Lebaran Topat Mataram 2026: Merawat Tradisi, Menggerakkan Ekonomi Pesisir

Rabu, 25 Maret 2026 - 18:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Miq Aweng,“Tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan adat, melainkan instrumen ekonomi yang efektif untuk meningkatkan taraf hidup warga lokal di Kota Mataram.” (Foto: ist/ceraken.id)

Miq Aweng,“Tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan adat, melainkan instrumen ekonomi yang efektif untuk meningkatkan taraf hidup warga lokal di Kota Mataram.” (Foto: ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram, 25 Maret 2026 — Pemerintah Kota Mataram kembali menegaskan komitmennya dalam merawat tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui perayaan Lebaran Ketupat yang akan digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Tahun ini, perayaan dipusatkan di dua titik penting, yakni Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro, yang sarat nilai historis, religius, dan sosial budaya.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram, H. L. Martawang, yang akrab disapa Miq Aweng, menyampaikan bahwa pemilihan dua lokasi tersebut bukan tanpa pertimbangan matang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain sebagai langkah strategis untuk mengurai kepadatan pengunjung, kedua tempat ini juga memiliki nilai historis yang kuat sebagai pusat penyebaran Islam di kawasan pesisir Lombok.

“Insya Allah hari Sabtu, 28 Maret 2026 dilaksanakan di dua tempat yaitu di Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro,” ujar Miq Aweng saat dihubungi, Rabu (25/3/2026).

Makam Loang Baloq, misalnya, dikenal sebagai salah satu situs penting yang berkaitan dengan tokoh penyebar Islam, seperti Maulana Syech Gaus Abdurrazak atau Sayyid Tohri, yang menurut penuturan sejarah lisan berasal dari Jazirah Arab dan tiba di Nusantara pada abad ke-19.

Tradisi ziarah di lokasi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga terintegrasi dengan aktivitas spiritual lainnya seperti zikir dan ngurisan (cukur rambut bayi).

Baca Juga :  Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram

Dengan membagi pusat kegiatan di dua lokasi, pemerintah berharap perayaan dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan nyaman. Di sisi lain, pendekatan ini juga membuka ruang bagi pengembangan kawasan pesisir sebagai destinasi wisata berbasis budaya.

Loang Baloq di Sekarbela dan Bintaro di Ampenan dinilai memiliki aksesibilitas yang baik, memungkinkan masyarakat tidak hanya berziarah, tetapi juga menikmati suasana rekreasi di tepi pantai.

Lebaran Topat sendiri merupakan tradisi khas masyarakat Sasak di Lombok yang dirayakan tujuh hari setelah Idul Fitri. Tradisi ini biasanya diawali dengan ziarah makam dan doa bersama, yang kemudian dilanjutkan dengan makan ketupat bersama sebagai simbol syukur dan kebersamaan.

“Lebaran Topat sangat sesuai dan merupakan tradisi khas masyarakat Sasak di Lombok. Ini dirayakan seminggu setelah Idul Fitri, biasanya setelah masyarakat menyelesaikan puasa sunah enam hari di bulan Syawal,” jelas Miq Aweng.

Lebih dari sekadar tradisi, Lebaran Topat juga mencerminkan perpaduan antara nilai religius dan kekayaan budaya lokal. Di berbagai wilayah Lombok, perayaan ini kerap dimeriahkan dengan atraksi unik seperti perang topat di Pura Lingsar atau arak-arakan gunungan ketupat di kawasan pesisir.

Baca Juga :  Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Tak hanya berdampak pada pelestarian budaya, perayaan ini juga memiliki efek ekonomi yang signifikan. Menurut Miq Aweng, Lebaran Topat berfungsi sebagai penggerak ekonomi lokal pasca-Idul Fitri, dengan melibatkan berbagai sektor, mulai dari pariwisata hingga pelaku usaha kecil.

Lonjakan pengunjung ke kawasan pantai seperti Loang Baloq dan Bintaro menjadi berkah tersendiri bagi pelaku UMKM. Pedagang makanan khas, penjual kerajinan, hingga penyedia jasa wisata mengalami peningkatan omzet yang cukup signifikan selama perayaan berlangsung.

Aktivitas ekonomi ini juga didukung oleh penggunaan bahan baku lokal dalam penyajian kuliner khas topat, yang memperkuat rantai ekonomi masyarakat setempat.

Selain itu, pengemasan Lebaran Topat sebagai agenda wisata tahunan turut memperpanjang masa kunjungan wisatawan setelah Idul Fitri. Hal ini menjadi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, terutama setelah sempat mengalami perlambatan akibat pandemi beberapa tahun lalu.

“Tradisi ini bukan hanya sekadar perayaan adat, melainkan instrumen ekonomi yang efektif untuk meningkatkan taraf hidup warga lokal di Kota Mataram,” tegasnya.

Dengan sinergi antara nilai religius, budaya, dan ekonomi, Lebaran Topat di Kota Mataram tidak hanya menjadi momentum silaturahmi, tetapi juga simbol ketahanan tradisi yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Sanitasi yang Memanusiakan
Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram
Takbir di Bawah Langit Mataram
Menyembelih Ego di Hari Raya
Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan
Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital
Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan
Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:42 WITA

Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:21 WITA

Takbir di Bawah Langit Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:24 WITA

Menyembelih Ego di Hari Raya

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:17 WITA

Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:10 WITA

Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA