CERAKEN.ID — Di tengah dinamika ekonomi perkotaan yang terus bergerak, Mataram kembali menegaskan posisinya sebagai daerah yang tidak hanya adaptif, tetapi juga progresif dalam merespons persoalan ketenagakerjaan.
Komitmen itu kini memasuki tahap yang lebih konkret, setelah mendapat perhatian di tingkat nasional melalui kunjungan lapangan Tim Validasi dari Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri, sebuah unit strategis di bawah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.
Kerja Kolektif Lintas Institusi
Kunjungan yang berlangsung selama 6–7 April 2026 ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia merupakan lanjutan dari proses panjang, dimulai dari pemaparan visi dan strategi yang disampaikan secara virtual oleh Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, pada 1 April 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengusung tema “Ekonomi Kota Tumbuh Berkualitas Atasi Pengangguran”, presentasi tersebut menjadi pintu masuk bagi penilaian lebih mendalam terhadap keseriusan pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran terbuka.
Namun, sebagaimana lazimnya dalam tata kelola kebijakan publik, narasi dan presentasi tidaklah cukup. Ia harus diuji di lapangan; di ruang-ruang kerja, di balai pelatihan, dan dalam pengalaman nyata masyarakat.
Di sinilah peran verifikasi menjadi penting: memastikan bahwa apa yang dirancang benar-benar hidup dan berjalan.
Di Ruang Tamu Kantor Wali Kota Mataram, suasana penyambutan berlangsung hangat namun sarat makna. Wali Kota didampingi oleh Sekretaris Daerah L. Alwan Basri, jajaran asisten, serta organisasi perangkat daerah terkait.
Kehadiran mereka mencerminkan satu hal: bahwa isu pengangguran bukan tanggung jawab satu sektor, melainkan kerja kolektif lintas institusi.
Tim Validasi yang dipimpin oleh Erny Bhayangkarita Tumundo datang dengan mandat yang jelas; menilai, menguji, dan memverifikasi. Dalam konteks ini, kunjungan lapangan menjadi instrumen untuk membaca realitas secara lebih utuh: apakah program berjalan sesuai rencana, apakah fasilitas dimanfaatkan optimal, dan yang terpenting, apakah masyarakat benar-benar merasakan dampaknya.
Selama proses validasi, pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada aspek administratif. Tim menelusuri keterhubungan antar elemen dalam ekosistem ketenagakerjaan: dari pelatihan kerja, peningkatan keterampilan, hingga akses terhadap dunia usaha.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pengangguran bukan sekadar angka statistik, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan solusi komprehensif.
Langkah itu terlihat dari rangkaian kunjungan ke berbagai titik strategis. Bersama jajaran Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram, Tim Validasi mendatangi kantor dinas sebagai pusat koordinasi kebijakan, lalu bergerak ke Balai Latihan Kerja Dalam dan Luar Negeri (BLKDLN) NTB—ruang di mana keterampilan ditempa dan harapan dirajut.
Tidak berhenti di situ, kunjungan juga dilakukan ke Lembaga Kursus dan Pelatihan (LPK) Ideal Salon serta PT. Harum Manis/Netral, yang menjadi representasi keterlibatan sektor swasta dalam membuka peluang kerja.
Di tempat-tempat tersebut, realitas berbicara lebih jujur daripada laporan tertulis. Mesin pelatihan yang beroperasi, instruktur yang membimbing, hingga peserta yang tekun belajar menjadi bukti bahwa program tidak berhenti pada dokumen.
Ia hidup, bergerak, dan memberi kemungkinan baru bagi mereka yang sebelumnya berada di batas ketidakpastian.
Ruang Evalusi, Perbaikan dan Penguatan
Pertemuan dengan para penerima manfaat menjadi momen reflektif dalam rangkaian kunjungan ini. Dua peserta pelatihan yang ditemui Tim Validasi menghadirkan wajah konkret dari kebijakan publik: manusia dengan harapan, dengan cerita, dan dengan perjuangan.
Dari mereka, dapat dibaca sejauh mana program pelatihan benar-benar menjawab kebutuhan, serta bagaimana keterampilan yang diperoleh membuka akses terhadap dunia kerja.
Dalam perspektif yang lebih luas, apa yang dilakukan Pemerintah Kota Mataram menunjukkan pergeseran pendekatan dalam penanganan pengangguran. Jika sebelumnya kebijakan cenderung bersifat parsial dan sektoral, kini pendekatan yang diambil lebih terintegrasi.
Pelatihan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan kebutuhan industri. Pemberdayaan tidak hanya berbicara tentang peningkatan kapasitas, tetapi juga tentang membuka akses dan peluang.
Pendekatan ini sekaligus mencerminkan kesadaran bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat diukur semata dari angka-angka makro. Pertumbuhan yang berkualitas adalah pertumbuhan yang mampu menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kesenjangan, dan memberi ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara produktif.
Verifikasi lapangan oleh BSKDN menjadi semacam cermin bagi Kota Mataram, cermin yang memantulkan sejauh mana komitmen telah diwujudkan.
Namun, lebih dari itu, ia juga menjadi momentum pembelajaran. Bahwa dalam setiap kebijakan, selalu ada ruang untuk evaluasi, perbaikan, dan penguatan.
Di tengah tantangan global dan dinamika lokal, langkah-langkah yang dilakukan Mataram memberi pesan penting: bahwa penanganan pengangguran tidak bisa dilakukan secara instan. Ia membutuhkan perencanaan matang, kolaborasi lintas sektor, dan konsistensi dalam implementasi.
Pada akhirnya, upaya ini bukan hanya tentang memenuhi indikator penilaian nasional. Ia adalah bagian dari ikhtiar yang lebih besar; menghadirkan kota yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga memberi ruang hidup yang layak bagi warganya.
Kota yang tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia.
Dan di Mataram, proses itu sedang berlangsung. Perlahan, namun pasti. (*)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun ppid kota mataram


























































