Dari Sektoral ke Kolaboratif: Menata Ulang Arah Pembangunan NTB 2027

Selasa, 14 April 2026 - 21:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembangunan tidak lagi sekadar soal merancang program, tetapi bagaimana memastikan program tersebut hidup dan bekerja di tengah masyarakat (Foto: pemprov ntb / ceraken.id)

Pembangunan tidak lagi sekadar soal merancang program, tetapi bagaimana memastikan program tersebut hidup dan bekerja di tengah masyarakat (Foto: pemprov ntb / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai menggeser arah pembangunan ke jalur yang lebih terintegrasi. Melalui Pra-Musrenbang RKPD 2027, satu pesan kuat digaungkan: meninggalkan pola kerja lama yang sektoral menuju kolaborasi lintas wilayah yang solid dan berdampak nyata.

Dalam forum yang berlangsung di Hotel Lombok Raya, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, yang akrab disapa Umi Dinda, menegaskan bahwa tantangan pembangunan saat ini tidak lagi bisa dijawab dengan pendekatan parsial. Kompleksitas persoalan daerah menuntut sinergi yang lebih kuat antarlevel pemerintahan.

“Provinsi tidak bisa bekerja sendiri, begitu juga kabupaten/kota. Kita adalah satu kesatuan sistem,” tegasnya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan refleksi atas kenyataan di lapangan, di mana ketidaksinkronan program kerap menghambat efektivitas pembangunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Membongkar Ego Sektoral

Salah satu kritik paling tajam dalam forum tersebut adalah masih kuatnya ego sektoral dalam perencanaan pembangunan. Pola kerja yang terfragmentasi ini tidak hanya menimbulkan tumpang tindih program, tetapi juga berujung pada pemborosan anggaran.

Pra-Musrenbang dijadikan momentum untuk membongkar kebiasaan lama itu. Sinkronisasi antara dokumen perencanaan, dari pusat hingga daerah, didorong menjadi fondasi utama. Dalam kerangka ini, dokumen seperti RPJP tidak lagi dipandang sebagai formalitas administratif, melainkan sebagai kompas pembangunan yang harus selaras dengan realitas di lapangan.

Baca Juga :  Idulfitri sebagai Titik Pulang: Ajakan Memperkuat Kebersamaan Membangun NTB

“Kalau tidak selaras, maka kita hanya berjalan tanpa arah,” ujar Umi Dinda, menegaskan pentingnya konsistensi antara perencanaan dan implementasi.

Tiga Agenda Strategis 2027

Sebagai pijakan awal, Pemprov NTB menetapkan tiga agenda besar yang akan menjadi tulang punggung pembangunan 2027.

Pertama, ketahanan pangan berbasis perlindungan lahan. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Nusa Tenggara Barat menghadapi ancaman serius berupa alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi petani. Penguatan infrastruktur pertanian dan perlindungan lahan produktif menjadi kunci menjaga keberlanjutan sektor ini.

Kedua, akselerasi ekonomi digital dan penguatan UMKM. Transformasi digital tidak lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan. UMKM didorong untuk naik kelas melalui adopsi teknologi, membuka peluang menembus pasar global dan meningkatkan daya saing daerah.

Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia. Isu stunting, kemiskinan ekstrem, dan pengangguran ditangani dengan pendekatan berbasis data. Intervensi diarahkan lebih presisi agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.

Dari Seremoni ke Substansi

Berbeda dari praktik sebelumnya, Pra-Musrenbang kali ini didorong menjadi ruang dialog yang jujur dan terbuka. Umi Dinda secara tegas meminta kepala daerah dan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk meninggalkan laporan normatif yang hanya indah di atas kertas.

“Saya tidak butuh laporan yang bagus di atas kertas. Saya ingin tahu apa yang macet di desa,” ujarnya.

Pendekatan ini menandai pergeseran penting: dari perencanaan administratif menuju perencanaan berbasis pemecahan masalah (problem solving). Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap program lahir dari kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar rutinitas birokrasi.

Baca Juga :  Gubernur Iqbal: Kesalahan "Angle" Berita Berdampak Besar pada Kebijakan Publik
Menjaga Optimisme di Tengah Keterbatasan

Di tengah keterbatasan fiskal dan dinamika ekonomi global yang tidak menentu, Pemprov NTB tetap memasang target ambisius: menurunkan angka kemiskinan hingga satu digit secara merata.

Optimisme ini dibangun di atas keyakinan bahwa perencanaan yang presisi, dukungan data yang kuat, serta kolaborasi lintas sektor mampu menjadi kunci keberhasilan. Program seperti Desa Berdaya pun didorong untuk direplikasi secara masif dengan koordinasi yang lebih solid antara provinsi dan kabupaten/kota.

Pada akhirnya, arah baru ini menegaskan bahwa pembangunan tidak lagi sekadar soal merancang program, tetapi bagaimana memastikan program tersebut hidup dan bekerja di tengah masyarakat.

“Perencanaan tidak boleh berhenti sebagai dokumen. Ia harus hidup, bekerja, dan dirasakan masyarakat,” tutup Umi Dinda.

Dengan semangat kolaborasi yang mulai dibangun, NTB tengah menapaki fase baru Pembangunan, fase di mana keberhasilan tidak lagi diukur dari seberapa banyak program dirancang, melainkan seberapa besar dampak yang benar-benar dirasakan rakyat. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemrpov ntb

Berita Terkait

Meneguhkan Makna Usia: Lansia sebagai Pilar Sosial dan Spirit Kartini di NTB
NTB, Laboratorium Ekonomi Syariah dari Timur Indonesia
Dari Mataram ke Megamendung, Juara Kejurprov ORADO NTB 2026 Siap Berlaga
Dari Desa Menuju Dunia: Jalan NTB Menata Kemakmuran
Gubernur Iqbal: Kesalahan “Angle” Berita Berdampak Besar pada Kebijakan Publik
Menjaring Pemimpin Sekolah Masa Depan di NTB
Menata NTB dari Akar: Ketahanan Pangan, Kemiskinan, dan Jalan Menuju Destinasi Dunia
Sekda Baru dan Arah Konsolidasi NTB

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 09:07 WITA

Meneguhkan Makna Usia: Lansia sebagai Pilar Sosial dan Spirit Kartini di NTB

Selasa, 21 April 2026 - 21:53 WITA

NTB, Laboratorium Ekonomi Syariah dari Timur Indonesia

Selasa, 21 April 2026 - 09:37 WITA

Dari Mataram ke Megamendung, Juara Kejurprov ORADO NTB 2026 Siap Berlaga

Kamis, 16 April 2026 - 20:41 WITA

Dari Desa Menuju Dunia: Jalan NTB Menata Kemakmuran

Rabu, 15 April 2026 - 19:49 WITA

Gubernur Iqbal: Kesalahan “Angle” Berita Berdampak Besar pada Kebijakan Publik

Berita Terbaru

Langkah ini bukan sekadar respons jangka pendek terhadap keterbatasan anggaran. Ia mencerminkan upaya untuk membangun fondasi keuangan yang lebih adaptif, inovatif, dan berkelanjutan (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Melampaui Batas Fiskal: Mataram dan Jalan Baru Pembiayaan Daerah

Kamis, 23 Apr 2026 - 13:10 WITA

SOSIAL EKONOMI

ITDC Dukung Media Gathering JMSI NTB di Kawasan Mandalika

Rabu, 22 Apr 2026 - 10:43 WITA