada sektor ekstraktif.

Tahun Transisi dan Fondasi Transformasi

Pertumbuhan 2025 dengan demikian perlu dibaca sebagai tahun transisi sekaligus tahun peletakan fondasi transformasi ekonomi. Hilirisasi mulai berjalan, sektor pertanian dan perdagangan menguat, serta pariwisata dan jasa kembali memberi efek pengganda bagi UMKM.

Dalam perspektif satu tahun kepemimpinan daerah, yang sedang dibangun bukan sekadar pertumbuhan jangka pendek, melainkan fondasi ekonomi yang lebih stabil dan inklusif.

Pertumbuhan 3,22 persen adalah catatan perjalanan ekonomi sepanjang tahun. Pertumbuhan 12,49 persen adalah tanda kebangkitan di akhir tahun. Keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi dari proses pemulihan ekonomi.

Tantangan Berikutnya

Ke depan, tantangan bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan berlangsung konsisten sepanjang tahun, berbasis sektor padat karya, menciptakan nilai tambah lokal, serta benar-benar dirasakan masyarakat.

Dengan arah kebijakan yang tepat, momentum akhir 2025 dapat menjadi fondasi menuju 2026 yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Di sinilah capaian tersebut patut diapresiasi: NTB tidak hanya bangkit, tetapi sedang menata ulang arah pertumbuhan ekonominya menuju struktur yang lebih kuat dan inklusif.

Sebagaimana dirangkum dalam laporan resmi pemerintah daerah melalui Kominfotik NTB, fase ini bukan sekadar pemulihan, melainkan awal perubahan struktur ekonomi menuju masa depan yang lebih tahan terhadap guncangan dan lebih berpihak pada kesejahteraan masyarakat.(kominfotik)***

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita : akun fb Pemrov NTB

Berita Terkait

Menimbang Arah Kebijakan di Nusa Tenggara Barat: Antara Pertumbuhan Tahunan dan Capaian Kumulatif
Segera Digelar Pilkades PAW Kecamatan Jonggat, Panitia Himbau Jaga Kondusifitas

Berita Terkait

Minggu, 15 Februari 2026 - 13:48 WITA

Menimbang Arah Kebijakan di Nusa Tenggara Barat: Antara Pertumbuhan Tahunan dan Capaian Kumulatif

Senin, 26 Mei 2025 - 14:15 WITA

Segera Digelar Pilkades PAW Kecamatan Jonggat, Panitia Himbau Jaga Kondusifitas

Berita Terbaru

Ipang Pantjoro Sumarsa (kiri), Nazla (tengah), Aldo (kanan). Kehadirannya bukan sekadar tampil, melainkan memberi ruang belajar bagi musisi muda untuk merasakan langsung energi panggung yang otentik (Foto: Winsa Le Embrio)

MUSIK

Pentas Selasa: Api Kecil yang Menolak Padam di Lombok

Rabu, 18 Feb 2026 - 21:04 WITA