Menjaga Jejak Karya: Konsistensi Ary Juliyant dari “Avonturir” hingga Arsip Lagu

Kamis, 12 Maret 2026 - 12:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebelum karya dipertanggungjawabkan kepada publik, seorang pencipta terlebih dahulu harus mampu mempertanggungjawabkannya kepada dirinya sendiri (Foto: aks/ceraken.id)

Sebelum karya dipertanggungjawabkan kepada publik, seorang pencipta terlebih dahulu harus mampu mempertanggungjawabkannya kepada dirinya sendiri (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah suasana “perjalanan” Tourgerilya #14 untuk menemukan titik singgah berikutnya, perbincangan sederhana pada Kamis, 12 Maret 2026 menghadirkan kisah yang tak sekadar tentang musik.

Musisi Ary Juliyant justru mengurai sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana seorang pencipta karya belajar mempertanggungjawabkan karyanya kepada diri sendiri.

Bagi Ary Juliyant, perjalanan bermusik bukanlah cerita yang dimulai dari panggung besar atau industri rekaman. Kisah itu justru berawal dari rasa penasaran seorang anak sekolah yang mencoba memahami bagaimana sebuah lagu lahir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika ditanya oleh Ceraken.id mengenai karya pertamanya, Ary tersenyum mengingat masa itu. Ia menyebut bahwa lagu pertama yang ia ciptakan bahkan belum pernah masuk album apa pun.

“Waktu saya buat lagu pertama, belum terpikir serius untuk jadi penulis lagu profesional,” ujarnya. Saat itu ia masih duduk di bangku SMP. Lagu yang pertama kali lahir dari tangannya berjudul “Avonturir”, sebuah komposisi tanpa lirik.

Tak lama kemudian, ia mulai menulis lagu lain yang sudah memiliki lirik. Lagu tersebut berjudul “Pantai Samas.”

Dua lagu ini lahir bukan dari rencana karier, melainkan dari rasa ingin tahu.

Ary mengisahkan bahwa ia mulai belajar gitar ketika menjelang masuk SMP. Dasar-dasar permainan gitar ia peroleh dari ayahnya, seorang tentara yang kini telah berpulang. Dari bekal sederhana itu, dalam waktu sekitar setahun ia mulai mencoba membuat lagu sendiri.

“Saya penasaran, kenapa orang lain bisa bikin lagu bagus,” katanya.

Rasa penasaran itulah yang kemudian memantik keberanian untuk bereksperimen dengan nada dan melodi. Dari ruang kecil pencarian itulah “Avonturir” dan “Pantai Samas” lahir.

Baca Juga :  “Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka

Namun menariknya, kedua lagu tersebut hingga kini belum pernah dirilis dalam album mana pun.

Ary mengaku beberapa tahun terakhir sempat memikirkan untuk memasukkan karya-karya awalnya itu ke dalam album yang lebih baru. Ia merasa lagu-lagu tersebut merupakan bagian dari perjalanan kreatifnya.

“Sepuluh tahun terakhir saya sempat berpikir menyelipkan karya lawas seperti Avonturir dan Pantai Samas ke album yang temanya cocok,” katanya.

Namun hingga kini, ia belum menemukan “greget” yang tepat untuk menempatkan kedua lagu tersebut di album-album yang telah dirilisnya.

Di balik cerita sederhana itu tersimpan satu sikap yang jarang dibicarakan dalam dunia musik: kesadaran untuk mengarsipkan karya.

Ary mengungkapkan bahwa kedua lagu tersebut sudah masuk dalam sistem registrasi karya miliknya. Ia menyebut langkah itu sebagai bagian dari upaya menghargai karya sendiri.

Bagi Ary, registrasi bukan sekadar urusan administratif, melainkan cara menjaga jejak perjalanan kreatif.

“Karya lagu bagi saya seperti catatan perjalanan,” tuturnya.

Karena itu ia berusaha mendokumentasikan dan mencatat setiap karya yang ia buat, sejauh kemampuan yang ia miliki. Upaya ini, menurutnya, merupakan bentuk tanggung jawab pribadi terhadap karya yang lahir dari proses batin seorang pencipta.

Lebih jauh lagi, Ary berharap langkah kecil tersebut dapat menjadi dorongan bagi para kreator lain untuk melakukan hal serupa. Menurutnya, pencatatan karya bisa menjadi bukti otentik bahwa sebuah lagu benar-benar lahir dari tangan penciptanya.

Baca Juga :  Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana

“Paling tidak, bisa menjadi bukti bahwa karyanya memang asli,” ujarnya sambil berseloroh ringan dalam bahasa Sunda, “panginten kitu, Kang.”

Meski demikian, Ary tidak merasa sistem pengarsipan yang ia bangun sudah sempurna. Ia justru menganggap dirinya masih berada dalam tahap belajar.

Ia masih terus mengamati perkembangan situasi dan mencari cara yang lebih baik untuk menata dokumentasi karya-karyanya.

Sikap reflektif itu pula yang membuat perjalanan kreatif Ary terasa berbeda. Ia tidak semata-mata memandang musik sebagai komoditas industri.

Menurutnya, industri musik kerap mendorong karya diperlakukan seperti barang dagangan, bagaimana membuatnya laku di pasar. Namun ia menegaskan bahwa pilihan tersebut juga bukan sesuatu yang keliru.

“Manusiawi kalau kita ingin disanjung dan populer,” ujarnya sambil tertawa.

Namun bagi Ary, pencarian makna dalam berkarya tetap menjadi fondasi utama. Ia percaya bahwa proses menggali ilmu dan memaksimalkan potensi diri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti arus industri.

Karena itu ia mengajak siapa pun yang berkarya untuk terus bergerak mencari, belajar, dan menemukan bentuk terbaik dari potensi yang dimiliki.

Di tengah dunia kreatif yang sering bergerak cepat dan penuh tuntutan popularitas, sikap semacam ini terasa seperti pengingat yang sederhana namun penting.

Bahwa pada akhirnya, sebelum karya dipertanggungjawabkan kepada publik, seorang pencipta terlebih dahulu harus mampu mempertanggungjawabkannya kepada dirinya sendiri.

Dan dari sebuah lagu instrumental sederhana berjudul Avonturir yang lahir di bangku SMP, perjalanan panjang itu ternyata telah dimulai. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri
Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana
“Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka
Yoiakustik, Hari Bumi, dan Nada-Nada yang Menjaga Kesadaran
Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional
Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:41 WITA

Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:54 WITA

Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:25 WITA

“Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka

Rabu, 29 April 2026 - 13:14 WITA

Yoiakustik, Hari Bumi, dan Nada-Nada yang Menjaga Kesadaran

Sabtu, 25 April 2026 - 17:45 WITA

Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA