CERAKEN.ID — Di tengah geliat pariwisata yang terus berkembang, Mataram kembali menjadi titik tolak lahirnya sebuah gagasan strategis.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah merancang sebuah guidebook pariwisata berkualitas berkelanjutan, sebuah dokumen yang tidak sekadar menjadi panduan teknis, tetapi juga peta jalan menuju cita-cita besar: menjadikan NTB sebagai destinasi pariwisata kelas dunia.
Gagasan ini lahir dari kesadaran sederhana namun mendasar: pariwisata tidak cukup hanya ramai, tetapi harus berkualitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam konteks global yang semakin kompetitif, kualitas menjadi kata kunci—baik dalam pengalaman wisatawan, kesiapan destinasi, hingga dampak ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat lokal.
Arah Pembangunan Pariwisata
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTB, Muhammad Erwan, menyebut bahwa penyusunan guidebook ini tengah berlangsung dan diharapkan dapat segera rampung. Pernyataan tersebut mengandung optimisme sekaligus urgensi: bahwa arah pembangunan pariwisata membutuhkan fondasi yang jelas dan terukur.
Lebih dari sekadar dokumen, guidebook ini dirancang sebagai kerangka strategis yang memetakan kawasan-kawasan unggulan di NTB. Tidak hanya dari sisi keindahan alam, tetapi juga berdasarkan kesiapan infrastruktur, konektivitas, sarana prasarana, serta kualitas sumber daya manusia.
Pendekatan ini menandai pergeseran paradigma, dari pariwisata berbasis potensi menuju pariwisata berbasis kesiapan.
Dalam praktiknya, pemetaan ini menjadi penting. NTB memiliki keragaman destinasi yang luas: dari pesona pantai di selatan Lombok, kawasan geopark di Sumbawa, hingga desa-desa wisata yang menyimpan kekayaan budaya lokal.
Namun tanpa perencanaan yang terintegrasi, potensi tersebut berisiko berkembang secara tidak merata.
Di sinilah guidebook mengambil peran sebagai kompas. Ia tidak hanya menunjukkan ke mana arah pembangunan harus dituju, tetapi juga bagaimana langkah-langkah itu ditempuh. Dengan kata lain, dokumen ini menjadi jembatan antara visi besar dan implementasi di lapangan.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam penyusunan guidebook adalah strategi promosi. Dalam era digital saat ini, promosi tidak lagi menjadi domain eksklusif pemerintah.
Platform digital membuka ruang partisipasi yang luas, di mana pelaku usaha, komunitas, hingga individu dapat menjadi bagian dari ekosistem promosi.
Kesadaran ini mendorong Pemerintah Provinsi NTB untuk mengedepankan kolaborasi. Promosi pariwisata dipahami sebagai kerja bersama—melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.
Platform digital menjadi medium yang mempertemukan berbagai aktor tersebut dalam satu ruang yang sama: ruang narasi tentang NTB.
Penggerak Ekonomi Multiplikatif
Lebih jauh, penguatan promosi juga dilakukan melalui integrasi berbagai event dalam satu Calendar of Event tahunan. Pendekatan ini bukan sekadar soal penjadwalan, tetapi tentang membangun ritme pariwisata yang berkelanjutan.
Event-event yang tersebar di berbagai kabupaten/kota diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung sebagai satu kesatuan narasi destinasi.
Strategi ini memiliki implikasi yang luas. Semakin banyak event yang digelar, semakin besar peluang menarik wisatawan—baik domestik maupun mancanegara.
Namun dampaknya tidak berhenti pada angka kunjungan. Ia merembet ke sektor lain: membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, hingga meningkatkan pendapatan asli daerah.
Dalam konteks ini, pariwisata tidak lagi dipandang sebagai sektor tunggal, tetapi sebagai penggerak ekonomi multiplikatif. Setiap kunjungan wisatawan membawa efek berantai—dari penginapan, kuliner, transportasi, hingga produk ekonomi kreatif.
Dengan demikian, kualitas pariwisata menjadi penentu sejauh mana manfaat tersebut dapat dirasakan secara merata.
Namun, di balik optimisme itu, terdapat tantangan yang tidak kecil. Mewujudkan pariwisata kelas dunia berarti memenuhi standar global—baik dalam pelayanan, keberlanjutan lingkungan, maupun inklusivitas sosial.
Infrastruktur harus memadai, konektivitas harus lancar, dan sumber daya manusia harus kompeten.
Guidebook Menjadi Simbol
Di sinilah pentingnya pendekatan berkelanjutan yang diusung dalam guidebook. Pariwisata tidak boleh mengorbankan lingkungan atau menggerus nilai-nilai lokal. Sebaliknya, ia harus menjadi sarana untuk menjaga, merawat, dan memperkuat identitas daerah.
Apa yang tengah dilakukan Pemerintah Provinsi NTB menunjukkan bahwa arah pembangunan pariwisata tidak lagi bersifat sporadis. Ia dirancang secara sistematis, dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang saling terkait.
Guidebook menjadi simbol dari upaya tersebut, sebuah dokumen yang merangkum visi, strategi, dan langkah konkret menuju masa depan.
Pada akhirnya, cita-cita menjadikan NTB sebagai destinasi pariwisata kelas dunia bukanlah mimpi yang mustahil. Namun ia membutuhkan kerja panjang, konsistensi, dan kolaborasi.
Seperti yang disampaikan Muhammad Erwan, harapan itu tidak hanya tentang dikenal secara global, tetapi juga tentang menghadirkan kemakmuran bagi masyarakat.
Dan dari Mataram, arah itu sedang disusun—lembar demi lembar, menuju sebuah peta besar bernama pariwisata berkelanjutan. (*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun pemprov ntb


























































