Menata NTB dari Akar: Ketahanan Pangan, Kemiskinan, dan Jalan Menuju Destinasi Dunia

- Penulis

Senin, 13 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Gubernur Iqbal menekankan bahwa perluasan lahan pertanian, khususnya jagung, tidak boleh mengorbankan kelestarian hutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

Gubernur Iqbal menekankan bahwa perluasan lahan pertanian, khususnya jagung, tidak boleh mengorbankan kelestarian hutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menapaki arah pembangunan yang terfokus dan strategis. Di bawah kepemimpinan Lalu Muhamad Iqbal, tiga agenda besar menjadi pijakan utama: penguatan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, serta transformasi NTB sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Di antara ketiganya, persoalan kemiskinan menjadi titik berangkat yang paling mendesak. Data menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Nusa Tenggara Barat masih berada di angka 12 persen, dengan sekitar 2 persen atau 114 ribu jiwa tergolong dalam kategori miskin ekstrem yang tersebar di 106 desa.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata tantangan yang harus segera diurai.

Kemiskinan Merupakan Akar

Dalam audiensi bersama tim Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) Serdik Sespimti Polri di ruang kerjanya, Senin (13/4), Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal menegaskan bahwa kemiskinan merupakan akar dari berbagai persoalan pembangunan di daerah. Karena itu, solusi yang ditempuh tidak bisa parsial.

“Sekitar 60 persen masyarakat kita adalah petani. Maka penguatan sektor pertanian menjadi kunci utama, termasuk melalui program desa berdaya,” ujarnya.

Langkah ini bukan tanpa dasar. NTB saat ini tercatat sebagai salah satu produsen jagung terbesar di Indonesia, sementara produksi berasnya juga masuk dalam 10 besar nasional.

Potensi ini menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Upaya konkret pun terus dilakukan. Revitalisasi sistem irigasi menjadi salah satu fokus, termasuk melalui program optimalisasi lahan (Oplah).

Hasilnya, sekitar 14 ribu hektare lahan kini telah mendapatkan pengairan yang memadai, memungkinkan petani melakukan panen hingga tiga sampai empat kali dalam setahun.

Namun, ambisi meningkatkan produksi tidak dilepaskan dari tanggung jawab menjaga lingkungan.

Gubernur Iqbal menekankan bahwa perluasan lahan pertanian, khususnya jagung, tidak boleh mengorbankan kelestarian hutan. Sebagai solusi, pemerintah mendorong penerapan sistem tumpang sari.

“Lahan yang belum ditanami jagung diarahkan untuk ditanami pohon penopang seperti tanaman buah, agar struktur tanah dan ekosistem tetap terjaga,” jelasnya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan yang dirancang tidak semata mengejar angka produksi, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang.

Di sisi lain, langkah strategis juga diarahkan pada hilirisasi atau industrialisasi sektor pertanian. Sebagai produsen besar, NTB tidak ingin hanya menjadi pemasok bahan mentah.

Nilai tambah harus dirasakan langsung oleh masyarakat. Untuk itu, Pemprov NTB telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dengan nilai investasi mencapai Rp1,3 triliun.

Kerja sama ini mencakup pengembangan industri jagung, termasuk sektor pangan dan pakan, yang diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Tak hanya bertumpu pada sektor pertanian, NTB juga terus mengakselerasi pengembangan pariwisata. Targetnya jelas: menjadikan daerah ini sebagai destinasi wisata berkelas dunia.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Saat ini, tujuh destinasi telah memenuhi standar internasional, sementara tiga destinasi lainnya tengah dalam tahap pengembangan.

Langkah ini menegaskan bahwa pembangunan NTB bergerak dalam dua kaki, pertanian sebagai fondasi ekonomi rakyat, dan pariwisata sebagai mesin pertumbuhan baru.

Memperkuat Sinergi

Sementara itu, kehadiran tim PKDN Serdik Sespimti Polri menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pusat dan daerah. Perwakilan tim, Agus Djaka Santoso, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan menggali potensi daerah dalam mendukung kebijakan nasional, khususnya ketahanan pangan menuju Indonesia Emas.

“Kami ingin melihat langsung potensi serta strategi pembangunan daerah, terutama di sektor pangan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan yang melibatkan 57 peserta didik ini diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Pada akhirnya, arah pembangunan NTB hari ini menunjukkan satu hal: bahwa perubahan tidak hanya dibangun dari proyek-proyek besar, tetapi dari keberanian menyentuh akar persoalan. Ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan penguatan pariwisata bukanlah agenda yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan strategi menuju masa depan yang lebih inklusif.

Di tengah tantangan yang ada, langkah ini menjadi penanda bahwa NTB sedang menata dirinya; dari desa, dari lahan, dan dari harapan masyarakatnya sendiri. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: ntbprov.go.id

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA