CERAKEN.ID — Di tengah geliat pelestarian budaya yang kian menemukan momentumnya, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menapaki satu fase penting: memperkenalkan khazanah tekstil dan budaya Lombok–Bali ke panggung internasional melalui peluncuran buku Two Islands, One Thread: Textiles of Lombok & Bali di Adelaide, Australia, Juni 2026 mendatang.
Namun, lebih dari sekadar kain dan tenun, museum ini juga menyimpan artefak lain yang tak kalah penting, instrumen gamelan wayang yang menjadi denyut hidup pertunjukan Wayang Sasak.
Instrumen-instrumen itu bukan benda mati. Mereka adalah medium yang menyimpan suara masa lalu, ritme kehidupan masyarakat Sasak, serta jejak spiritualitas yang mengakar sejak berabad-abad lalu. Dalam setiap denting dan hembusannya, tersimpan cerita tentang dakwah, estetika, hingga dinamika sosial yang membentuk identitas Lombok hari ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gamelan wayang yang tersimpan di museum mencakup seperangkat alat musik tradisional seperti gong beleq, gendang wadon, teropong, kemong, rincik, dan suling. Keenam instrumen ini membentuk satu kesatuan musikal yang tak terpisahkan dari pementasan Wayang Sasak, sebuah seni pertunjukan yang telah berkembang sejak abad ke-17 hingga ke-18 sebagai media penyebaran ajaran Islam di Pulau Lombok.
Dalam pementasan, musik bukan sekadar latar, melainkan narasi yang hidup. Ia mengalun, berubah, dan menyesuaikan diri dengan alur cerita serta karakter tokoh yang dimainkan oleh dalang. Setiap perubahan irama memiliki makna tersendiri, menciptakan suasana yang memperkuat pesan yang hendak disampaikan.
Irama yang Menghidupkan Lakon
Dalam struktur musikal Wayang Sasak, terdapat beragam jenis irama yang dimainkan sesuai dengan situasi dramatik. Selutur, misalnya, digunakan untuk mengawali pertunjukan dengan keluarnya tokoh-tokoh utama seperti Gunungan, Jayangrana, dan Munigarim. Irama ini menjadi semacam gerbang pembuka, menandai dimulainya perjalanan cerita.
Ketika adegan beralih ke suasana musyawarah atau sidang, irama batil mengambil peran. Sementara itu, balik wadon mengiringi kemunculan tokoh Wong Menak seperti Jayangrana, menghadirkan nuansa yang lebih lembut namun tetap penuh wibawa. Untuk para raja, janggelan prabu menjadi pilihan, menegaskan kemegahan dan kekuasaan yang melekat pada karakter tersebut.
Irama lain seperti janggelan wadon dan gamparan digunakan untuk menggambarkan kondisi lelah, baik pada tokoh perempuan maupun secara umum. Ada pula irama cirebon yang mengiringi kemunculan raksasa, menciptakan suasana tegang dan mencekam. Ketika konflik memuncak, rangsang menjadi penanda perang dan kekacauan.
Tak kalah penting, irama laderan Umarmaya mengiringi perjalanan tokoh Umarmaya, sementara gagar mangsa dan rondon khusus digunakan untuk adegan tari, baik oleh tokoh perempuan maupun laki-laki. Selingsir khusus, di sisi lain, menjadi pengiring bagi tokoh-tokoh penting seperti nabi dan raja-raja, menghadirkan nuansa sakral yang mendalam.
Ragam irama ini menunjukkan bahwa gamelan wayang bukan sekadar pengiring, melainkan bahasa musikal yang kompleks. Ia berbicara, menafsirkan, dan bahkan memperdalam makna cerita yang disampaikan oleh dalang.
Wayang Sasak: Dakwah dalam Bayang-Bayang Cahaya
Wayang Sasak sendiri merupakan bentuk seni pertunjukan wayang kulit khas Lombok yang memiliki karakteristik unik. Berbeda dengan wayang kulit Jawa yang cenderung tebal dan berlapis, wayang Sasak berbentuk lebih tipis dengan gaya visual yang khas. Namun, yang paling menonjol adalah sumber ceritanya: Serat Menak.
Kisah-kisah dalam Serat Menak berpusat pada tokoh Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW, yang digambarkan sebagai sosok pahlawan dengan keberanian dan kebijaksanaan luar biasa. Melalui cerita-cerita ini, nilai-nilai Islam disampaikan secara halus dan kontekstual, menyatu dengan budaya lokal masyarakat Sasak.
Wayang Sasak tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan dakwah. Ia mengajarkan etika, keberanian, keadilan, serta kesetaraan melalui tokoh-tokohnya. Dalam setiap pertunjukan, penonton diajak untuk merenung, memahami, dan menginternalisasi nilai-nilai yang disampaikan.
Namun, seperti banyak warisan budaya lainnya, Wayang Sasak sempat mengalami masa redup. Perubahan zaman, modernisasi, dan minimnya regenerasi dalang menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, berbagai upaya pelestarian kini mulai dilakukan, mulai dari pengenalan di sekolah hingga penampilan di forum internasional.
Dalam konteks inilah, peran Museum Negeri NTB menjadi sangat strategis. Tidak hanya sebagai tempat penyimpanan artefak, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Dengan membawa narasi budaya Lombok ke Adelaide melalui buku Two Islands, One Thread, museum ini tidak hanya memperkenalkan tekstil, tetapi juga membuka pintu bagi pemahaman yang lebih luas tentang identitas budaya NTB.
Gamelan wayang yang tersimpan di dalamnya menjadi simbol bahwa budaya bukan sekadar benda, melainkan pengalaman yang harus terus dihidupkan. Ia perlu didengar, dirasakan, dan dipahami, agar tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan.
Di tengah arus globalisasi, menjaga irama seperti menjaga ingatan. Dan melalui langkah-langkah seperti ini, Museum Negeri NTB menunjukkan bahwa warisan budaya Lombok tidak hanya layak dikenang, tetapi juga pantas untuk terus didengarkan oleh dunia. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































