CERAKEN.ID — Ruang pertunjukan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram pada Jumat, 13 Maret 2026, tidak menggunakan kelir sebagaimana lazimnya pertunjukan wayang kulit.
Pementasan lakon Metamorfosis karya Franz Kafka oleh Sigit Susanto itu justru berlangsung sederhana dan terbuka, dimulai pukul 14.30 WITA. Dalam format tanpa kelir tersebut, wayang hadir langsung di hadapan penonton, menghadirkan suasana yang lebih intim sekaligus dialogis.
Seusai pementasan, tiga penanya, Wiwit, Marliza, dan Icha, mengajukan pertanyaan yang mengalir dari rasa ingin tahu tentang proses kreatif di balik pertunjukan tersebut. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, Sigit tidak hanya menjawab secara teknis, tetapi juga membuka kisah perjalanan keseniannya yang berangkat dari keterbatasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari Wayang Souvenir hingga Kaleng Bekas
Wiwit menjadi penanya pertama. Ia ingin mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi pemula untuk belajar mendalang dan berapa besar biaya yang harus disiapkan untuk membuat wayang kulit beserta berbagai asesorinya.
Alih-alih menyebut angka, Sigit Susanto justru menjawab dengan kisah pengalamannya saat berada di Swiss. Ketika menghadiri pertemuan diaspora Indonesia, ia melihat wayang dari Bali dijual sebagai souvenir dan ditempel di dinding.
Sebagai orang desa dari Jawa Tengah yang sejak kecil akrab dengan pertunjukan wayang, pemandangan itu membuatnya tidak nyaman.
“Aku tidak tega melihat wayang ditempel di tembok,” ujarnya.
Ia lalu mengusulkan untuk memperagakan wayang tersebut. Usulan itu diterima, tetapi persoalan baru muncul: di Eropa tidak ada gedebog pisang untuk menancapkan wayang. Sebagai solusi, ia menggunakan jerami ketika tampil di Jerman.
Wayang yang digunakannya pun bukan koleksi mahal. Ia membeli wayang souvenir di Malioboro, Yogyakarta, dengan pegangan bambu sederhana.
Bahkan sepuluh hari sebelum pementasan, tokoh Hanoman belum tersedia dan baru dikirim oleh temannya dari Tulungagung pada saat-saat terakhir.
Ada pula kisah kecil yang mengundang tawa. Seusai pertunjukan, ia baru menyadari bahwa tokoh Rahwana masih menempel di tembok.
Ketika tokoh itu harus dimainkan, ia meminta seseorang bernama Mas Hari untuk mengambilkannya dengan bahasa Jawa. Celakanya, orang yang dimaksud, Mas Hari. berasal dari Bali dan tidak memahami bahasa Jawa.
Penonton di Swiss menyaksikan situasi itu tanpa menyadari kekacauan kecil yang terjadi di baliknya. Bahkan setelah pertunjukan selesai, seseorang bertanya apakah ada tokoh wayang bernama Hari.
Bukan hanya wayangnya yang sederhana. Alat kecrek yang menjadi bagian penting dalam irama pertunjukan dibuat dari kaleng jagung bekas yang dipotong.
Namun justru dari kesederhanaan itulah perjalanan keseniannya berkembang. Video pementasan yang diunggah ke YouTube membuat namanya dikenal. Beberapa tahun kemudian, ketika Konsulat Jenderal Indonesia di Frankfurt mencari dalang di Jerman, ternyata tidak ada.
Yang ada justru di Swiss: Sigit Susanto.
Ia kemudian diundang mendalang selama satu jam di sebuah museum di Jerman dengan honor 500 euro.
“Semua itu bermula dari kaleng bekas,” katanya.
Pesannya bagi pemula sederhana: jangan terlalu menghitung soal biaya. Hal kecil yang tampak remeh bisa membuka jalan besar.
Untuk menunjukkan gagasan itu, ia bahkan memanggil dua mahasiswa ke depan. Seorang perempuan memainkan wayang, sementara seorang mahasiswa laki-laki menirukan bunyi musik gendang beleq dengan suara mulut.
“Berkarya tidak harus menunggu lengkap,” katanya. “Musik pun bisa lahir dari penggalian budaya lokal.”
Menulis Naskah dari Buku
Pertanyaan kedua datang dari Marliza. Ia menanyakan bagaimana menulis naskah wayang yang diadaptasi dari buku tanpa menghilangkan inti cerita, serta apakah dialog dalam buku harus dipakai sama persis seperti di teks.
Sigit mengaku belum pernah menulis naskah drama. Namun ia terbiasa menulis cerpen, novel, dan puisi. Dalam dunia wayang, ia hanya benar-benar menghafal dua lakon: Ramayana dan Dewa Ruci, yang ia sebut sebagai kisah eksistensialis versi Jawa tentang pencarian jati diri.
Ketika hendak mementaskan karya Kafka di Eropa, ia mengumpulkan berbagai referensi dari banyak sumber, termasuk YouTube, lalu menyusunnya kembali dalam bahasa Jerman.
Proses penerjemahan justru memberinya pengalaman penting. Ia pernah bertanya kepada gurunya di Swiss tentang cara terbaik menerjemahkan karya sastra. Jawaban gurunya singkat: translator is the best reader.
Menurutnya, seorang penerjemah harus mencari berbagai padanan untuk satu kata saja. Proses itu membuat teks akhirnya melekat di ingatan.
Dalam pementasan, ia berusaha mempertahankan dialog yang ada di teks. Namun improvisasi tetap mungkin terjadi. Kata “mempunyai” misalnya, bisa diganti dengan “memiliki” tanpa mengubah maknanya.
Ia juga percaya bahwa unsur lokal boleh disisipkan dalam pementasan. Saat tampil di Lombok, misalnya, ia menyelipkan diksi seperti “tabeq” dan “innalillahi”, yang tentu saja tidak ada dalam teks asli.
Sebagai pembanding, ia menyinggung novel Death on the Nile karya Agatha Christie. Saat membaca novel itu sambil berkunjung ke Sungai Nil, ia menyadari tidak ada satu pun diksi Arab di dalamnya, meskipun latarnya di Mesir.
Karakter-karakternya pun seluruhnya menggunakan nama Barat.
Menurut Sigit, hal itu menunjukkan bagaimana sastra populer sering tampil universal. Namun bagi penulis atau pengadaptasi karya di daerah, menyisipkan unsur lokal justru bisa menjadi kekuatan.
“Tidak perlu takut. Kalau ada kata yang tidak dikenal, orang sekarang bisa mencarinya di Google,” katanya.
Menjaga Jiwa Cerita
Penanya ketiga, Icha, mengangkat persoalan yang lebih mendalam. Ia menanyakan bagaimana menjaga pesan utama novel ketika naskah setebal 80 halaman harus dipadatkan menjadi delapan halaman untuk pementasan wayang.
Bagi Sigit, jawabannya kembali pada pemahaman terhadap pengarang.
Ia menekankan pentingnya membaca biografi Kafka. Menurutnya, Kafka adalah pribadi melankolis dan pemalu, dan suasana dalam Metamorfosis penuh tekanan serta kesedihan.
“Di dalam cerita itu tidak ada kegembiraan,” ujarnya.
Pemahaman itu bahkan memengaruhi bentuk wayang yang dibuat. Ia pernah memesan wayang tokoh Gregor, tetapi ukurannya terlalu kecil karena pembuatnya tidak memahami bahwa Gregor yang berubah menjadi serangga tetap memiliki ukuran tubuh manusia.
Ia juga pernah menemukan bentuk wajah Gregor yang tampak ceria, padahal seharusnya auranya muram seperti dalam teks.
Karena itu, menurutnya, adaptasi bukan sekadar memindahkan cerita dari halaman ke panggung. Ia membutuhkan pemahaman mendalam terhadap pengarang, latar sosial, dan dunia yang melahirkan cerita tersebut.
Jika seseorang ingin mengadaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk, misalnya, ia harus memahami kehidupan Ahmad Tohari sebagai pengarang sekaligus mengenal budaya ronggeng dan situasi daerahnya.
Metamorfosis yang Sesungguhnya
Dialog setelah pementasan itu memperlihatkan satu hal penting: metamorfosis tidak hanya terjadi pada tokoh Gregor Samsa dalam cerita Kafka.
Metamorfosis juga terjadi dalam cara kesenian tradisi menemukan bentuk baru.
Tanpa kelir, tanpa perlengkapan mewah, dan bahkan dengan kaleng bekas sebagai alat musik, pertunjukan wayang tetap hidup.
Di tangan Sigit Susanto, kesenian tradisi membuktikan bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari kelengkapan, melainkan dari keberanian untuk memulai. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































