“Last Song” dan Suara Sunyi dari Alam yang Terluka

Kamis, 2 April 2026 - 09:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Last Song karya Lalu Arief Budiman (Foto: aks/ceraken.id)

Last Song karya Lalu Arief Budiman (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah geliat seni rupa lokal yang terus menemukan bentuknya, perupa muda Lalu Arief Budiman menghadirkan narasi sunyi namun menggugah melalui karya lukisnya dalam pameran bertajuk “Narratives”.

Pameran yang berlangsung di ruang pamer Rplay pada 17 Februari hingga 31 Maret 2025 ini diselenggarakan oleh Mandalika Art Community, menjadi ruang artikulasi gagasan para seniman tentang relasi manusia, alam, dan perubahan zaman.

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah lukisan berjudul “Last Song”. Karya ini menampilkan seekor burung kecial, sebutan lokal di Nusa Tenggara Barat untuk burung pleci atau burung kacamata, yang bertengger di ranting pohon.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Burung kecil dengan lingkar putih khas di sekitar mata dan bulu berwarna cerah kuning kehijauan itu hadir sebagai pusat perhatian di tengah latar yang kontras dan muram.

Namun keindahan itu tidak berdiri sendiri. Latar belakang lukisan didominasi warna-warna gelap seperti hitam, merah tua, dan ungu, diselingi sapuan biru, hijau, dan kuning yang tampak kaku, membentuk balok-balok warna.

Baca Juga :  Merayakan Proses, Menyemai Masa Depan: Seni sebagai Jalan Menuju Generasi Emas

Komposisi ini menghadirkan kesan potongan kayu yang patah, bahkan hangus terbakar—sebuah metafora visual tentang kerusakan lingkungan. Di sudut kanan bawah, daun-daun berguguran mempertegas suasana kehilangan dan kefanaan.

Sebuah peringatan bahwa tanpa kesadaran dan tindakan, keindahan yang kini kita nikmati bisa berubah menjadi kenangan (Foto: ist/ceraken.id)

Melalui “Last Song”, Lalu Arief Budiman menyampaikan pesan ekologis yang kuat. Ia ingin mengingatkan bahwa keindahan alam dan keberadaan satwa eksotis dapat lenyap seketika jika manusia abai dalam menjaga dan melestarikannya.

Lukisan ini bukan sekadar representasi visual, melainkan seruan moral akan pentingnya kepedulian kolektif terhadap lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Dalam wawancara, Lalu Arief mengungkapkan bahwa karyanya berakar pada aliran realisme, meskipun tidak menutup kemungkinan eksplorasi ke arah dekoratif, surealisme, hingga abstrak. Baginya, pilihan tersebut adalah keputusan sadar yang telah diambil sejak awal perjalanan berkesenian.

Baca Juga :  Dari Pinggiran ke Panggung Budaya: “Suara Karya” Menegaskan Daya Hidup Kreativitas Pelajar

Ketertarikan pada realisme membentuk konsistensi visualnya, meski tetap membuka ruang eksperimen.

Jejak artistiknya tidak lahir dari ruang hampa. Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia seni lukis melalui bimbingan sang ayah, Lalu Agus Nurdin, seorang pelukis, penulis, sekaligus guru.

Pengaruh sang ayah menjadi fondasi penting dalam pembentukan sensibilitas estetiknya. Selain melukis, almarhum juga dikenal pernah menyusun antologi puisi bersama sejumlah sastrawan dari Lombok dan Sumbawa Besar, memperlihatkan keluasan spektrum kesenian yang diwariskan kepada anaknya.

Kehadiran “Last Song” dalam pameran “Narratives” memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat menjadi medium refleksi ekologis yang subtil namun tajam. Dalam diamnya, lukisan itu seolah menyuarakan nyanyian terakhir dari alam yang terluka, sebuah peringatan bahwa tanpa kesadaran dan tindakan, keindahan yang kini kita nikmati bisa berubah menjadi kenangan. (aks)

 

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna
Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar
“Suara Karya”: Ruang Belajar, Ruang Bicara Generasi Muda
Merayakan Proses, Menyemai Masa Depan: Seni sebagai Jalan Menuju Generasi Emas
Dari Pinggiran ke Panggung Budaya: “Suara Karya” Menegaskan Daya Hidup Kreativitas Pelajar
Serpihan Surga dalam Arsip: Menyusun Mandalika dari Legenda hingga Lintasan Dunia
Resep Keadilan dari Ruang Baca: Ketika Seni, Riset, dan Suara Akar Rumput Bertemu di NTB
Jejak Ketidaksadaran dalam Wajah Budaya Lokal

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 20:28 WITA

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Jumat, 17 April 2026 - 20:27 WITA

Menjadi Teman, Menyalakan Perlawanan: Seni sebagai Jalan Pembebasan di SMAN 1 Lembar

Jumat, 17 April 2026 - 17:36 WITA

“Suara Karya”: Ruang Belajar, Ruang Bicara Generasi Muda

Jumat, 17 April 2026 - 13:46 WITA

Merayakan Proses, Menyemai Masa Depan: Seni sebagai Jalan Menuju Generasi Emas

Jumat, 17 April 2026 - 12:06 WITA

Dari Pinggiran ke Panggung Budaya: “Suara Karya” Menegaskan Daya Hidup Kreativitas Pelajar

Berita Terbaru

Langkah ini bukan sekadar respons jangka pendek terhadap keterbatasan anggaran. Ia mencerminkan upaya untuk membangun fondasi keuangan yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Melampaui Batas Fiskal: Mataram dan Jalan Baru Pembiayaan Daerah

Kamis, 23 Apr 2026 - 13:10 WITA

SOSIAL EKONOMI

ITDC Dukung Media Gathering JMSI NTB di Kawasan Mandalika

Rabu, 22 Apr 2026 - 10:43 WITA