CERAKEN.ID — Mataram—Di sebuah aula sederhana milik Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Senin sore itu (16/3/2026), 70 paket sembako berpindah tangan. Tak ada gemuruh besar, hanya wajah-wajah yang menua oleh waktu dan hidup yang menyimpan harap dalam diam.
Namun dari ruang yang tampak biasa itu, tersirat sesuatu yang lebih luas: tentang kepedulian, diplomasi, dan masa depan yang sedang dirajut pelan-pelan.
Kegiatan berbagi ini diinisiasi LKKS NTB bersama Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar. Di tengah bulan suci Ramadan, bantuan itu bukan sekadar paket kebutuhan pokok, melainkan simbol bahwa perhatian bisa datang dari arah yang tak selalu terduga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Umum LKKS NTB, Sinta Agathia M. Iqbal, menyebut bantuan tersebut sebagai bentuk kasih sayang yang melampaui batas institusi.
“Ini artinya bapak ibu diperhatikan. Bukan hanya dari kami, tapi juga dari banyak pihak, termasuk Konjen Tiongkok,” ujarnya, menyapa para penerima manfaat dengan nada yang hangat dan keibuan.
Bagi Sinta, kegiatan ini bukanlah puncak, melainkan bagian dari rangkaian panjang kerja sosial yang dimulai sejak awal Ramadan. Ia menutup sambutannya dengan pesan yang sederhana namun tegas: kerja-kerja kemanusiaan tidak berhenti setelah hari raya.
“Habis Idulfitri masih banyak PR yang harus kita kerjakan. Tetap semangat,” katanya.
Di sisi lain, Konsul Jenderal RRT di Denpasar, Zhang Zhisheng, melihat lebih dari sekadar kegiatan sosial. Ia membaca momen ini sebagai jembatan kultural yang telah lama terbangun antara Indonesia dan Tiongkok, jauh sebelum sejarah kolonial mencatat perjumpaan dengan bangsa Eropa.
“NTB ini istimewa,” ujarnya. “Mayoritas Muslim, tetapi mampu menjaga harmoni dengan agama lain.”

Ia bahkan menyebut, dengan populasi sekitar 20 juta umat Muslim di Tiongkok, NTB dapat menjadi ruang belajar tentang toleransi yang hidup, bukan sekadar wacana.
Namun cerita tak berhenti pada sembako. Ramadan di NTB tahun ini juga menjadi panggung bagi sesuatu yang lebih subtil tetapi berdampak panjang: literasi.
Dalam kesempatan yang sama, Sinta—yang juga dikenal sebagai Bunda Literasi NTB—mengaitkan kegiatan sosial ini dengan gerakan yang lebih besar: membangun masa depan melalui pengetahuan. Bersama Zhang Zhisheng, ia menegaskan komitmen untuk membuka ruang kolaborasi internasional dalam penguatan literasi di daerah.
Zhang mengemukakan sebuah filosofi yang sederhana tetapi tajam: pengetahuan adalah “makanan” bagi akal, satu-satunya jalan yang mampu memutus rantai kemiskinan secara permanen. Ia berkaca pada pengalaman Tiongkok yang berhasil meningkatkan angka literasi dari di bawah 10 persen menjadi hampir merata melalui kerja keras para pendidik.
“Kalau orang hanya diberi uang, mereka bisa makan hari ini. Tapi kalau diberi pengetahuan, mereka bisa membangun hidupnya sendiri,” ujarnya.
Pernyataan itu seakan menemukan resonansinya di NTB. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Ashari, menyebut bahwa di bawah kepemimpinan Sinta, gerakan literasi di daerah ini menunjukkan perkembangan signifikan.
Salah satunya melalui Kemah Literasi dan pengukuhan Bunda Literasi desa se-NTB, sebuah upaya mendorong perubahan dari akar rumput.
Simbol kolaborasi itu kemudian dipertegas melalui pembagian paket buku kepada perwakilan 16 komunitas relawan literasi se-Pulau Lombok. Buku-buku tersebut bukan sekadar benda, tetapi benih, yang diharapkan tumbuh menjadi kesadaran, kreativitas, dan daya hidup baru bagi generasi muda.
Di tengah suasana berbuka puasa bersama, percakapan tentang masa depan mengalir ringan namun penuh makna. Ada harapan bahwa kerja sama ini tak berhenti pada seremoni, melainkan berkembang menjadi kolaborasi strategis, termasuk dukungan teknologi dan pengembangan perpustakaan di NTB.
Ramadan, dalam konteks ini, menjelma lebih dari sekadar ritual spiritual. Ia menjadi ruang pertemuan antara kepedulian sosial dan diplomasi budaya, antara kebutuhan hari ini dan investasi masa depan.
Di antara paket sembako yang dibagikan dan buku-buku yang diserahkan, terselip satu benang merah: bahwa membangun manusia tidak cukup dengan mengenyangkan perut, tetapi juga harus menerangi pikiran. Dan dari Mataram, pesan itu kini mulai menggema; pelan, tetapi menjanjikan.*
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun pemprov ntb































































