CERAKEN.ID — Perayaan hari lahir Pegadaian yang ke-125 pada 1 April 2026 tidak sekadar menjadi penanda usia panjang sebuah badan usaha milik negara. Di tangan para pemimpinnya di daerah, momentum ini dimaknai sebagai refleksi sekaligus arah baru tentang bagaimana lembaga keuangan hadir lebih dekat dan relevan bagi masyarakat.
Bagi Pemimpin Cabang Metro, Provinsi Lampung, Indah Nurullia, makna tersebut dirumuskan dalam satu kata kunci: kebermanfaatan.
“Makna HUT Pegadaian menurut saya saat ini adalah bagaimana menebarkan kebermanfaatan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya saat dihubungi, Kamis (2/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan itu menegaskan bahwa orientasi lembaga tidak berhenti pada capaian finansial, tetapi juga pada dampak sosial yang lebih luas.
Dalam pandangan Indah, kebermanfaatan itu hadir dalam berbagai bentuk konkret. Mulai dari akses investasi emas yang semakin inklusif, hingga kemampuan masyarakat dalam mengelola aset menjadi modal usaha atau memenuhi kebutuhan prioritas.
Pegadaian, dalam hal ini, berfungsi sebagai jembatan antara potensi ekonomi masyarakat dengan peluang pengembangannya.
Namun, di balik layanan dan produk, Indah menekankan bahwa ruh utama Pegadaian tetap terletak pada manusia yang menjalankannya. Ia menggarisbawahi pentingnya pelayanan yang tulus, sebuah pendekatan yang melampaui sekadar pencapaian target.
“Bekerja bukan semata-mata untuk orientasi keuntungan materi, tapi karena kebermanfaatan bagi masyarakat,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menafikan bahwa target dan profit tetap menjadi bagian mutlak dari sebuah badan usaha. Keseimbangan antara kinerja bisnis dan nilai kemanusiaan itulah yang menjadi fondasi.
Prinsip tersebut tercermin dalam capaian kinerja Cabang Metro hingga akhir Maret 2026. Cabang ini berhasil menempati peringkat pertama capaian KPI (Key Performance Indicator) bulanan se-Kanwil Palembang dengan nilai 114,22 poin. Sementara untuk capaian tahunan, posisi kedua diraih dengan nilai 83,90 poin, meski belum memasukkan data laba bulan Maret.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kebermanfaatan tidak menghambat performa, justru memperkuatnya.
Di balik capaian itu, terdapat strategi kepemimpinan yang terstruktur namun tetap humanis. Indah menerapkan monitoring dan evaluasi harian terhadap kinerja, memastikan setiap data yang diterima menjadi bahan refleksi bersama tim.
Ia juga aktif menggali kebutuhan anggota tim, baik untuk diselesaikan di tingkat cabang maupun dieskalasi ke level yang lebih tinggi.
Yang menarik, kepemimpinan Indah tidak dibangun dalam jarak hierarkis yang kaku. Ia memposisikan diri sebagai bagian dari tim, bukan sekadar atasan.
Hubungan yang dibangun didasarkan pada saling menghargai dan komunikasi terbuka.
Seluruh personel, termasuk peserta magang, diberdayakan dengan pendekatan edukatif, memastikan setiap individu memahami tujuan dan manfaat dari setiap langkah kerja.
“Jika tim saya sudah pintar, maka mereka juga bisa mencerdaskan nasabah,” ujarnya.
Pernyataan ini mencerminkan filosofi berlapis: peningkatan kapasitas internal akan berdampak langsung pada kualitas layanan eksternal.
Selain itu, suasana kerja yang “enjoy dan bahagia” juga menjadi bagian dari strategi. Bagi Indah, kinerja optimal tidak lahir dari tekanan semata, tetapi dari rasa memiliki dan kenyamanan dalam bekerja.
Upaya tersebut dilengkapi dengan nilai spiritualitas yang kuat, doa dan keyakinan bahwa setiap usaha akan berbuah berkah.
Di luar internal organisasi, Cabang Metro juga aktif menjalin silaturahmi dengan berbagai pihak, mulai dari instansi hingga jaringan eksternal lainnya. Pendekatan ini memperluas jangkauan sekaligus memperkuat kepercayaan publik.
Semua ikhtiar itu berlangsung di Kota Metro, sebuah kota yang dikenal sebagai “Kota Pendidikan” dan “Bumi Sai Wawai”.
Dengan karakter sebagai pusat pendidikan dan perdagangan, serta biaya hidup yang relatif rendah, Metro menjadi ruang strategis bagi pengembangan layanan keuangan berbasis masyarakat. Dinamika kota ini sejalan dengan semangat Pegadaian dalam mendorong inklusi ekonomi.
Pada akhirnya, peringatan 125 tahun Pegadaian tidak hanya menjadi seremoni institusional, tetapi juga momentum reflektif tentang arah masa depan. Melalui perspektif Indah Nurullia, terlihat bahwa kekuatan Pegadaian tidak hanya terletak pada sistem dan produk, tetapi pada nilai-nilai yang dihidupi oleh para insan di dalamnya.
Ketika kebermanfaatan menjadi orientasi utama, maka keberhasilan bukan lagi sekadar angka, melainkan sejauh mana lembaga mampu hadir dan memberi arti bagi kehidupan masyarakat. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































