Wajah-Wajah Kayu dan Ingatan Peradaban: Menelusuri Jejak Seni Topeng Lombok

Sabtu, 25 April 2026 - 12:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seni topeng Lombok merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Pulau Lombok (Foto: aks/ceraken.id)

Seni topeng Lombok merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki arti penting dalam sejarah kebudayaan Pulau Lombok (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di ruang koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, sejumlah topeng tersimpan dalam diam. Namun sesungguhnya, benda-benda itu tidak pernah benar-benar bisu.

Dari guratan mata yang tajam, hidung yang menonjol, hingga senyum yang mengandung sindiran, topeng-topeng itu membawa jejak panjang kebudayaan masyarakat Sasak di Lombok; tentang kepercayaan, kritik sosial, dakwah agama, hingga perubahan zaman yang perlahan menggeser maknanya.

Salah satu koleksi penting Museum Negeri NTB adalah topeng yang berkaitan dengan seni pertunjukan rakyat. Seni topeng di Lombok telah lama dikenal sebagai teater rakyat yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat pedesaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lakon-lakon seperti Amaq Abir dan Amaq Darmi dalam pertunjukan Kayak Sandongan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan.

Dalam pementasan kedua lakon tersebut, masyarakat tidak hanya menikmati hiburan, melainkan juga menerima pesan-pesan moral dan kritik sosial yang disampaikan secara halus namun tajam. Tokoh-tokoh yang dimainkan menjadi representasi watak manusia: ada yang bijak, lucu, licik, serakah, bahkan angkara murka.

Nama-nama topeng yang menjadi koleksi museum antara lain Idayu, Amaq Abir, Amaq Tempenges, Cupak, Ida Datu, Kiyai Bayan, Amaq Bangkol, Papuk Uhek, dan Raksasa. Koleksi lainnya meliputi Topeng Amaq Baok, Topeng Patih, Topeng Lurah, Topeng Pengiring, Topeng Amaq Ideng, Topeng Amaq Dabus, Topeng Amaq Bangkol, hingga Topeng Datu Brenge.

Bagi masyarakat Lombok, topeng bukan hanya benda seni, melainkan bagian dari identitas budaya yang hidup dari generasi ke generasi.

“Seni topeng Lombok merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Lombok yang mempunyai arti penting dalam sejarah kebudayaan di Lombok. Seni topeng dapat dilihat dari beberapa sisi antara lain sebagai benda kerajinan dan media pendukung dalam seni teater,” ujar Tenaga Fungsional Pamong Budaya Ahli Madya Bidang Permuseuman Museum Negeri NTB, Bunyamin, SS., M.Hum, Jumat, 24 April 2026.

Jejak Panjang dari Hindu-Buddha hingga Islam

Pertanyaan tentang kapan sebenarnya seni topeng lahir di Lombok hingga kini belum memiliki jawaban yang benar-benar pasti. Tidak ada manuskrip, prasasti, atau relief bangunan Hindu-Buddha di Lombok yang secara eksplisit menunjukkan keberadaan seni topeng pada masa awal. Namun jejaknya diyakini sangat tua.

Buku Seni Topeng di Lombok yang diterbitkan Museum Negeri NTB tahun 1995/1996 memperkirakan bahwa seni topeng sudah dikenal oleh suku Sasak sejak abad VIII hingga IX Masehi. Perkiraan ini dikaitkan dengan masa kejayaan kebudayaan Hindu-Buddha di Nusantara, ketika seni topeng juga tergambar dalam relief sejumlah candi besar seperti Borobudur.

Di Lombok sendiri, keberadaan pengaruh Hindu-Buddha dapat dilihat dari Situs Pendua di Kecamatan Gangga, yang merupakan peninggalan Hindu abad ke-12. Hal ini menunjukkan bahwa arus budaya besar Nusantara juga sampai ke Pulau Lombok.

Baca Juga :  Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah

Namun Bunyamin menegaskan bahwa secara pasti belum bisa disebutkan kapan seni topeng mulai hadir di Lombok.

“Ya, jadi seni topeng memang lahir jauh sebelum Islam masuk, kemudian mengalami evolusi seperti nama tokoh dan ceritanya disesuaikan perkembangan kebudayaan pada masa itu. Pada masa Hindu-Buddha nama tokoh dan ceritanya disesuaikan dengan kebudayaan waktu itu, kemudian pada masa Islam nama tokoh ada beberapa tambahan dan penyesuaian budaya, seperti tokoh Kyai Penghulu. Begitu pula dengan ceritanya pasti berlatar belakang Islam,” jelasnya.

Artinya, seni topeng bukan lahir pada satu zaman tertentu, melainkan tumbuh melalui proses panjang kebudayaan. Ia bertransformasi mengikuti zaman. Ketika Islam mulai menyebar di Lombok pada abad ke-16 hingga ke-17, seni topeng sudah digunakan sebagai media dakwah selain wayang.

Melalui cerita-cerita rakyat, para penyebar agama menyisipkan ajaran Islam secara halus; tentang akhlak, kejujuran, keadilan, dan kehidupan sosial. Tokoh seperti Kyai Penghulu menjadi simbol masuknya unsur Islam ke dalam pertunjukan rakyat.

Dengan demikian, seni topeng Lombok menjadi bukti bahwa kebudayaan lokal tidak pernah statis. Ia hidup, beradaptasi, dan menyerap nilai-nilai baru tanpa kehilangan akar tradisinya.

Topeng sebagai Karakter, Kritik, dan Kepercayaan

Setiap topeng memiliki karakter atau wataknya masing-masing. Amaq Abir, Amaq Tempenges, Kyai, hingga tokoh-tokoh lain menggambarkan sosok baik maupun buruk dalam kehidupan manusia. Ekspresi wajah topeng menjadi penanda sifat tokoh; keras, lembut, bijaksana, lucu, atau menakutkan.

Berdasarkan buku Seni Topeng di Lombok halaman 21, tipe topeng Lombok dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni tipe makhluk manusia, tipe makhluk raksasa, dan tipe makhluk binatang. Dari tiga tipe itu lahir karakter-karakter seperti angkara, kuat-bijak-kharismatik, humanis, lemah-lembut, hingga humoris.

Tokoh seperti Papuk Uhek atau Amaq Bangkol kerap tampil sebagai karakter humoris yang justru menjadi media kritik sosial paling tajam. Mereka menertawakan kekuasaan, menyindir keserakahan, dan membongkar kemunafikan sosial melalui kelucuan yang sederhana.

Sementara tokoh datu, patih, atau kyai menggambarkan kewibawaan dan kepemimpinan. Di sinilah seni topeng menjadi semacam “cermin sosial” masyarakat Sasak.

Namun topeng di Lombok juga tidak hanya hidup dalam panggung pertunjukan. Sebagian masyarakat hingga kini masih mempercayai bahwa topeng tertentu memiliki kekuatan magis.
Topeng Amaq Darmi, Topeng Amaq Abir, dan Topeng Haji dipercaya sebagai topeng yang mandi atau bertuah, sekaligus dapat menyebabkan medaman, gangguan seperti kerasukan roh halus.

Seseorang yang mengalami tepedam oleh Topeng Amaq Darmi dipercaya akan menunjukkan gejala seperti mata menonjol, menari, dan bekayaq (bernyanyi) sebagaimana tingkah tokoh Amaq Darmi dalam pertunjukan.

Penyembuhannya dilakukan dengan cara membasuh muka menggunakan air cucian Topeng Amaq Darmi, bahkan kadang meminum air tersebut. Dalam ritual itu disediakan air yang telah diisi rampe atau bunga rampai. Biasanya, orang yang tepedam diyakini akan langsung sembuh.

Baca Juga :  Nyangkar Carik: Menata Ulang Ruang, Menjaga Ruh Bayan di Tengah Arus Modernitas

Demikian pula dengan Topeng Amaq Abir dan Topeng Haji, yang dipercaya memiliki kekuatan serupa.

Bagi masyarakat modern, praktik ini mungkin dipandang sebagai mitos. Namun dalam kajian antropologi budaya, kepercayaan itu menunjukkan bahwa topeng bukan hanya benda pertunjukan, melainkan simbol spiritual yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Dari Panggung Rakyat ke Pajangan Dinding

Dulu, seni topeng menyebar hampir di seluruh wilayah Lombok, terutama di Lombok Barat. Ia tampil dalam acara tradisi, hajatan masyarakat, ritual budaya, hingga kegiatan pemerintahan. Pertunjukan topeng menjadi bagian dari denyut kehidupan desa.

Kini, pemandangan itu semakin jarang ditemukan.

Seni topeng sudah tidak banyak ditampilkan, baik dalam acara tradisional maupun kegiatan resmi pemerintah. Modernisasi, perubahan selera hiburan, dan minimnya regenerasi pelaku seni menjadi tantangan besar.

Anak-anak muda lebih akrab dengan layar ponsel daripada panggung rakyat. Pengetahuan tentang lakon Amaq Abir atau Amaq Darmi perlahan memudar, bahkan bagi masyarakat Sasak sendiri.

Buku Seni Topeng di Lombok juga mencatat adanya pergeseran besar dalam tujuan pembuatan topeng. Jika dahulu topeng dibuat untuk seni pakai dalam pertunjukan teater rakyat atau teater topeng, kini topeng lebih dominan dibuat sebagai benda hiasan.

Topeng menjadi dekorasi rumah, cendera mata wisata, atau komoditas seni rupa. Secara ekonomi, hal ini tentu memberi ruang baru bagi para perajin. Namun secara budaya, ada risiko tercerabutnya identitas asli.

Karya-karya topeng masa kini memang masih memperlihatkan unsur tradisi lama, tetapi sering kali kehilangan mutu bahan dan identitas tokohnya. Sulit dikenali apakah sebuah topeng benar-benar Topeng Amaq Abir atau hanya tiruan dekoratif tanpa makna simbolik.

“Inilah yang perlu menjadi perhatian. Seni topeng ini adalah identitas budaya Lombok dan memiliki nilai-nilai budaya yang mencerminkan eksistensi masyarakat. Perlu dilakukan upaya pelestarian, antara lain melalui kajian atau penelitian,” harap Bunyamin.

Pelestarian tentu tidak cukup hanya dengan menyimpan topeng di museum. Yang lebih penting adalah menjaga cerita di baliknya tetap hidup: lakonnya, penuturnya, pemainnya, dan ruang pertunjukannya.

Museum harus menjadi ruang dialog kebudayaan, bukan sekadar gudang benda masa lalu. Sekolah, kampus, komunitas seni, hingga pemerintah daerah perlu menghadirkan kembali seni topeng sebagai bagian dari kehidupan publik.

Karena pada akhirnya, topeng bukan hanya soal kayu yang dipahat menjadi wajah. Ia adalah arsip kebudayaan, catatan tentang bagaimana masyarakat memandang dirinya sendiri.

Di wajah Amaq Abir ada sindiran tentang keserakahan. Dalam Topeng Amaq Darmi tersimpan cerita rakyat kecil. Pada sosok Kyai Penghulu terdapat jejak dakwah Islam. Dan dalam Topeng Raksasa, manusia melihat bayangan angkara yang selalu mengintai.

Menjaga topeng berarti menjaga ingatan. Sebab ketika sebuah masyarakat kehilangan ingatan budayanya, sesungguhnya ia sedang kehilangan arah menuju masa depannya sendiri. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan
Di Lereng Pengsong: Keteguhan Estetik I Nyoman Sandiya dalam Abstrak Dekoratif
Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional
Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah
Merawat Irama, Menjaga Ingatan: Gamelan Wayang Sasak dalam Denyut Museum NTB
Dua Tafsir Alam di Kaki Gunung: Membaca “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi” Karya I Nyoman Sandiya
Enam Bulan Menggerakkan Kebudayaan: Ujian Kepemimpinan Muhamad Ihwan di NTB
Nyangkar Carik: Menata Ulang Ruang, Menjaga Ruh Bayan di Tengah Arus Modernitas

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 12:06 WITA

Wajah-Wajah Kayu dan Ingatan Peradaban: Menelusuri Jejak Seni Topeng Lombok

Jumat, 24 April 2026 - 17:14 WITA

Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan

Jumat, 24 April 2026 - 00:03 WITA

Di Lereng Pengsong: Keteguhan Estetik I Nyoman Sandiya dalam Abstrak Dekoratif

Kamis, 23 April 2026 - 10:28 WITA

Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional

Kamis, 23 April 2026 - 09:51 WITA

Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah

Berita Terbaru

Di balik setiap risiko, selalu ada peluang yang menunggu untuk dijemput (Foto: ist / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Menimbang Risiko, Menjemput Peluang

Sabtu, 25 Apr 2026 - 20:08 WITA

Friday Relax menjelma menjadi simbol kolaborasi, ruang interaksi, dan panggung pertumbuhan bersama (Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Friday Relax dan Kota yang Ingin Bernapas

Sabtu, 25 Apr 2026 - 13:00 WITA

Buku

BUDAYA

Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan

Jumat, 24 Apr 2026 - 17:14 WITA