Halalbihalal KPP NTB: Menjahit Silaturahmi, Merawat Makna Pasca-Ramadan

Minggu, 19 April 2026 - 20:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Halalbihalal KPP NTB. Nilai-nilai itu kembali diteguhkan, dirajut dalam silaturahmi, disemai dalam keikhlasan, dan diharapkan tumbuh menjadi kebahagiaan yang berkelanjutan (Foto: ist/ceraken.id)

Halalbihalal KPP NTB. Nilai-nilai itu kembali diteguhkan, dirajut dalam silaturahmi, disemai dalam keikhlasan, dan diharapkan tumbuh menjadi kebahagiaan yang berkelanjutan (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram—Suasana hangat dan penuh keakraban terasa dalam pertemuan Kerukunan Pensiun Pegadaian (KPP) Korwil NTB yang digelar pada Minggu, 19 April 2026. Bersama PT Pegadaian Area Ampenan, kegiatan Halalbihalal Idul Fitri 1447 H mengusung tema “Rajut Silaturahmi, Sehat dan Bahagia Selamanya”.

Bukan sekadar pertemuan rutin, acara ini menjadi ruang temu lintas generasi, para purnabakti dan insan Pegadaian aktif, yang disatukan oleh kenangan pengabdian dan nilai kekeluargaan yang terus dijaga.

Sejak awal kegiatan, nuansa kekhidmatan berpadu dengan kehangatan. Saling sapa, jabat tangan, dan senyum yang merekah menjadi penanda bahwa halalbihalal bukan hanya tradisi, melainkan kebutuhan sosial yang mengakar kuat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah dinamika kehidupan yang terus berubah, ruang-ruang seperti ini menjadi penyangga hubungan kemanusiaan, tempat orang kembali saling mengenal, mengingat, dan menguatkan.

Silaturahmi yang Menyatukan Generasi dan Pengabdian

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pimpinan dan keluarga besar Pegadaian, mulai dari perwakilan Kantor Wilayah Denpasar hingga cabang-cabang di Area Ampenan, termasuk anggota KPP dari berbagai wilayah di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kehadiran mereka mempertegas bahwa ikatan yang dibangun selama masa pengabdian tidak berhenti saat masa kerja usai, melainkan terus hidup dalam wadah kerukunan.

Momentum ini sekaligus menjadi refleksi kolektif bahwa nilai kebersamaan tidak lekang oleh waktu. Dalam suasana Idul Fitri, halalbihalal menjadi medium untuk menyambung kembali simpul-simpul hubungan yang mungkin sempat renggang, sekaligus memperkuat fondasi persaudaraan yang telah lama terjalin.

Dalam tausiah yang disampaikan oleh TGH Husnul Hadi, makna halalbihalal dipaparkan dengan pendekatan yang sederhana namun menyentuh sisi terdalam kehidupan beriman. Ia menegaskan bahwa saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual seorang hamba.

Menurutnya, ibadah puasa Ramadan membawa manusia kembali pada fitrahnya, bersih dari dosa, sebagaimana bayi yang baru dilahirkan. Namun, kesempurnaan itu tidak hanya terletak pada hubungan dengan Allah (haqqullah), melainkan juga pada hubungan antar sesama manusia.

Baca Juga :  Menjaga Nyala Pembangunan di Tengah Surutnya Transfer Pusat

Di sinilah pentingnya saling memaafkan. Dalam kehidupan sosial, termasuk di lingkungan Pegadaian, interaksi yang intens tidak luput dari kekhilafan, baik disengaja maupun tidak. Kesalahan kecil, ucapan yang kurang tepat, hingga hal-hal yang mungkin tak disadari, dapat meninggalkan jejak dalam hubungan antarmanusia.

“Hari ini kita lepas semua kesalahan itu,” menjadi inti pesan yang disampaikan. Sebab, menurutnya, orang yang paling mulia adalah mereka yang mampu memaafkan. Dalam perspektif keimanan, memaafkan bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga jalan menuju ampunan dan surga.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa menjaga silaturahmi memiliki dimensi keberkahan yang luas. Rezeki yang dilapangkan, umur yang dipanjangkan, serta kemudahan dalam menghadapi kesulitan merupakan janji spiritual bagi mereka yang merawat hubungan antarsesama.

Hikmah Memaafkan: Jalan Menuju Keberkahan Hidup
Mochamad Sifak (kiri atas), Muhammad Efendi (kanan atas), TGH Husnul Hadi (bawah). Untuk mencapai tujuan, seseorang harus memantaskan diri terlebih dahulu (Foto: aks/ceraken.id)

Sementara itu, mewakili Pimpinan Wilayah Denpasar, Deputi Bisnis Area Ampenan Muhammad Efendi menyampaikan rasa bangga dapat bertemu langsung dengan para anggota KPP NTB. Ia menilai pertemuan ini sebagai bagian dari harapan yang terwujud, bahwa kebersamaan tetap terjaga dalam keadaan sehat dan penuh kebahagiaan.

Dalam refleksinya, ia mengaitkan halalbihalal sebagai kelanjutan dari proses spiritual selama Ramadan. Ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” tidak hanya menjadi formalitas, tetapi doa yang sarat makna, harapan agar seluruh amal ibadah diterima oleh Allah SWT.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa tujuan utama Ramadan adalah mencapai derajat takwa (tattaqun). Pertanyaannya kemudian, bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Ia memberikan ilustrasi sederhana namun kuat: kejujuran dalam ibadah. Dalam salat, seseorang tidak mungkin mengurangi rakaat karena sadar bahwa ibadah tersebut diawasi oleh Allah. Jika nilai kejujuran, kedisiplinan, dan kesadaran itu dibawa keluar dari ruang ibadah, maka ia akan menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar.

Pandangan ini menegaskan bahwa keberhasilan ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dalam perilaku sosial. Nilai-nilai yang dipelajari selama Ramadan; kesabaran, keikhlasan, empati, harus terus hidup dalam keseharian.

Ia juga mengutip pandangan ulama bahwa untuk mencapai tujuan, seseorang harus memantaskan diri terlebih dahulu. Dalam konteks haji, misalnya, predikat mabrur tidak hanya ditentukan oleh kemampuan finansial, tetapi oleh kesiapan spiritual; ditandai dengan sikap suka memberi, menghadirkan kedamaian, dan membawa kenyamanan bagi orang lain.

Baca Juga :  Praya, Denyut Tengah Lombok dan Makna Kedewasaan Bisnis di Usia 125 Tahun Pegadaian
Dari Ramadan Menuju Taqwa: Merawat Nilai dalam Kehidupan Nyata

Ketua KPP Korwil NTB, Mochamad Sifak, dalam sambutannya menegaskan bahwa halalbihalal merupakan momentum berharga untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat rasa persaudaraan. Ia mengajak seluruh anggota untuk membuka hati, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.

Dalam kehidupan bermasyarakat, menurutnya, kesalahan adalah keniscayaan. Oleh karena itu, dibutuhkan kebesaran hati untuk mengakui, memaafkan, dan melangkah maju dengan hubungan yang lebih baik. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas nama pribadi dan pengurus, serta apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya acara.

Halalbihalal sendiri merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak ditemukan dalam praktik budaya Arab, meskipun menggunakan istilah berbahasa Arab. Secara historis, istilah ini populer sejak 1948, diprakarsai oleh Abdul Wahab Hasbullah sebagai sarana rekonsiliasi nasional.

Dalam perkembangannya, halalbihalal menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Ia tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga medium untuk memperkuat ukhuwah, baik dalam lingkup keluarga, pekerjaan, maupun komunitas sosial.

Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap relevan karena mengandung nilai universal: kedamaian, toleransi, dan kasih sayang. Dalam konteks KPP NTB, halalbihalal menjadi ruang untuk merawat memori kolektif sekaligus memperkuat solidaritas di antara para anggotanya.

Pada akhirnya, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa hubungan antarmanusia perlu dirawat dengan kesadaran dan keikhlasan. Bahwa memaafkan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Dan bahwa kebersamaan adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Di Mataram, melalui halalbihalal ini, nilai-nilai itu kembali diteguhkan, dirajut dalam silaturahmi, disemai dalam keikhlasan, dan diharapkan tumbuh menjadi kebahagiaan yang berkelanjutan. (aks)

Berita Terkait

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail
Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting
Pegadaian 125 Tahun: Menjaga Kinerja, Menguatkan Akar di Bali
Juleha NTB Diminta Siapkan Panduan Halal untuk RPH dan Masjid
Meneguhkan Layanan, MengEmaskan Masa Depan: Kiprah Pegadaian Area Dompu di Usia 125 Tahun
ASEAN Menjaga Arah di Tengah Ketidakpastian Global
Menjaga Rupiah di Tengah Badai Global
Renteng: Nadi Ekonomi Praya dan Wajah Baru Layanan Keuangan Berbasis Syariah

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 20:20 WITA

Halalbihalal KPP NTB: Menjahit Silaturahmi, Merawat Makna Pasca-Ramadan

Sabtu, 18 April 2026 - 15:46 WITA

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 April 2026 - 10:32 WITA

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Kamis, 16 April 2026 - 22:39 WITA

Pegadaian 125 Tahun: Menjaga Kinerja, Menguatkan Akar di Bali

Kamis, 16 April 2026 - 14:04 WITA

Juleha NTB Diminta Siapkan Panduan Halal untuk RPH dan Masjid

Berita Terbaru

Halalbihalal KPP NTB. Nilai-nilai itu kembali diteguhkan, dirajut dalam silaturahmi, disemai dalam keikhlasan, dan diharapkan tumbuh menjadi kebahagiaan yang berkelanjutan (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Halalbihalal KPP NTB: Menjahit Silaturahmi, Merawat Makna Pasca-Ramadan

Minggu, 19 Apr 2026 - 20:20 WITA

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA