CERAKEN.ID — Di tengah lanskap musik independen yang terus bergerak dinamis, lahir sebuah kolaborasi baru dari dua sosok kreatif yang berasal dari Lombok. Sangga Boemi, yang dikenal sebagai vokalis band rock Tunggang Gunung, memilih mengambil langkah berbeda dari jalur yang selama ini membesarkan namanya.
Ia memutuskan keluar dari zona nyaman dan memulai petualangan musikal baru bersama Yuga Anggana, seorang akademisi sekaligus musisi multitalenta. Keduanya membentuk sebuah unit musik bernama Nusaria yang akan merilis single perdana berjudul Tanpa Nama pada Sabtu, 8 Maret 2026.
Kelahiran Nusaria bukan sekadar proyek musik biasa. Ia lahir dari pertemuan gagasan, kepekaan generasi muda terhadap dinamika hubungan modern, serta keberanian bereksperimen dalam bentuk musikal yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sangga Boemi mengakui bahwa proyek ini merupakan pengalaman baru baginya, terutama karena selama ini ia dikenal dengan karakter vokal yang kuat di jalur musik rock.
“Single ini adalah project grup baru saya bersama Kang Yuga. Namanya Nusaria,” ujar Sangga dalam sebuah percakapan santai. Dari kalimat sederhana itu, tampak bahwa Nusaria adalah ruang baru bagi eksplorasi musikal yang lebih intim dan personal.
Lagu Tanpa Nama sendiri ditulis oleh Yuga Anggana pada awal 2026. Lagu ini mengangkat tema yang dekat dengan realitas kehidupan generasi muda saat ini: hubungan tanpa status atau yang populer disebut situationship.
Fenomena ini menggambarkan relasi emosional yang dijalani dua orang tanpa kejelasan komitmen. Sebuah hubungan yang sering kali terasa rumit, menggantung, dan menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab.
Menurut Sangga, tema tersebut dipilih karena sangat relevan dengan pengalaman banyak remaja dewasa saat ini.
“Lagu ini bercerita tentang problematik hubungan orang dewasa yang sering disebut situasionship. Menjalani hubungan tanpa status. Situasi yang cukup rumit di kalangan remaja dewasa sekarang,” jelasnya.

Namun kekuatan Tanpa Nama tidak hanya terletak pada ceritanya. Lagu ini juga dikemas dalam nuansa musik yang unik: retro pop dengan aransemen vintage.
Pilihan musikal ini menjadi menarik karena menghadirkan estetika musik era 1970-an untuk membingkai kisah cinta yang sangat kontemporer.
Dalam proses kreatifnya, Yuga Anggana memegang peran penting sebagai penulis lagu sekaligus pengarah musikal. Aransemen lagu digarap secara mandiri olehnya sebelum kemudian Sangga dipercaya mengisi vokal.
Pertemuan antara komposisi Yuga dan karakter vokal Sangga akhirnya melahirkan kesadaran bahwa kolaborasi ini memiliki identitas tersendiri. Dari situlah nama Nusaria kemudian lahir.
Secara etimologis, Nusaria memiliki makna yang sederhana namun hangat. “Nusa” merujuk pada pulau, tempat mereka tumbuh dan membangun pengalaman hidup. Sementara “ria” berasal dari bahasa lama yang berarti bersenang-senang atau bergembira.
Nama ini seolah menjadi refleksi dari semangat mereka: berkarya dengan ringan, jujur, dan tanpa beban ekspektasi berlebihan.
“Kami tidak berekspektasi terlalu besar. Hanya ingin berkarya secara organik melalui Nusaria, menangkap sisi-sisi lain yang dirasakan dalam keseharian para remaja atau pengalaman pribadi,” kata Sangga.
Pendekatan yang organik ini terlihat pula dalam format Nusaria yang masih sangat sederhana. Hingga kini Nusaria berjalan sebagai duo tanpa tambahan personel lain.
Format minimalis ini justru dianggap memberi ruang yang lebih intim antara pencipta lagu dan penyampai suara.
Sangga menjelaskan bahwa seluruh proses rekaman dilakukan di Barline Audiolab Record. Di ruang studio inilah ide-ide musikal Nusaria mulai menemukan bentuknya.

Tidak ada produksi besar atau pendekatan industri yang berlebihan. Semua digarap dengan kesederhanaan yang justru menjadi kekuatan utama proyek ini.
Keunikan lain Nusaria terletak pada keberanian mereka menggabungkan karakter vokal rock Sangga dengan musik retro pop yang lembut dan hangat. Perpaduan ini lahir dari rasa penasaran Yuga Anggana terhadap kemungkinan artistik yang belum pernah dicoba sebelumnya.
“Yuga penasaran dengan karakter vokal saya yang tinggi dan biasanya berada di jalur rock. Bagaimana jadinya jika karakter itu ditempatkan dalam jalur musik retro,” ujar Sangga.
Eksperimen itu akhirnya menjadi alasan penting bagi Sangga untuk keluar dari zona nyaman.
Bagi seorang musisi, langkah semacam ini tidak selalu mudah. Namun justru dari proses tersebut, ia menemukan sisi emosional baru dalam cara menyampaikan lagu.
“Saya mencoba membuka sisi emosional yang lebih dalam pada lagu Tanpa Nama,” tambahnya.
Pilihan merilis lagu ini pada 8 Maret 2026 juga bukan tanpa makna. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional.
Nusaria ingin menghadirkan pesan reflektif, terutama bagi perempuan, agar tidak terjebak dalam hubungan yang tidak memberikan kejelasan.
Melalui Tanpa Nama, Nusaria seperti mengingatkan bahwa hubungan yang sehat seharusnya dibangun di atas kejujuran dan komitmen. Ketika sebuah relasi hanya menghadirkan ketidakpastian, maka keberanian untuk memilih jalan sendiri menjadi bentuk penghormatan terhadap diri.
Pesan ini terasa relevan dengan dinamika hubungan modern yang sering kali terjebak dalam ambiguitas. Lagu Tanpa Nama mencoba menghadirkan refleksi itu tanpa menggurui, melainkan melalui narasi emosional yang dibingkai melodi hangat khas retro pop.

Meski baru akan merilis single perdana, Nusaria sebenarnya telah menyiapkan sejumlah karya lain. Hingga saat ini sudah ada enam lagu yang siap diproduksi, terdiri dari empat lagu ciptaan Yuga Anggana dan dua lagu karya Sangga Boemi.
Rencananya, lagu-lagu tersebut akan dirilis secara bertahap. Tidak menutup kemungkinan seluruhnya akan dikumpulkan menjadi sebuah album penuh di masa mendatang.
Strategi ini memungkinkan setiap lagu mendapat ruang apresiasi yang lebih luas sebelum akhirnya menjadi satu kesatuan karya.
Bagi Sangga, proyek Nusaria bukan sekadar eksperimen musikal. Ia adalah perjalanan pencarian jati diri sebagai musisi. Melalui musik, seseorang bisa menemukan kejujuran tentang apa yang ingin disampaikan kepada dunia.
“Melalui musik seseorang bisa menemukan ruang dalam pencarian jati dirinya dan kejujuran dalam menyampaikan sesuatu dalam bentuk lagu,” ujarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, kehadiran Nusaria juga menunjukkan bahwa ekosistem musik independen di Lombok terus bergerak. Kolaborasi lintas latar belakang—antara musisi rock dan akademisi multitalenta—membuka kemungkinan kreatif yang tidak terduga.
Nusaria hadir bukan untuk mengejar popularitas instan. Ia lahir dari kesenangan sederhana dalam berkarya, dari percakapan, rasa penasaran, dan keberanian mencoba hal baru.
Sesuai dengan makna namanya, Nusaria seolah mengajak kita untuk merayakan musik dengan cara yang paling jujur: bersenang-senang di tempat kita tumbuh bersama. Sebuah perayaan kecil atas perjalanan kreatif dua anak pulau yang memilih berbagi cerita melalui lagu.
Dan pada akhirnya, publik tinggal menunggu bagaimana Tanpa Nama menemukan pendengarnya. Ketika single ini resmi dirilis, Nusaria tidak hanya memperkenalkan sebuah lagu baru, tetapi juga memperlihatkan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman sering kali menjadi awal dari kemungkinan-kemungkinan artistik yang lebih luas.
Sebagaimana makna Nusaria itu sendiri: kegembiraan yang lahir dari tanah tempat kita bertumbuh. Sebuah ruang musikal baru yang layak untuk dinantikan—dan tentu saja, dirayakan. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































