Ogoh-Ogoh, Ramadan, dan Simfoni Toleransi dari Mataram

Kamis, 19 Maret 2026 - 02:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ogoh-ogoh itu akan dilebur, sebagaimana tradisinya. Namun pesan yang dibawanya tidak ikut hilang (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

Ogoh-ogoh itu akan dilebur, sebagaimana tradisinya. Namun pesan yang dibawanya tidak ikut hilang (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di jantung Kota Mataram, ribuan langkah menyatu dalam irama yang sama. Pawai ogoh-ogoh kembali digelar, bukan sekadar sebagai ritual menjelang Nyepi, tetapi sebagai peristiwa sosial yang memancarkan makna lebih luas: tentang bagaimana keberagaman tidak hanya hidup, tetapi dirawat dengan kesadaran kolektif.

Tahun ini, perayaan terasa istimewa. Nyepi yang sakral bagi umat Hindu hadir berdekatan dengan bulan suci Ramadan bagi umat Islam.

Dua tradisi spiritual yang berbeda, namun bertemu dalam satu simpul nilai: penyucian diri. Di ruang inilah, Nusa Tenggara Barat menunjukkan wajahnya yang paling autentik, bukan sekadar plural, tetapi matang dalam mengelola perbedaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pawai ogoh-ogoh yang melibatkan ribuan umat Hindu Dharma itu menjadi panggung ekspresi budaya yang penuh daya hidup. Setiap ogoh-ogoh bukan hanya karya visual, melainkan narasi simbolik tentang sifat-sifat manusia yang harus dilepaskan.

Ia adalah seni yang berpijak pada spiritualitas dan spiritualitas yang menjelma menjadi seni.

Di tengah keramaian itu, hadir Lalu Muhamad Iqbal bersama Ketua TP PKK NTB Hj. Sinta Agathia M Iqbal serta Mohan Roliskana. Namun kehadiran mereka bukan sekadar seremonial.

Setiap perayaan budaya dapat menjadi medium pendidikan sosial; mengajarkan nilai, memperkuat identitas, sekaligus membangun jembatan antar kelompok (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

Ia menjadi simbol bahwa negara, masyarakat, dan kebudayaan berjalan dalam satu tarikan napas.

Iqbal tidak menyembunyikan kekagumannya. Ia melihat sesuatu yang lebih dari sekadar parade: kesungguhan. Baginya, tidak ada satu pun ogoh-ogoh yang dibuat asal-asalan.

Semua lahir dari proses panjang; perencanaan, kerja kolektif, hingga ketekunan para pembuatnya. Dalam setiap detail, tampak keseriusan umat Hindu Dharma dalam merawat tradisi sekaligus mengangkatnya ke tingkat estetika yang tinggi.

Baca Juga :  Menjaga Akurasi di Tengah Banjir Informasi Digital

Pernyataan itu mengandung pesan penting: bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang statis. Ia hidup, berkembang, dan menemukan bentuk-bentuk baru melalui tangan generasi yang terus berkreasi. Dan di Mataram, kreativitas itu tumbuh subur dalam iklim toleransi.

Lebih jauh, Gubernur Iqbal membaca momentum ini dalam perspektif yang lebih luas. Ketika sekitar 96 persen masyarakat NTB menjalankan ibadah Ramadan dan sekitar 3 persen merayakan rangkaian Nyepi, maka hampir seluruh masyarakat sedang berada dalam fase refleksi spiritual secara bersamaan.

Ia menyebutnya sebagai “berkah luar biasa”—sebuah kondisi langka di mana energi kolektif masyarakat diarahkan pada pemurnian diri.

Ketertiban bukan lagi hasil pengawasan semata, tetapi lahir dari kesadaran (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

Dalam konteks sosial, ini bukan sekadar angka statistik. Ia adalah fondasi bagi terciptanya ketenangan sosial.

Ketika sebagian besar masyarakat menahan diri, mengendalikan emosi, dan memperkuat nilai-nilai spiritual, maka ruang publik pun menjadi lebih damai. Ketertiban bukan lagi hasil pengawasan semata, tetapi lahir dari kesadaran.

Pawai ogoh-ogoh yang berlangsung tertib itu pun menjadi bukti konkret. Tidak ada gesekan, tidak ada gangguan berarti.

Yang ada justru saling menghormati: umat Muslim memberi ruang bagi saudara Hindu untuk merayakan tradisinya, sementara umat Hindu menjalankan ritual dengan penuh kesadaran akan konteks sosial di sekitarnya.

Di sinilah Mataram menawarkan pelajaran penting bagi dunia. Bahwa toleransi tidak cukup berhenti pada slogan atau seremoni formal. Ia harus hadir dalam praktik sehari-hari dalam cara masyarakat berbagi ruang, dalam cara tradisi dijalankan tanpa menegasikan yang lain.

Baca Juga :  Regenerasi Kepemimpinan MGPA dan Harapan Baru Sport Tourism Mandalika

Pernyataan Iqbal kepada media pun mengarah ke sana: bahwa apa yang terjadi di NTB adalah bukti nyata kedewasaan beragama. Toleransi di daerah ini bukan fenomena baru, melainkan hasil dari sejarah panjang interaksi lintas budaya dan agama yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Sejarah itu kini menemukan bentuk kontemporernya dalam peristiwa seperti pawai ogoh-ogoh ini. Tradisi lama yang terus hidup, namun dengan makna yang semakin relevan di tengah dunia modern yang kerap terfragmentasi.

Toleransi tidak cukup berhenti pada slogan atau seremoni formal (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menetapkan standar baru. Bukan hanya dalam hal penyelenggaraan yang tertib dan meriah, tetapi dalam hal kualitas makna.

Ia mengajarkan bahwa setiap perayaan budaya dapat menjadi medium pendidikan sosial; mengajarkan nilai, memperkuat identitas, sekaligus membangun jembatan antar kelompok.

Pada akhirnya, ogoh-ogoh itu akan dilebur, sebagaimana tradisinya. Namun pesan yang dibawanya tidak ikut hilang.

Ia tinggal dalam ingatan kolektif masyarakat: bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekuatan yang, jika dirawat dengan kesadaran, mampu menciptakan harmoni yang nyata.

Dari Kota Mataram, dunia bisa belajar satu hal sederhana namun mendasar: bahwa toleransi bukan sesuatu yang abstrak.

Ia bisa dilihat, dirasakan, dan dirayakan di jalanan, di antara ogoh-ogoh, dan di hati masyarakat yang memilih untuk hidup bersama dalam damai.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemprov ntb

Berita Terkait

Menata Ulang BPBD: Dari Pemadam Krisis Menjadi Pengelola Risiko Bencana
Suara Kesetaraan dari Bumi Gora
Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo
Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB
Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia
Desa Berdaya, Menanam Harapan dari Akar Pembangunan NTB
Iduladha di Bumi Gora dan Seruan Merawat Kepedulian
Akademi Isin Angsat dan Ikhtiar Membaca Laut dari Perspektif Seni

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:15 WITA

Menata Ulang BPBD: Dari Pemadam Krisis Menjadi Pengelola Risiko Bencana

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:36 WITA

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:17 WITA

Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:23 WITA

Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:38 WITA

Desa Berdaya, Menanam Harapan dari Akar Pembangunan NTB

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA