CERAKEN.ID — Lorong sekolah selama ini sering dianggap sekadar ruang penghubung antarkelas, tempat murid berlalu-lalang menunggu jam pelajaran dimulai, atau ruang singgah sebelum kembali pulang. Namun di tangan peserta didik SMAN 8 Mataram, lorong menjelma menjadi metafora besar tentang perjalanan manusia dalam pendidikan.
Melalui Pameran Seni bertema “Lorong Pendidikan” yang mulai digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026, para siswa menghadirkan sebuah refleksi mendalam bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar secara akademik, melainkan ruang pembentukan karakter, ruang perjumpaan sosial, dan ruang perjalanan hidup yang tidak pernah benar-benar selesai.
Pameran ini menjadi bagian dari denyut kreativitas sekolah yang terus tumbuh. Tidak hanya menampilkan karya seni rupa semata, “Lorong Pendidikan” juga menjadi medium bagi peserta didik untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, dan kegelisahan mereka tentang dunia pendidikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap karya menghadirkan sudut pandang berbeda tentang sekolah sebagai ruang tumbuh manusia. Ada yang menyoroti hubungan antara guru dan murid, ada yang menggambarkan tekanan belajar, ada pula yang menampilkan harapan-harapan kecil yang lahir dari bangku sekolah.
Di balik penyelenggaraan pameran ini, terdapat sebelas peserta didik yang bekerja sebagai panitia inti.
Mereka adalah Nadila selaku ketua, Davina Apriliani Putri sebagai wakil ketua, Ulan Cahaya dan Aluna Haura Khansa sebagai sekretaris, Alif Abdullah dan Keysha Almira Prasyandari sebagai bendahara, Indah Herfia Juniarti dan Anisa Almagfira pada bagian penyeleksi dan pengumpulan karya, Aurelya Surya Putri sebagai desainer katalog, serta Lalu Gede Alif Wiguna dan Tira Arisandi yang bertugas sebagai fotografer.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pendidikan seni di sekolah tidak hanya menghasilkan karya visual, tetapi juga melatih kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kegiatan secara kolektif.
Lorong sebagai Metafora Perjalanan Manusia
Tema “Lorong Pendidikan” lahir dari pengamatan sederhana terhadap kehidupan sehari-hari di sekolah. Lorong adalah ruang yang paling sering dilalui murid.
Di tempat itu mereka berjalan menuju kelas, menunggu bel berbunyi, berbincang dengan teman, menempel majalah dinding, atau sekadar berdiam diri setelah pelajaran selesai. Lorong menjadi saksi bisu berbagai peristiwa kecil yang perlahan membentuk pengalaman masa remaja.
Namun ketika ditarik ke dalam makna yang lebih filosofis, lorong ternyata menyimpan tafsir yang jauh lebih dalam. Pendidikan dipandang sebagai perjalanan panjang manusia sejak lahir hingga dewasa. Ada fase terang, ada pula fase remang-remang yang dipenuhi kebingungan dan kegagalan. Semua pengalaman itu menjadi bagian dari proses pembentukan diri.
Di dalam katalog pameran yang disusun para peserta didik, dijelaskan bahwa lorong tidak pernah menjadi tujuan akhir. Lorong hanyalah ruang perlintasan menuju fase kehidupan berikutnya.
Manusia berjalan di dalamnya tanpa benar-benar mengetahui seperti apa ujung perjalanan yang akan ditemui. Namun setiap langkah yang diambil di dalam lorong itulah yang menentukan masa depan seseorang.
Pemaknaan itu terasa relevan dengan realitas pendidikan saat ini. Banyak peserta didik tumbuh dalam tekanan pencapaian akademik, persaingan nilai, dan tuntutan masa depan yang belum pasti.

Dalam situasi demikian, “Lorong Pendidikan” menghadirkan pesan bahwa proses belajar tidak selalu lurus dan sempurna. Kadang seseorang harus berhenti, tersesat, bahkan berputar arah sebelum akhirnya menemukan tujuan hidupnya.
Lorong dalam pameran ini juga digambarkan memiliki bagian gelap dan terang. Ada sudut yang terkena cahaya jendela, ada pula bagian yang remang-remang. Gambaran itu menjadi simbol perjalanan belajar manusia yang tidak selalu mudah.
Dalam pendidikan, seseorang bisa mengalami keberhasilan sekaligus kegagalan. Akan tetapi, semua pengalaman tersebut justru membentuk ketangguhan dan kedewasaan.
Kepala Sekolah Sunoto menilai bahwa karya-karya yang dipamerkan menunjukkan proses tumbuh para peserta didik dalam memahami kehidupan sosial di sekolah.
“Dalam lorong inilah nilai, kebiasaan, dan kebersamaan tumbuh serta menjadi bagian dari kehidupan belajar sehari-hari,” tulis Sunoto dalam katalog pameran.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya perkara transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah proses membangun nilai, membentuk cara berpikir, serta menanamkan kebiasaan hidup bersama dalam lingkungan sosial yang beragam.
Ruang Interaksi Tanpa Sekat
Salah satu gagasan menarik yang diangkat dalam pameran ini adalah pandangan bahwa lorong sekolah merupakan ruang interaksi tanpa sekat. Di lorong, semua identitas sosial melebur.
Anak OSIS, anggota Pramuka, PMR, murid pendiam, guru, hingga pegawai sekolah bertemu dalam jalur yang sama. Tidak ada ruang eksklusif yang membatasi siapa pun.
Di tempat itulah budaya sekolah tumbuh secara alami. Majalah dinding ditempel di sepanjang lorong, percakapan antar teman berlangsung tanpa formalitas, rencana belajar kelompok dibicarakan, bahkan gosip dan candaan remaja ikut beredar.
Semua dinamika itu membentuk kehidupan sosial yang tidak tertulis, tetapi nyata dirasakan setiap hari.
Lorong akhirnya menjadi semacam “alun-alun mini” di lingkungan sekolah. Ia menjadi ruang tempat nilai, norma, dan kebiasaan diwariskan dari satu generasi murid ke generasi berikutnya. Dari lorong pula tumbuh rasa memiliki terhadap sekolah.
Kesadaran akan pentingnya ruang sosial semacam itu tampaknya dipahami dengan baik oleh SMAN 8 Mataram.
Sekolah tersebut berupaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman melalui taman yang asri, tulisan-tulisan motivasi, serta kebersihan lingkungan yang dijaga bersama. Upaya itu selaras dengan misi sekolah untuk menghadirkan lingkungan yang bersih, aman, damai, harmonis, dan mampu menggairahkan semangat belajar peserta didik.

Lebih jauh lagi, misi sekolah juga menekankan pentingnya pengembangan budaya membaca, menulis, berhitung, serta pembelajaran kreatif dan inovatif yang mampu bersaing secara global.
Dalam konteks itulah pameran seni seperti “Lorong Pendidikan” menjadi penting. Seni memberi ruang bagi peserta didik untuk berpikir kritis, menyampaikan gagasan, dan memahami realitas sosial melalui pendekatan kreatif.
Di tengah dunia pendidikan yang sering kali terlalu berorientasi pada angka dan hasil ujian, kehadiran pameran ini menjadi pengingat bahwa kreativitas dan kepekaan sosial juga merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
Pendidikan sebagai Proses yang Tidak Pernah Selesai
Pameran “Lorong Pendidikan” pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang seni rupa, melainkan tentang cara memandang pendidikan itu sendiri. Pendidikan digambarkan sebagai perjalanan panjang yang terus berlangsung sepanjang hidup manusia. Ia tidak berhenti ketika seseorang lulus sekolah atau memperoleh pekerjaan.
Dalam lorong kehidupan itu, manusia akan terus belajar memahami dirinya sendiri, memahami orang lain, dan memahami masyarakat tempat ia hidup. Karena itulah lorong digambarkan panjang dan berkelok.
Tidak semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama. Tidak semua orang menemukan pintu keluar dalam waktu yang cepat. Akan tetapi, setiap langkah tetap memiliki makna.
Guru Pembina Seni Budaya I Nyoman Sandiya menjelaskan bahwa konsep “Lorong Pendidikan” lahir dari keinginan menghadirkan ruang yang lebih cair dan komunikatif di lingkungan sekolah.
“Pameran ‘Lorong Pendidikan’ ini adalah sebuah proses di mana setiap warga sekolah ketemu dalam suatu titik yang tidak formal sifatnya, tidak di dalam ruangan. Di sana juga akan muncul ide-ide yang bagus untuk perkembangan sekolah,” katanya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pendidikan yang sehat tidak hanya tumbuh di ruang kelas formal. Kadang gagasan terbaik justru lahir dari ruang-ruang sederhana tempat manusia saling berjumpa secara alami.
Lorong sekolah menjadi simbol bahwa pendidikan sejati sering kali hadir dalam percakapan kecil, pertemanan, kerja sama, dan pengalaman sehari-hari yang tampak biasa.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, sekolah memang dituntut tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu memahami kehidupan sosial, memiliki empati, serta sanggup berpikir kreatif. Pameran “Lorong Pendidikan” menunjukkan bahwa kesadaran itu sedang tumbuh di kalangan generasi muda.
Melalui karya seni, para peserta didik SMAN 8 Mataram seolah ingin mengatakan bahwa sekolah bukan sekadar bangunan tempat belajar, melainkan ruang perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih luas.
Dan seperti sebuah lorong panjang, pendidikan akan selalu membawa manusia berjalan, belajar, jatuh, bangkit, lalu melanjutkan langkah menuju masa depan yang belum sepenuhnya terlihat. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































