CERAKEN.ID — “Selamat Ulang Tahun Pegadaian ke-125. Semoga Pegadaian semakin jaya, karyawan sejahtera, makmur masyarakatnya,” ujar Ni Putu Erni Wijayanthi, Rabu, 1 April 2026.
Ucapan itu tidak sekadar seremoni. Di Kabupaten Bangli, satu-satunya wilayah di Bali yang tidak memiliki garis pantai, perayaan ulang tahun Pegadaian justru mencerminkan transformasi nyata lembaga keuangan tradisional menjadi motor penggerak ekonomi lokal berbasis komunitas.
Terletak di jantung Pulau Bali, Bangli dikenal dengan lanskap pegunungan yang sejuk. Ikon wisata seperti Danau Batur dan Gunung Batur di kawasan Kintamani, serta Desa Panglipuran, menjadikan wilayah ini magnet wisata alam dan budaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun di balik pesonanya, Bangli tetap bertumpu pada sektor pertanian dan hortikultura, dari jeruk siam hingga cabai dan bawang merah, yang membutuhkan dukungan pembiayaan fleksibel dan inklusif.
Di sinilah peran Pegadaian menemukan relevansinya. Cabang Bangli mencatat kinerja impresif dengan pertumbuhan Outstanding Loan (OSL) sebesar 21,89 persen secara year to date, mencapai Rp304 miliar. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap akses pembiayaan yang cepat, aman, dan terjangkau.
Strategi yang dijalankan pun menunjukkan adaptasi terhadap dinamika zaman. Pada lini bisnis inti, Pegadaian tetap mengandalkan gadai sebagai tulang punggung, namun dengan pendekatan lebih proaktif, “jemput bola” ke nasabah, pemetaan potensi bulanan, hingga kunjungan langsung ke pasar dan pelaku UMKM.
Langkah ini menegaskan bahwa layanan keuangan tidak lagi menunggu, melainkan hadir di tengah aktivitas ekonomi masyarakat.
Transformasi juga tampak pada digitalisasi layanan melalui aplikasi Tring. Seluruh nasabah didorong untuk mengaktifkan platform ini, didampingi edukasi langsung di outlet.

Digitalisasi bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga upaya membangun literasi keuangan di daerah yang secara geografis berada di dataran tinggi dan relatif jauh dari pusat urban.
Di sisi lain, ekspansi dilakukan melalui akuisisi nasabah baru dengan menggandeng pasar tradisional, koperasi, hingga instansi lokal. Kegiatan literasi keuangan dan pembukaan booth promosi menjadi jembatan antara lembaga keuangan dan masyarakat akar rumput.
Produk berbasis emas menjadi strategi menarik lainnya. Melalui program tabungan emas, cicilan emas, hingga arisan emas dengan kampanye “Investasi mulai 10 ribu”, Pegadaian mencoba mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar meminjam menjadi berinvestasi.
Pendekatan ini relevan bagi masyarakat Bangli yang memiliki tradisi menabung dalam bentuk aset riil.
Namun ekspansi bisnis tetap diimbangi dengan kehati-hatian. Pengendalian Loan at Risk (LAR) dan Non-Performing Loan (NPL) dilakukan melalui monitoring ketat di setiap outlet, analisa agunan yang lebih selektif, serta edukasi berkelanjutan kepada nasabah.
Prinsip kehati-hatian ini menjadi fondasi agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan.
Di usia ke-125, Pegadaian tidak lagi sekadar identik dengan gadai barang berharga. Di Bangli, ia menjelma menjadi mitra ekonomi masyarakat dataran tinggi, menghubungkan tradisi dengan inovasi, serta kebutuhan mendesak dengan perencanaan masa depan.
Perayaan ulang tahun ini pun menjadi refleksi: bahwa keberhasilan lembaga keuangan bukan hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi dari seberapa jauh ia mampu hadir, memahami, dan tumbuh bersama masyarakat yang dilayaninya.
Di tengah kesejukan pegunungan Bangli, transformasi itu berlangsung, perlahan namun pasti.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































