Lebaran, Kewarasan, dan Nada-Nada yang Pulang

Sabtu, 21 Maret 2026 - 19:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari kiri bawah searah jarum jam. Ary Juliyant, Pipiet Tripitaka, Pe Wira, Sangga Boemi, Wing Sentot Irawan, dan Apip Sutardi. Benang merahnya tetap satu: upaya menjadi lebih waras (Foto: ceraken.id)

Dari kiri bawah searah jarum jam. Ary Juliyant, Pipiet Tripitaka, Pe Wira, Sangga Boemi, Wing Sentot Irawan, dan Apip Sutardi. Benang merahnya tetap satu: upaya menjadi lebih waras (Foto: ceraken.id)

CERAKEN.ID — Lebaran Idulfitri, Sabtu 21 Maret 2026, menghadirkan makna yang tak tunggal bagi para pemusik di seputaran Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia tidak sekadar penanda usainya Ramadan, tetapi juga ruang refleksi yang menjelma menjadi nada, lirik, dan perjalanan batin.

Di antara riuh takbir dan tradisi silaturahmi, para musisi justru menemukan satu kata kunci yang sederhana namun dalam: waras.

“Meningkatkan kualitas kewarasan,” ujar Pe Wira singkat, seolah merangkum seluruh pengalaman spiritual Ramadan ke dalam satu simpul makna. Baginya, lebaran bukan hanya soal kemenangan, melainkan proses menjadi manusia yang lebih utuh, waras dalam hidup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Waras, dalam pengertian umum, memang kerap dimaknai sebagai kondisi sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Tubuh yang pulih dari penyakit, sekaligus pikiran yang jernih, mampu menimbang realitas secara logis dan wajar.

Namun, di tangan para seniman, makna waras bergerak lebih cair. Ia menjadi semacam kesadaran eksistensial: kemampuan untuk tetap utuh di tengah dunia yang seringkali gaduh dan penuh distraksi. Dalam konteks ini, lebaran menjadi titik jeda, sekaligus titik balik.

Hal serupa dirasakan oleh Sangga Boemi, vokalis Nusaria. Ia melihat setiap Ramadan dan lebaran selalu membawa nuansa berbeda, entah dari euforianya atau dari hal-hal kecil yang tiba-tiba terasa asing. Tahun ini, ia memaknainya sebagai perjalanan dan pencarian.

Puasa, bagi Sangga, bukan sekadar ritual, tetapi ruang untuk kembali. Kembali mencari akar, menelusuri nilai-nilai yang mungkin sempat terlewat atau terlupakan. Dari ibadah hingga laku hidup sehari-hari, semuanya menjadi bahan evaluasi.

Baca Juga :  Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri

“Lebaran ini saya lebih memaknainya sebagai perayaan atas kejujuran diri saya saja,” katanya.

Sebuah pengakuan yang jujur: bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada pengakuan sosial, melainkan keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri; mencari apa yang benar-benar ingin dicari, dan melakukan apa yang benar-benar ingin dilakukan.

Di sudut lain, Wing Sentot Irawan, frontman Yoiakustik, memandang lebaran dalam lanskap yang lebih luas. Tahun ini, kalender keagamaan seolah berderet rapat: Rabu Abu, Imlek, Nyepi, hingga Idulfitri.

Rentang waktu yang berdekatan itu, baginya, justru memperlihatkan wajah Indonesia yang penuh toleransi dan harmoni.

Di tengah keragaman perayaan, kehidupan tetap berjalan, termasuk proses kreatif. “Pengkaryaan jalan terus,” ujarnya, sembari menunjukkan sekitar sepuluh syair yang siap digarap. Salah satunya berjudul “2 Puluh 2 Satu”, dengan penggalan lirik:

BegituLah api sekam,

tungku perlu kayu menjadi abu,

Begitupun rintik hujan,

Daun kering tak menjadi sungkan.

Larik-larik itu seperti metafora kehidupan itu sendiri: tentang proses, tentang perubahan, dan tentang penerimaan. Seperti lebaran yang datang setelah puasa, setiap fase memiliki maknanya sendiri.

Sementara itu, Ary Juliyant memaknai lebaran sebagai bagian dari perjalanan panjang yang harus dijalani dengan mawas diri, namun tetap optimis. Di tengah persiapan Tourgerilya #14, ia tetap menjaga konsistensi sebagai bentuk karakter dalam bermusik.

Bagi Ary, berkarya bukan sekadar produksi, melainkan perjalanan hidup yang terus bergerak.

Tourgerilya bukan program instan. Sejak tahun 2000, ia telah menjadikannya sebagai pola perjalanan berkesenian yang digelar setiap dua tahun.

Baca Juga :  Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana

Selama 26 tahun, perjalanan itu telah melintasi berbagai kota bahkan negara. Konsistensi itu sendiri menjadi bentuk “kewarasan” lain; keteguhan dalam memilih jalan, sekaligus keberanian untuk terus berjalan di atasnya.

Berbeda lagi dengan Pipiet Tripitaka. Baginya, lebaran tahun ini terasa biasa saja. “Sama saja, lebaran di rantau,” ujarnya.

Namun, justru di situlah ia menemukan makna lain: kekeluargaan yang lahir dari pertemuan dengan sesama perantau. Di tengah keterpisahan dari kampung halaman, solidaritas menjadi pengganti rumah.

Sementara Apip Sutardi membawa kisah yang lebih personal. Lebaran tahun ini menjadi momen mudik ke Pangandaran, Jawa Barat, bersama keluarga. Setelah merilis single “Sengigi”, ia kembali ke akar: ibu, rumah, dan kenangan masa kecil.

“Alhamdulillah. Mamah tos sepuh, karunya upami teu mudik,” katanya dalam bahasa Sunda, yang berarti ibunya sudah tua dan sayang jika tidak pulang.

Lebaran, dalam konteks ini, menjadi momentum yang sangat manusiawi; melepas rindu, merawat hubungan, dan menghargai waktu yang terus berjalan.

Dari berbagai cerita itu, tampak bahwa lebaran tidak pernah memiliki satu wajah yang sama. Ia bisa menjadi ruang pencarian, perayaan kejujuran diri, refleksi toleransi, konsistensi berkarya, hingga momen pulang yang penuh haru.

Namun, benang merahnya tetap satu: upaya menjadi lebih waras. Dalam dunia yang kian cepat dan kompleks, kewarasan menjadi kemewahan sekaligus kebutuhan.

Dan bagi para pemusik Lombok, lebaran adalah salah satu cara untuk merawatnya; melalui nada, kata, dan perjalanan hidup yang terus berlanjut.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri
Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana
“Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka
Yoiakustik, Hari Bumi, dan Nada-Nada yang Menjaga Kesadaran
Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional
Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:41 WITA

Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:54 WITA

Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:25 WITA

“Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka

Rabu, 29 April 2026 - 13:14 WITA

Yoiakustik, Hari Bumi, dan Nada-Nada yang Menjaga Kesadaran

Sabtu, 25 April 2026 - 17:45 WITA

Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA