Idulfitri di Bumi Gora: Dari Spirit Ramadan Menuju Kepedulian Sosial

- Penulis

Minggu, 22 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

(Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

(Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pagi Idulfitri 1447 Hijriah di halaman Bumi Gora, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menghadirkan suasana yang sarat makna.

Di tengah hamparan jamaah yang memadati lokasi salat, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal berdiri bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTB, menunaikan salat Idulfitri dalam nuansa khidmat dan kebersamaan, Sabtu (21/3/2026).

Momentum ini tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan spiritual yang telah dilalui selama sebulan penuh.

Dalam sambutannya, Miq Iqbal—sapaan akrab gubernur—menggambarkan Ramadan sebagai madrasah kehidupan, tempat umat ditempa menjadi pribadi yang lebih sabar, berakhlak, dan peduli terhadap sesama.

“Ramadan adalah perjalanan spiritual yang indah dan penuh makna. Setiap detik terasa bernilai, setiap doa terasa dekat dengan langit, dan setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya,” ujarnya.

Bagi masyarakat NTB, Ramadan bukan hanya rangkaian ritual, tetapi pengalaman kolektif yang membangun kehangatan sosial.

Mulai dari sahur yang sederhana, lantunan ayat suci Al-Qur’an di masjid dan rumah, hingga kebersamaan saat berbuka puasa, semuanya menghadirkan kedamaian yang menyejukkan hati.

Suasana ini, menurut Miq Iqbal, menjadi fondasi penting dalam membangun harmoni sosial di tengah kehidupan yang kian dinamis.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa nilai-nilai Ramadan tidak boleh berhenti pada seremoni. Esensi puasa justru terletak pada kemampuan menahan diri; tidak hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari dorongan untuk berlebihan dalam tindakan, ucapan, dan perilaku sehari-hari.

“Puasa mendidik kita menahan diri dari haus dan lapar, juga menahan diri membeli walau mampu, berbicara walau bisa, dan bertindak walau mampu,” jelasnya.

Dalam pandangan ini, pengendalian diri bukan sekadar disiplin personal, melainkan fondasi untuk menjaga keseimbangan hidup, bahkan keseimbangan alam.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa ibadah puasa dan zakat mengandung pesan sosial yang kuat. Kehidupan, katanya, tidak semata tentang individu, tetapi tentang kebersamaan sebagai satu komunitas manusia.

Semangat berbagi yang tumbuh selama Ramadan perlu dijaga sebagai praktik sosial yang berkelanjutan, bukan musiman.

Seruan ini menjadi relevan di tengah tantangan sosial yang terus berkembang. Ketimpangan, tekanan ekonomi, hingga perubahan sosial menuntut hadirnya solidaritas yang nyata.

Dalam konteks ini, Idulfitri tidak hanya menjadi simbol kemenangan spiritual, tetapi juga titik tolak untuk memperkuat kepedulian sosial.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

“Kemenangan sejati adalah ketika hati kita lebih peduli, tangan kita lebih ringan berbagi, dan langkah kita lebih kuat membantu sesama,” tegas Miq Iqbal.

Pesan tersebut sekaligus menjadi arah bagi pembangunan daerah. Ia mengajak seluruh masyarakat NTB untuk menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai energi kolektif dalam membangun daerah yang makmur dan mendunia, dengan tetap berlandaskan persatuan dan kepedulian sosial.

Di tengah gema takbir yang mengakhiri rangkaian ibadah Ramadan, pesan itu terasa relevan dan mendalam. Idulfitri bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk melanjutkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengakhiri sambutannya, Gubernur menyampaikan ucapan selamat Idulfitri kepada seluruh masyarakat. Sebuah ucapan yang sederhana, namun sarat harapan agar setiap individu mampu membawa pulang semangat Ramadan ke dalam realitas kehidupan.

Dari Bumi Gora, Idulfitri tahun ini mengajarkan satu hal penting: bahwa kemenangan sejati tidak hanya diukur dari ibadah yang telah ditunaikan, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai itu hidup dan mengakar dalam tindakan nyata.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemrov ntb

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA