Indonesia ASRI dari Mataram: Gotong Royong yang Menyemai Budaya Bersih

Sabtu, 11 April 2026 - 11:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Membangun legitimasi sosial bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

Membangun legitimasi sosial bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Gagasan tentang lingkungan yang aman, sehat, resik, dan indah bukan lagi sekadar slogan. Ia kini menemukan bentuk konkretnya melalui Gerakan Nasional Indonesia ASRI—sebuah inisiatif yang dicanangkan oleh Prabowo Subianto pada 2026.

Gerakan ini mengajak seluruh elemen bangsa, dari TNI/Polri, Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga masyarakat luas, untuk bersama-sama merawat ruang hidup yang lebih layak dan berkelanjutan.

Di Mataram, semangat itu tidak berhenti pada tataran kebijakan. Ia hadir dalam aksi nyata yang menyentuh ruang-ruang publik dan keseharian warga. Pemerintah Kota Mataram, di bawah kepemimpinan Mohan Roliskana, menunjukkan komitmen tersebut melalui kegiatan gotong royong yang melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan menjadi titik awal gerakan ini. Pada Jumat, 10 April 2026, kawasan tersebut tidak hanya dibersihkan, tetapi juga ditata dan dirawat sebagai simbol kepedulian terhadap ruang publik.

Aktivitas ini memperlihatkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian dari upaya membangun kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

Lebih jauh, aksi ini mengandung pesan penting: kebersihan harus bertransformasi dari kegiatan insidental menjadi budaya. Selama ini, kerja bakti sering kali hadir sebagai agenda seremonial—ramai di awal, redup setelahnya.

Baca Juga :  Sanitasi yang Memanusiakan

Padahal, esensi dari gerakan seperti Indonesia ASRI justru terletak pada konsistensi dan keberlanjutan.

Apa yang dilakukan di Mataram menunjukkan arah yang tepat. Ketika pemimpin daerah turun langsung ke lapangan, ia tidak hanya memberi contoh, tetapi juga membangun legitimasi sosial bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

Gotong royong pun kembali menemukan relevansinya sebagai nilai lokal yang mampu menjawab tantangan modern.

Langkah Sistematis Berkelanjutan

Namun, agar gerakan ini benar-benar bertransformasi menjadi budaya, diperlukan langkah-langkah lanjutan yang lebih sistematis dan berkelanjutan.

Pertama, integrasi ke dalam rutinitas. Kegiatan bersih-bersih tidak cukup dilakukan pada momen tertentu. Pemerintah dapat menetapkan hari atau jam khusus secara berkala di lingkungan kantor, sekolah, dan permukiman, sehingga kebersihan menjadi bagian dari ritme kehidupan sehari-hari.

Kedua, edukasi sejak dini. Sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebersihan dan kepedulian lingkungan. Kurikulum berbasis praktik; seperti pengelolaan sampah, penghijauan, dan pemeliharaan fasilitas umum—akan membentuk kebiasaan yang melekat hingga dewasa.

Ketiga, penguatan partisipasi komunitas. Kelompok masyarakat seperti karang taruna, komunitas lingkungan, hingga RT/RW dapat menjadi motor penggerak di tingkat lokal. Ketika gerakan tumbuh dari bawah, ia akan lebih berdaya tahan dibanding sekadar instruksi dari atas.

Baca Juga :  Menyembelih Ego di Hari Raya

Keempat, insentif dan apresiasi. Pemerintah dapat memberikan penghargaan bagi lingkungan, sekolah, atau instansi yang berhasil menjaga kebersihan dan keindahan wilayahnya. Pengakuan sosial semacam ini terbukti efektif dalam mendorong partisipasi berkelanjutan.

Kelima, pemanfaatan teknologi dan kampanye digital. Di era informasi, gerakan lingkungan perlu hadir di ruang digital. Dokumentasi kegiatan, kampanye kreatif, hingga pelaporan kondisi lingkungan dapat memperluas jangkauan sekaligus membangun kesadaran kolektif yang lebih luas.

Pada akhirnya, Indonesia ASRI bukan hanya tentang membersihkan sampah, tetapi tentang membangun cara pandang baru terhadap lingkungan. Ia menuntut perubahan perilaku, dari abai menjadi peduli, dari sesaat menjadi berkelanjutan.

Apa yang dimulai di RTH Pagutan adalah langkah kecil dengan makna besar. Dari sana, sebuah harapan tumbuh: bahwa kebersihan tidak lagi menunggu perintah, tetapi lahir dari kesadaran.

Bahwa gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan strategi masa depan. Dan bahwa kota yang bersih dan indah bukanlah mimpi, melainkan hasil dari kebiasaan yang terus dirawat bersama. (*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun ppid kota mataram

Berita Terkait

Sanitasi yang Memanusiakan
Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram
Takbir di Bawah Langit Mataram
Menyembelih Ego di Hari Raya
Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan
Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital
Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan
Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:42 WITA

Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:21 WITA

Takbir di Bawah Langit Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:24 WITA

Menyembelih Ego di Hari Raya

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:17 WITA

Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:10 WITA

Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA