Orkestrasi Desa Berdaya: Jalan NTB Mengurai Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 11 Maret 2026 - 20:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kolaborasi lintas sektor yang diusung Desa Berdaya menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak lagi dipandang sebagai urusan pinggiran, melainkan sebagai pusat strategi pembangunan nasional (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

Kolaborasi lintas sektor yang diusung Desa Berdaya menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak lagi dipandang sebagai urusan pinggiran, melainkan sebagai pusat strategi pembangunan nasional (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks, desa kembali ditempatkan sebagai titik awal perubahan. Dari ruang pertemuan di kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal di Jakarta, Selasa (10/3/2026), sebuah gagasan tentang masa depan pembangunan desa mengemuka.

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal memaparkan strategi komprehensif pengentasan kemiskinan ekstrem melalui program Desa Berdaya, sebuah pendekatan yang mengandalkan orkestrasi berbagai kekuatan pembangunan di tingkat desa.

Pertemuan itu berlangsung bersama Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto. Dalam pandangan sang menteri, gagasan yang dibawa Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bukan sekadar program daerah, melainkan sebuah model yang berpotensi direplikasi secara nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Konsep yang disampaikan Pak Gubernur sangat baik. Pendekatan orkestrasi dan kolaborasi ini bisa menjadi contoh bagi provinsi lain dalam menurunkan kemiskinan ekstrem,” ujar Yandri.

Pernyataan itu menggarisbawahi satu hal penting: pembangunan desa tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral. Ia menuntut sinergi lintas sektor; pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga masyarakat sipil.

Mengorkestrasi Program yang Sudah Ada

Dalam paparannya, Miq Iqbal, sapaan akrab Gubernur NTB, menegaskan bahwa Desa Berdaya bukanlah program yang lahir dari nol. Sebaliknya, ia merupakan upaya menyatukan berbagai program yang telah ada agar bekerja lebih efektif dan terarah di desa.

“Kami tidak menciptakan program yang sepenuhnya baru. Yang kami lakukan adalah mengorkestrasi berbagai program yang sudah ada agar bekerja secara terpadu dan lebih efektif di desa,” jelasnya.

Pendekatan orkestrasi ini berarti menyatukan sumber daya yang selama ini tersebar. Program pemerintah pusat, bantuan daerah, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dukungan perguruan tinggi, hingga filantropi seperti Badan Amil Zakat Nasional dipadukan dalam satu kerangka kerja pembangunan desa.

Kementerian Desa sendiri menyatakan kesiapan untuk memperkuat sinergi tersebut. Bahkan, kementerian memiliki sekitar 500 perusahaan nasional yang berpotensi dilibatkan dalam pembinaan desa melalui program CSR.

Baca Juga :  Desa Berdaya, Menanam Harapan dari Akar Pembangunan NTB

“Kita akan dorong perusahaan-perusahaan itu untuk membina desa. Dengan kolaborasi seperti ini, tidak boleh ada desa yang tertinggal,” tegas Yandri.

Intervensi Berbasis Data di Tingkat Desa

Salah satu elemen penting dari strategi Desa Berdaya adalah validitas data kemiskinan. Pemerintah Provinsi NTB melakukan verifikasi dan validasi data secara langsung di desa melalui pendamping mandiri yang didanai oleh pemerintah provinsi.

Pendamping tersebut bekerja bersama pendamping desa yang telah lebih dahulu bertugas di lapangan. Kolaborasi ini memastikan bahwa program intervensi benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan.

Gubernur Miq Iqbal menjelaskan bahwa intervensi dilakukan dalam dua bentuk utama: intervensi pada level keluarga dan intervensi pada level desa.

Melalui pendekatan ini, masyarakat miskin ekstrem dipetakan menjadi dua kelompok. Sekitar 60 persen merupakan kelompok produktif yang masih memiliki peluang untuk diberdayakan melalui program ekonomi. Sisanya merupakan kelompok rentan yang tidak lagi produktif karena faktor usia atau kondisi kesehatan.

Kelompok terakhir diperlakukan sebagai mustahik tetap, yakni masyarakat yang terus menerima perlindungan sosial secara berkelanjutan melalui dukungan berbagai lembaga sosial.

Pendekatan ini memperlihatkan pergeseran paradigma pembangunan: kemiskinan tidak lagi ditangani dengan satu metode yang seragam, tetapi dengan strategi yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Desa Tematik dan Rantai Pasok Pangan

Selain fokus pada pengentasan kemiskinan ekstrem, program Desa Berdaya juga mendorong pengembangan desa tematik berbasis potensi lokal. Setiap desa didorong untuk mengembangkan komoditas unggulan yang sesuai dengan karakter wilayahnya.

Beberapa contoh yang muncul antara lain desa lele, desa cabai, desa ayam petelur, desa sapi, hingga desa wisata.

Namun, menurut Miq Iqbal, pengembangan desa tematik tidak cukup hanya berhenti pada produksi. Desa harus terhubung dengan pasar agar aktivitas ekonomi yang tercipta dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Salah satu peluang besar yang dapat dimanfaatkan desa adalah program nasional Makan Bergizi Gratis, yang membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Menjaga Akurasi di Tengah Banjir Informasi Digital

“Desa tidak boleh hanya menjadi penonton. Desa harus menjadi produsen yang memasok kebutuhan pangan untuk program nasional,” tegasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah daerah mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi tertutup atau close loop economy, yang mengutamakan penggunaan pangan lokal dalam rantai pasok program nasional.

Dalam sistem ini, koperasi desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) akan memainkan peran penting sebagai penghubung antara produksi desa dan distribusi pasar di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Menguatkan Desa, Menahan Urbanisasi

Lebih jauh, Gubernur NTB menekankan bahwa penguatan ekonomi desa tidak hanya berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, tetapi juga dengan upaya menahan laju urbanisasi.

Banyak negara maju menghadapi persoalan serius ketika desa kehilangan penduduk produktifnya. Urbanisasi yang tidak terkendali menyebabkan ketimpangan pembangunan antara desa dan kota.

Karena itu, pembangunan desa harus mampu menciptakan peluang ekonomi yang menarik bagi generasi muda.

“Jika desa kuat, daerah akan kuat. Ketika desa berkembang, berbagai persoalan sosial dapat kita selesaikan dari akarnya,” ujar Miq Iqbal.

Dalam konteks inilah Desa Berdaya diproyeksikan menjadi fondasi pembangunan yang lebih inklusif. Ia tidak hanya bertujuan menurunkan angka kemiskinan ekstrem, tetapi juga menciptakan keseimbangan pembangunan antara desa dan kota.

Menuju Sinergi Nasional

Rencana kehadiran Menteri Desa dan Menteri Sosial dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi NTB di Mataram pada 16 April 2026 menjadi sinyal kuat bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah akan semakin diperkuat.

Kolaborasi lintas sektor yang diusung Desa Berdaya menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak lagi dipandang sebagai urusan pinggiran, melainkan sebagai pusat strategi pembangunan nasional.

Jika orkestrasi ini berjalan efektif, desa tidak lagi hanya menjadi ruang tinggal masyarakat pedesaan. Ia akan menjadi pusat produksi, ruang inovasi, sekaligus fondasi bagi Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.**

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemprov ntb

Berita Terkait

Menata Ulang BPBD: Dari Pemadam Krisis Menjadi Pengelola Risiko Bencana
Suara Kesetaraan dari Bumi Gora
Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo
Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB
Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia
Desa Berdaya, Menanam Harapan dari Akar Pembangunan NTB
Iduladha di Bumi Gora dan Seruan Merawat Kepedulian
Akademi Isin Angsat dan Ikhtiar Membaca Laut dari Perspektif Seni

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:15 WITA

Menata Ulang BPBD: Dari Pemadam Krisis Menjadi Pengelola Risiko Bencana

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:59 WITA

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:36 WITA

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:17 WITA

Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:23 WITA

Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA