Lebaran Topat Senggigi: Harmoni Tradisi, Spiritualitas, dan Daya Tarik Wisata

Minggu, 29 Maret 2026 - 06:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Ini bukan hanya tradisi, tetapi refleksi spiritual yang menguatkan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama,” ujar Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

“Ini bukan hanya tradisi, tetapi refleksi spiritual yang menguatkan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama,” ujar Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal (Foto: pemprov ntb/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Lombok Barat, 28 Maret 2026 — Semilir angin pesisir Pantai Senggigi membawa aroma khas anyaman ketupat yang berpadu dengan riuh tawa masyarakat. Lebaran Topat 2026 di Kabupaten Lombok Barat kembali hadir sebagai perayaan adat yang sarat makna, memadukan nilai spiritual, tradisi leluhur, dan kemeriahan budaya khas Suku Sasak.

Dipusatkan di kawasan Makam Batulayar dan Amphitheater Senggigi, Sabtu (28/3), perayaan tahun ini terasa lebih hidup dengan sentuhan atraksi budaya yang memikat.

Sejak pagi hari, ribuan masyarakat memadati lokasi. Mereka datang mengenakan busana terbaik, membawa dulang berisi ketupat dan hidangan khas, menciptakan panorama budaya yang kaya warna.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wisatawan domestik hingga mancanegara pun turut larut dalam suasana, menyaksikan langsung tradisi unik yang hanya dapat dijumpai di Pulau Lombok.

Baca Juga :  Deru Mesin dan Gairah Ekonomi di The Mandalika

Kehadiran Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, bersama Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini dan Wakil Bupati Nurul Adha, semakin menambah semarak suasana. Di tengah gemuruh masyarakat, gubernur menyampaikan apresiasinya atas konsistensi masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga tradisi Lebaran Topat sebagai identitas budaya Sasak.

Menurutnya, Lebaran Topat bukan sekadar penutup rangkaian Idulfitri, melainkan perayaan penuh makna yang diwariskan secara turun-temurun. Filosofi ketupat yang memiliki empat sisi—Lebaran, Luberan, Leburan, dan Labur—menjadi simbol kesempurnaan ibadah, keikhlasan berbagi, saling memaafkan, serta kembalinya manusia pada kesucian diri.

“Ini bukan hanya tradisi, tetapi refleksi spiritual yang menguatkan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama,” ujarnya.

Di sisi lain, Bupati Lombok Barat menegaskan bahwa Lebaran Topat adalah warisan leluhur yang tak ternilai, yang terus hidup dalam denyut nadi masyarakat Sasak. Tradisi yang digelar setiap 8 Syawal ini tidak hanya diisi dengan ziarah makam ulama dan doa bersama, tetapi juga menjadi momen kebersamaan keluarga di kawasan pantai.

Baca Juga :  Menata Pondasi UMKM NTB Menuju Pasar Global

Tahun ini, wajah Lebaran Topat tampil lebih semarak. Berbagai atraksi budaya, parade kreatif, hingga partisipasi pelaku pariwisata seperti hotel dan resort di kawasan Senggigi menghadirkan nuansa baru tanpa menghilangkan akar tradisi.

Iringan musik tradisional, pertunjukan seni, hingga arak-arakan ketupat menjadi daya tarik tersendiri yang memikat setiap pengunjung.

Lebaran Topat kembali menegaskan dirinya bukan sekadar perayaan adat, melainkan pesta budaya yang merekatkan kebersamaan, memperkuat identitas, sekaligus menjadi magnet pariwisata unggulan di Nusa Tenggara Barat.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun pemprov ntb

Berita Terkait

Menata Ulang BPBD: Dari Pemadam Krisis Menjadi Pengelola Risiko Bencana
Suara Kesetaraan dari Bumi Gora
Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo
Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB
Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia
Desa Berdaya, Menanam Harapan dari Akar Pembangunan NTB
Iduladha di Bumi Gora dan Seruan Merawat Kepedulian
Akademi Isin Angsat dan Ikhtiar Membaca Laut dari Perspektif Seni

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:15 WITA

Menata Ulang BPBD: Dari Pemadam Krisis Menjadi Pengelola Risiko Bencana

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:59 WITA

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:36 WITA

Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Selasa, 2 Juni 2026 - 18:17 WITA

Menjaga Ingatan, Mencegah Kehilangan: Simulasi Kebakaran di Museum Negeri NTB

Selasa, 2 Juni 2026 - 17:23 WITA

Pancasila dari Bumi Gora untuk Perdamaian Dunia

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA