CERAKEN.ID — Sabtu, 28 Februari 2026, ruang sederhana tempat Komunitas Teman Baca berkegiatan mendadak terasa sesak.
Lebih dari lima puluh orang; mahasiswa, pegiat literasi, penulis, hingga pembaca setia, berjejalan untuk mengikuti “Bincang Buku”, program rutin yang kali ini terasa istimewa.
Tiga buku dari tiga genre berbeda dibedah dalam satu tarikan napas: catatan perjalanan, kumpulan puisi, dan sehimpun resensi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Buku-buku itu adalah “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” karya Sigit Susanto, “Dalam Hologram Kafka” karya Triyanto Triwikromo, serta “(R)esensi Maniak: Esai dari Pagina ke Pagina” (2026) karya Hernadi Tanzil.
Ketiganya terbit pada rentang akhir 2025 hingga awal 2026 menjadi penanda bahwa denyut literasi Indonesia tetap bergerak, meski sering dianggap megap-megap.
Diskusi dipandu oleh Raushan Fikri Heryanto, menghadirkan tiga pembicara: Iin Farliani, Kiki Sulistyo, dan Dedy Ahmad Hermansyah. Namun sebelum forum memasuki perbincangan serius, suasana dibuka oleh pertunjukan tak biasa: wayang Kafka.
Wayang Kafka: Metamorfosis di Panggung Mini
Sigit Susanto, penulis sekaligus penerjemah karya-karya Franz Kafka dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia, tampil sebagai “dalang” dalam lakon yang diadaptasi dari novel Die Verwandlung (Metamorfosis, 1915).
Kisahnya masyhur: Gregor Samsa, seorang salesman, terbangun dan mendapati dirinya berubah menjadi serangga raksasa, kecoa menjijikkan. Transformasi itu bukan sekadar perubahan biologis, melainkan simbol keterasingan.
Ia yang semula tulang punggung keluarga berubah menjadi beban. Ia yang produktif berubah menjadi aib. Hingga akhirnya mati dalam pengabaian, dan justru kematiannya menghadirkan kelegaan bagi keluarganya.
Tema alienasi, dehumanisasi, dan tekanan hidup modern menjadi inti lakon. Dalam masyarakat yang menakar nilai manusia dari produktivitas, Gregor adalah cermin getir.
“Orang bilang bukunya bagus, tapi Kafka malah bilang tulisannya seperti cakar ayam,” ujar Sigit seusai pementasan.
Ia mengakui sekitar 70 persen lakon bersumber langsung dari teks Kafka. Selebihnya adalah tafsir panggung; usaha merangkum tanpa menghilangkan inti.
Bagi Sigit, mendalang adalah proses kreatif lain, selain mementaskan “Ramayana” atau “Dewa Ruci” yang beberapa kali ia bawakan di Eropa. Ia bahkan merendah, “Yang jelas saya bukan dalang,” meski telah sembilan kali tampil di benua itu selama lebih dari 25 tahun menetap di Swiss.
Pementasan ini menjadi pembuka simbolik: literasi bukan sekadar membaca, tetapi juga mentransformasikan teks menjadi pengalaman estetik.

37 Resensi dan Kegelisahan atas Kata “Maniak”
Sesi pertama diskusi membedah buku Hernadi Tanzil. Dari 429 esai yang ditulis sejak 2005, ia menyuntingnya menjadi 37 resensi pilihan. Iin Farliani membaginya dalam tiga bahasan: Metabuku, Sastra Indonesia, dan Sastra Terjemahan.
Pada bagian Metabuku, pembaca diajak menyusuri hiruk-pikuk dunia perbukuan: pencurian buku besar-besaran, sejarah panjang penyusunan kamus Oxford, hingga penghancuran buku dari masa ke masa.
Di Indonesia, muncul kasus plagiat yang menimpa Hamka atas novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, mitos pembakaran buku oleh Lekra, hingga perbincangan seputar Pramoedya Ananta Toer.
Pada Sastra Indonesia, pilihan buku menghadirkan sisi politik dan sejarah: dari genosida era Hindia Belanda hingga kisah industri kretek dalam Gadis Kretek karya Ratih Kumala dan Sang Raja karya Iksaka Banu.
Bagian Sastra Terjemahan memuat 22 resensi, termasuk novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri. Tema yang diangkat beragam: politik, gender, seksualitas, kolonialisme.
Namun Iin mempertanyakan dua hal: mengapa hanya 37 esai yang dipilih dari 429? Dan di mana letak “maniak”-nya? Apakah kata itu sekadar hiperbola?
Ia juga menyoroti kecenderungan peresensi yang tergelincir menjadi pencerita ulang isi buku, sebuah “spoiler” yang merampas kenikmatan pembaca lain.
“Tiga bahasan besar ini terikat oleh masa lampau. Jadi bagaimana kita mau terpukau, atau malah tersandera cinta yang membutakan?” tutup Iin.
Hologram Kafka: Interferensi Dua Teks
Pada sesi kedua, Kiki Sulistyo membedah puisi-puisi Triyanto Triwikromo dalam “Dalam Hologram Kafka” (KPG, 2025).
Triyanto, pengarang yang menguat pada 1990-an dan dikenal dengan prosa puitik-metaforiknya, pernah menerbitkan kumpulan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo. Dalam buku terbarunya, Kafka hadir bukan sebagai biografi, melainkan metafor.
Kiki menjelaskan konsep hologram melalui analogi sinar laser yang dipecah dua dan bertemu dalam interferensi. Dalam pengandaian itu, teks Triyanto adalah satu sinar; teks Kafka; biografi, bibliografi, tafsir, adalah sinar lain.
Pertemuan keduanya membentuk citra semu: hologram Kafka.
Puisi-puisi Triyanto memancarkan diksi gelap, brutal, penuh derita. Tema kematian, kekerasan, absurditas, dan keterasingan menjadi tonal dominan. Repetisi dan negasi saling berkelindan, membangun sekaligus meruntuhkan makna.
Namun hologram bukan objek asli. Ia citra hasil tabrakan teks dan tafsir. “Kafka telah hadir sebagai hologram. Entah sudah berapa banyak variasinya,” ujar Kiki.

Diskusi ini menggiring audiens pada kesadaran: membaca bukan mencari sumber tunggal, melainkan bergerak dalam lorong-lorong tafsir yang mungkin tak pernah berujung.
Lintas: Melihat, Bukan Sekadar Menatap
Sebagai tuan rumah, Dedy Ahmad Hermansyah membedah buku perjalanan Sigit Susanto. “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” adalah kelanjutan dari seri “Menyusuri Lorong-Lorong Dunia” (2005).
Ada 11 catatan perjalanan dengan 9 negara baru. Tiga hal menonjol: ajakan mengalami sastra dan sejarah tiap negara; perbandingan dengan Indonesia; dan refleksi kehidupan melalui perjalanan ala backpacker.
Dedy mengutip kalimat kunci Sigit: “Di tengah gencar revolusi digital, aku merasa ada pergeseran keyakinan dari writing is believing menjadi seeing is believing.”
Ia merujuk pemikiran Paul Virilio, Guy Debord, dan Jacques Lacan untuk menjelaskan bagaimana tatapan di era digital terpisah dari pengalaman fisik.
Berbeda dengan tubuh virtual, perjalanan Sigit adalah ekspansi tubuh nyata; mengalami jarak, waktu, dan citra tanpa fantasmagoria. Pengalaman menjadi fondasi eksistensi.
Pernyataan Dedy tentang perbedaan generasi sempat diperdebatkan, namun diskusi berakhir pada kesadaran bersama: kedalaman tak dimonopoli generasi mana pun, tetapi perlu diupayakan.
Literasi sebagai Ikhtiar Perlawanan
Di tengah data suram, UNESCO menyebut minat baca Indonesia 0,001 persen; riset Central Connecticut State University (2016) menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara; dan skor PISA 2022 yang rendah menurut Organisation for Economic Co-operation and Development; apa arti diskusi tiga buku ini?
Jawabannya sederhana: perlawanan.
Komunitas Teman Baca menunjukkan bahwa literasi bukan angka statistik semata. Ia adalah perjumpaan, perdebatan, dan perayaan gagasan.
Wayang Kafka, resensi “maniak”, dan hologram puisi bukan sekadar agenda akhir pekan. Ia adalah usaha menjaga api kecil agar tak padam oleh arus digital yang serba cepat.
Di ruangan yang sesak itu, literasi terasa hidup. Bukan sebagai jargon, melainkan praktik. Bukan sebagai beban kurikulum, melainkan kebutuhan batin.
Mungkin jumlahnya belum banyak. Namun seperti hologram, dari pertemuan dua sinar; teks dan pembaca, lahirlah citra makna yang terus berpendar.
Dan selama masih ada ruang untuk membaca, berdiskusi, dan berdebat, harapan itu belum benar-benar berubah menjadi kecoa. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































