Nusaria dan Romantika Retro: Saat Dua Musisi Lombok Menghidupkan Cinta Generasi Kini

Rabu, 4 Maret 2026 - 17:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sanggaboemi (kiri) dan Yuga Anggana (kanan).Kepercayaan timbal balik itulah yang akhirnya melahirkan Nusaria pada Februari 2026 (Foto: ist/ceraken.id)

Sanggaboemi (kiri) dan Yuga Anggana (kanan).Kepercayaan timbal balik itulah yang akhirnya melahirkan Nusaria pada Februari 2026 (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Yuga Anggana dan Sanggaboemi bukan nama asing di skena musik Lombok. Keduanya telah lama dikenal melalui karya-karya yang konsisten, baik bersama band maupun dalam proyek solo masing-masing.

Yuga aktif sebagai motor kreatif di balik banyak produksi musik lokal—sebagai produser, komposer, dan arranger—serta kini dikenal melalui band tetapnya, Dipsy Do. Sementara Sangga merupakan vokalis utama Tunggang Gunung, band yang juga memiliki jejak historis bersama Yuga.

Relasi keduanya terjalin sejak 2015, saat sama-sama menjadi bagian dari lingkungan kampus UNU NTB. Kedekatan itu bukan sekadar pertemanan biasa. Bahkan Tunggang Gunung, band tempat Sangga bernaung, merupakan salah satu proyek yang ikut dibentuk oleh tangan Yuga bersama para personelnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diam-diam, Yuga mengakui dirinya selalu mengagumi karakter vokal Sangga. Suara tinggi dan bertenaga yang selama ini identik dengan jalur rock menurutnya menyimpan kemungkinan lain yang belum pernah dijajal.

“Saya selalu penasaran bagaimana kalau karakter vokal Sangga ditempatkan di musik retro,” ujar Yuga.

Kepercayaan itu ternyata berbalas. Selama ini, Sangga juga hampir selalu mempercayakan produksi karya-karyanya di tangan Yuga.

“Kang Yuga itu sudah seperti Ahmad Dhani. Dia tahu betul komposisi musik yang pas dan karakter musik yang sesuai kalau disodori lagu. Jadi saya yakin saya dipilih bukan tanpa alasan. Pasti Kang Yuga sudah paham bagaimana Tanpa Nama kalau dilantunkan oleh saya. Dan memang saya menyukai tipikal lagunya,” kata Sangga.

Kepercayaan timbal balik itulah yang akhirnya melahirkan Nusaria pada Februari 2026.

Baca Juga :  “Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka
Lahir dari Jenuh, Bertumbuh dari Kejujuran

Nusaria bukan proyek yang lahir dari ambisi industri. Justru sebaliknya. Yuga mengaku sedang berada pada fase jenuh dengan ragam genre dan tuntutan produksi yang kompleks.

Sebagai produser yang kerap membantu banyak musisi di Lombok, ia terbiasa mengerjakan karya dengan standar teknis tinggi. Nusaria menjadi ruang pelepasan—tempat ia bisa kembali ke kesederhanaan.

Dari kejenuhan itu, lahirlah sebuah lagu sederhana yang kemudian dikirimkan kepada Sangga. Tanpa banyak diskusi panjang, Sangga langsung menyetujuinya dengan penuh semangat. Lagu tersebut diberi judul Tanpa Nama.

Sound Lama untuk Luka yang Sangat Kekinian

Secara musikal, Nusaria mengusung indie pop retro dengan estetika era 60–80-an. Referensi seperti The Beatles dan Naif menjadi warna yang menginspirasi arah bunyi mereka. Aransemen hangat, melodi sederhana dan mudah diingat, serta nuansa analog menjadi ciri utama.

Namun di balik sound yang terdengar klasik, tema yang diangkat sangat kontemporer: hubungan tanpa status atau situationship—relasi yang berjalan tanpa kepastian, tanpa definisi, dan kerap menyisakan luka emosional.

Jika di proyek sebelumnya Yuga dan Sangga kerap berbicara tentang kritik sosial, isu lingkungan, hingga lirik bernuansa sastrawi, di Nusaria keduanya sepakat membungkus cerita dengan bahasa yang lebih lugas dan sederhana.

Seluruh instrumen dalam Tanpa Nama dimainkan sendiri oleh Yuga, sementara vokal dipercayakan sepenuhnya kepada Sangga. Proses rekaman dilakukan di Barline Audiolab, studio milik Yuga.

Single perdana ini dijadwalkan rilis pada 8 Maret 2026 melalui berbagai platform musik digital, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional—sebuah momentum reflektif yang selaras dengan pesan lagu tentang keberanian meminta kejelasan dalam hubungan.

Baca Juga :  Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana
Duo Intim, dengan Kemungkinan yang Terbuka

Untuk saat ini, Nusaria masih diisi oleh dua personel saja—benar-benar menjadi ruang intim antara pencipta lagu dan penyanyi. Format ini justru dianggap memperkuat esensi proyek: relasi yang jujur antara komposer dan interpretasi vokal.

Meski demikian, keduanya tidak menutup kemungkinan untuk menambah personel di masa depan jika menemukan sosok yang tepat untuk memperkaya eksplorasi retro mereka.

“Kalau memang ada yang cocok dan bisa memperkuat visi kami, kenapa tidak. Tapi untuk sekarang, kami menikmati format paling sederhana ini,” ujar keduanya.

Nama Nusaria sendiri berasal dari “Nusa” yang merujuk pada Nusa Tenggara Barat, tanah tempat mereka bertumbuh, serta “ria” yang berarti bersenang-senang. Meski lahir sebagai ruang bermain dan pelepas penat, keseriusan mereka terlihat dari perencanaan rilisan berkala, showcase, hingga penggarapan visual berupa video klip atau video lirik.

Tanpa beban ekspektasi besar, Nusaria memilih berjalan organik. Jika musik mereka menemukan banyak pendengar, itu adalah bonus. Yang terpenting, proyek ini telah menemukan fungsinya sejak awal: menjadi ruang jujur bagi dua musisi yang telah lama saling percaya, sekaligus menjadi teman bagi mereka yang pernah mencintai tanpa nama.

Single Tanpa Nama akan tersedia di berbagai platform musik digital mulai 8 Maret 2026, dan perjalanan Nusaria dapat diikuti melalui akun Instagram resmi mereka di @nusaria.id. *(yagna)*

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan yagna

Berita Terkait

Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri
Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana
“Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka
Yoiakustik, Hari Bumi, dan Nada-Nada yang Menjaga Kesadaran
Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional
Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:41 WITA

Tak Punya Pulang: Ketika Nusaria Menemukan Rumah di Dalam Diri

Kamis, 4 Juni 2026 - 10:54 WITA

Kisses Hill, Romantika Kebersamaan dalam Langkah yang Sederhana

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:25 WITA

“Nikmati Syukuri”, Suara Reggae dari Lombok untuk Alam yang Terluka

Rabu, 29 April 2026 - 13:14 WITA

Yoiakustik, Hari Bumi, dan Nada-Nada yang Menjaga Kesadaran

Sabtu, 25 April 2026 - 17:45 WITA

Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA