CERAKEN.ID — Lebaran Idulfitri, Sabtu 21 Maret 2026, menghadirkan makna yang tak tunggal bagi para pemusik di seputaran Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia tidak sekadar penanda usainya Ramadan, tetapi juga ruang refleksi yang menjelma menjadi nada, lirik, dan perjalanan batin.
Di antara riuh takbir dan tradisi silaturahmi, para musisi justru menemukan satu kata kunci yang sederhana namun dalam: waras.
“Meningkatkan kualitas kewarasan,” ujar Pe Wira singkat, seolah merangkum seluruh pengalaman spiritual Ramadan ke dalam satu simpul makna. Baginya, lebaran bukan hanya soal kemenangan, melainkan proses menjadi manusia yang lebih utuh, waras dalam hidup.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Waras, dalam pengertian umum, memang kerap dimaknai sebagai kondisi sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Tubuh yang pulih dari penyakit, sekaligus pikiran yang jernih, mampu menimbang realitas secara logis dan wajar.
Namun, di tangan para seniman, makna waras bergerak lebih cair. Ia menjadi semacam kesadaran eksistensial: kemampuan untuk tetap utuh di tengah dunia yang seringkali gaduh dan penuh distraksi. Dalam konteks ini, lebaran menjadi titik jeda, sekaligus titik balik.
Hal serupa dirasakan oleh Sangga Boemi, vokalis Nusaria. Ia melihat setiap Ramadan dan lebaran selalu membawa nuansa berbeda, entah dari euforianya atau dari hal-hal kecil yang tiba-tiba terasa asing. Tahun ini, ia memaknainya sebagai perjalanan dan pencarian.
Puasa, bagi Sangga, bukan sekadar ritual, tetapi ruang untuk kembali. Kembali mencari akar, menelusuri nilai-nilai yang mungkin sempat terlewat atau terlupakan. Dari ibadah hingga laku hidup sehari-hari, semuanya menjadi bahan evaluasi.
“Lebaran ini saya lebih memaknainya sebagai perayaan atas kejujuran diri saya saja,” katanya.
Sebuah pengakuan yang jujur: bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada pengakuan sosial, melainkan keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri; mencari apa yang benar-benar ingin dicari, dan melakukan apa yang benar-benar ingin dilakukan.
Di sudut lain, Wing Sentot Irawan, frontman Yoiakustik, memandang lebaran dalam lanskap yang lebih luas. Tahun ini, kalender keagamaan seolah berderet rapat: Rabu Abu, Imlek, Nyepi, hingga Idulfitri.
Rentang waktu yang berdekatan itu, baginya, justru memperlihatkan wajah Indonesia yang penuh toleransi dan harmoni.
Di tengah keragaman perayaan, kehidupan tetap berjalan, termasuk proses kreatif. “Pengkaryaan jalan terus,” ujarnya, sembari menunjukkan sekitar sepuluh syair yang siap digarap. Salah satunya berjudul “2 Puluh 2 Satu”, dengan penggalan lirik:
BegituLah api sekam,
tungku perlu kayu menjadi abu,
Begitupun rintik hujan,
Daun kering tak menjadi sungkan.
Larik-larik itu seperti metafora kehidupan itu sendiri: tentang proses, tentang perubahan, dan tentang penerimaan. Seperti lebaran yang datang setelah puasa, setiap fase memiliki maknanya sendiri.
Sementara itu, Ary Juliyant memaknai lebaran sebagai bagian dari perjalanan panjang yang harus dijalani dengan mawas diri, namun tetap optimis. Di tengah persiapan Tourgerilya #14, ia tetap menjaga konsistensi sebagai bentuk karakter dalam bermusik.
Bagi Ary, berkarya bukan sekadar produksi, melainkan perjalanan hidup yang terus bergerak.
Tourgerilya bukan program instan. Sejak tahun 2000, ia telah menjadikannya sebagai pola perjalanan berkesenian yang digelar setiap dua tahun.
Selama 26 tahun, perjalanan itu telah melintasi berbagai kota bahkan negara. Konsistensi itu sendiri menjadi bentuk “kewarasan” lain; keteguhan dalam memilih jalan, sekaligus keberanian untuk terus berjalan di atasnya.
Berbeda lagi dengan Pipiet Tripitaka. Baginya, lebaran tahun ini terasa biasa saja. “Sama saja, lebaran di rantau,” ujarnya.
Namun, justru di situlah ia menemukan makna lain: kekeluargaan yang lahir dari pertemuan dengan sesama perantau. Di tengah keterpisahan dari kampung halaman, solidaritas menjadi pengganti rumah.
Sementara Apip Sutardi membawa kisah yang lebih personal. Lebaran tahun ini menjadi momen mudik ke Pangandaran, Jawa Barat, bersama keluarga. Setelah merilis single “Sengigi”, ia kembali ke akar: ibu, rumah, dan kenangan masa kecil.
“Alhamdulillah. Mamah tos sepuh, karunya upami teu mudik,” katanya dalam bahasa Sunda, yang berarti ibunya sudah tua dan sayang jika tidak pulang.
Lebaran, dalam konteks ini, menjadi momentum yang sangat manusiawi; melepas rindu, merawat hubungan, dan menghargai waktu yang terus berjalan.
Dari berbagai cerita itu, tampak bahwa lebaran tidak pernah memiliki satu wajah yang sama. Ia bisa menjadi ruang pencarian, perayaan kejujuran diri, refleksi toleransi, konsistensi berkarya, hingga momen pulang yang penuh haru.
Namun, benang merahnya tetap satu: upaya menjadi lebih waras. Dalam dunia yang kian cepat dan kompleks, kewarasan menjadi kemewahan sekaligus kebutuhan.
Dan bagi para pemusik Lombok, lebaran adalah salah satu cara untuk merawatnya; melalui nada, kata, dan perjalanan hidup yang terus berlanjut.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































