CERAKEN.ID — Di tengah geliat seni rupa lokal yang terus menemukan bentuknya, perupa muda Lalu Arief Budiman menghadirkan narasi sunyi namun menggugah melalui karya lukisnya dalam pameran bertajuk “Narratives”.
Pameran yang berlangsung di ruang pamer Rplay pada 17 Februari hingga 31 Maret 2025 ini diselenggarakan oleh Mandalika Art Community, menjadi ruang artikulasi gagasan para seniman tentang relasi manusia, alam, dan perubahan zaman.
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah lukisan berjudul “Last Song”. Karya ini menampilkan seekor burung kecial, sebutan lokal di Nusa Tenggara Barat untuk burung pleci atau burung kacamata, yang bertengger di ranting pohon.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Burung kecil dengan lingkar putih khas di sekitar mata dan bulu berwarna cerah kuning kehijauan itu hadir sebagai pusat perhatian di tengah latar yang kontras dan muram.
Namun keindahan itu tidak berdiri sendiri. Latar belakang lukisan didominasi warna-warna gelap seperti hitam, merah tua, dan ungu, diselingi sapuan biru, hijau, dan kuning yang tampak kaku, membentuk balok-balok warna.
Komposisi ini menghadirkan kesan potongan kayu yang patah, bahkan hangus terbakar—sebuah metafora visual tentang kerusakan lingkungan. Di sudut kanan bawah, daun-daun berguguran mempertegas suasana kehilangan dan kefanaan.

Melalui “Last Song”, Lalu Arief Budiman menyampaikan pesan ekologis yang kuat. Ia ingin mengingatkan bahwa keindahan alam dan keberadaan satwa eksotis dapat lenyap seketika jika manusia abai dalam menjaga dan melestarikannya.
Lukisan ini bukan sekadar representasi visual, melainkan seruan moral akan pentingnya kepedulian kolektif terhadap lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Dalam wawancara, Lalu Arief mengungkapkan bahwa karyanya berakar pada aliran realisme, meskipun tidak menutup kemungkinan eksplorasi ke arah dekoratif, surealisme, hingga abstrak. Baginya, pilihan tersebut adalah keputusan sadar yang telah diambil sejak awal perjalanan berkesenian.
Ketertarikan pada realisme membentuk konsistensi visualnya, meski tetap membuka ruang eksperimen.
Jejak artistiknya tidak lahir dari ruang hampa. Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia seni lukis melalui bimbingan sang ayah, Lalu Agus Nurdin, seorang pelukis, penulis, sekaligus guru.
Pengaruh sang ayah menjadi fondasi penting dalam pembentukan sensibilitas estetiknya. Selain melukis, almarhum juga dikenal pernah menyusun antologi puisi bersama sejumlah sastrawan dari Lombok dan Sumbawa Besar, memperlihatkan keluasan spektrum kesenian yang diwariskan kepada anaknya.
Kehadiran “Last Song” dalam pameran “Narratives” memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat menjadi medium refleksi ekologis yang subtil namun tajam. Dalam diamnya, lukisan itu seolah menyuarakan nyanyian terakhir dari alam yang terluka, sebuah peringatan bahwa tanpa kesadaran dan tindakan, keindahan yang kini kita nikmati bisa berubah menjadi kenangan. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































