CERAKEN.ID — Sabtu, 11 April 2026, sekira pukul 16.20 Wita, suasana sore di Studio Alam Bangket Gunung Pengsong, Kabupaten Lombok Barat, terasa teduh sekaligus hidup. Angin mengalir pelan dari arah perbukitan Gunung Pengsong, membawa aroma tanah dan dedaunan yang khas.
Di ruang terbuka itulah, pandangan ceraken.id tertumbuk pada dua karya rupa yang seolah berdialog dengan lanskap sekitarnya: “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi”.
Dua karya ini bukan sekadar objek visual. Ia seperti pintu masuk menuju cara pandang seorang seniman terhadap alam, budaya, dan kehidupan manusia yang saling bertaut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Percakapan sore itu pun mengalir, pelan namun penuh makna, di antara suguhan sederhana dan suara alam yang tak pernah benar-benar sunyi.
Orang-Orangan Sawah sang “Penakut”
Karya pertama, “Orang-Orangan Sawah”, menghadirkan figur yang akrab dalam kehidupan agraris Indonesia. Dalam keseharian petani, orang-orangan sawah atau “penakut” adalah boneka menyerupai manusia yang dipasang di tengah ladang untuk mengusir hama, terutama burung pemakan padi.
Namun, di tangan I Nyoman Sandiya, objek sederhana itu menjelma menjadi simbol yang lebih dalam.
“Orang-orangan sawah itu penjaga. Ia berdiri sendiri di panas dan hujan, menjaga hasil kerja petani, tapi tidak pernah menikmati panen,” ujarnya.
Di situlah letak kekuatan filosofinya. Sosok yang tampak diam dan tak bernyawa itu justru memuat narasi tentang ketulusan, tentang bekerja tanpa pamrih, tentang menjaga tanpa menuntut imbalan.
Ia menjadi metafora bagi kehidupan petani yang bersandar pada kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan.
Di berbagai daerah, termasuk Bali dan Lombok Utara, bentuk orang-orangan sawah berkembang menjadi ekspresi budaya. Ada yang mengenakan topi caping, baju bekas, bahkan diberi wajah-wajah jenaka.
Di Lombok Utara, pelepah kelapa kerap digunakan sebagai medium, digambar menyerupai wajah manusia. Materialnya pun sederhana: jerami, bambu, kayu, dan sisa-sisa pakaian.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan kearifan lokal yang kuat. Orang-orangan sawah bukan alat untuk membunuh, melainkan untuk “menakuti”. Ia mencerminkan pilihan etis petani: menjaga hasil panen tanpa merusak keseimbangan alam.
“Manusia butuh hasil tani, burung juga butuh makan. Orang-orangan sawah jadi jalan tengah,” kata Sandiya.
Dalam konteks ini, karya tersebut seperti mengingatkan bahwa harmoni bukan sesuatu yang abstrak. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang menghormati kehidupan lain. Dari sawah-sawah itulah, filosofi coexistence—hidup berdampingan—tumbuh secara alami.
Sandiya juga memilih menggunakan “kleong” sebagai bahan utama, alat yang akrab dengan kehidupan petani, biasa digunakan dalam proses tanam maupun pascapanen. Pilihan material ini bukan kebetulan, melainkan cara untuk menjaga kedekatan antara karya dan realitas sosial yang melahirkannya.
Gunung Merapi: Cincin Api dan Keteguhan
Berbeda dengan karya pertama yang berangkat dari lanskap datar sawah, karya kedua, “Gunung Merapi”, bergerak ke arah vertical menuju simbol yang lebih monumental.
Gunung, dalam kebudayaan Nusantara, bukan sekadar bentang alam. Ia adalah pusat makna.
Indonesia, yang berada di jalur cincin api dunia, memiliki ratusan gunung berapi aktif.
Salah satu yang paling dikenal adalah Gunung Merapi, yang berdiri gagah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunung ini bukan hanya fenomena geologis, tetapi juga bagian dari sistem kosmologi masyarakat Jawa; ruang di mana mitos, sejarah, dan spiritualitas bertemu.
Bagi Sandiya, gunung adalah simbol keteguhan.

“Gunung berdiri kokoh diterjang badai, panas, dan waktu. Manusia juga harus punya pendirian yang kuat,” ujarnya.
Makna itu terasa relevan dalam kehidupan modern yang penuh ketidakpastian. Gunung mengajarkan tentang ketahanan, tentang bagaimana tetap berdiri meski dihantam perubahan.
Namun, di balik keteguhan itu, gunung juga menyimpan pelajaran tentang kerendahan hati. Semakin tinggi sebuah gunung, semakin dingin dan sunyi puncaknya. Sedikit yang tumbuh di sana.
Ia mengingatkan bahwa ketinggian tidak selalu identik dengan kemewahan, melainkan sering kali dengan kesunyian.
Dalam banyak tradisi, mendaki gunung dimaknai sebagai perjalanan spiritual. Tanjakan terjal, kabut tebal, dan rasa lelah menjadi metafora dari perjalanan hidup manusia.
Puncak adalah tujuan, tetapi proses menuju ke sanalah yang membentuk karakter.
“Setelah sampai di puncak, kita turun lagi. Itu artinya kembali membumi,” tutur Sandiya.
Lebih jauh, gunung juga merupakan sumber kehidupan. Ia menyediakan air, tanah subur, dan udara bersih bagi wilayah di sekitarnya.
Namun, jika tidak dijaga, ia juga dapat menjadi sumber bencana. Letusan gunung berapi, longsor, hingga kerusakan ekosistem menjadi pengingat bahwa alam memiliki dua wajah: memberi dan menguji.
Di Bali, Jawa, hingga Lombok, gunung kerap dipandang sebagai tempat suci, ruang bersemayamnya para dewa dan leluhur. Dalam kosmologi Hindu, konsep Mahameru bahkan menempatkan gunung sebagai poros dunia, pusat semesta.
Tak heran jika banyak pura, candi, dan bangunan kerajaan dirancang menyerupai gunung, sebagai simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Karya “Gunung Merapi” milik Sandiya tampaknya merangkum semua lapisan makna itu: estetika, spiritualitas, sekaligus kesadaran ekologis.
Air Kelapa Muda Selaras Alam
Percakapan sore itu mengalir ringan, ditemani sajian air kelapa muda yang menyegarkan. Di tengah lanskap alami, minuman sederhana itu terasa seperti bagian dari pengalaman itu sendiri; alami, jujur, dan menenangkan.
Air kelapa muda, yang dikenal sebagai minuman isotonik alami, mengandung elektrolit penting seperti kalium, natrium, dan magnesium. Ia membantu rehidrasi tubuh, menjaga kesehatan jantung, serta mendukung fungsi metabolisme.
Dalam kondisi cuaca tropis seperti di Lombok, minuman ini menjadi pilihan yang bukan hanya menyegarkan, tetapi juga menyehatkan.
Lebih dari itu, kehadiran air kelapa muda dalam obrolan tersebut seperti mempertegas satu hal: bahwa kehidupan yang selaras dengan alam sering kali hadir dalam bentuk paling sederhana.
Dua karya Sandiya, “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi”, pada akhirnya memperlihatkan satu benang merah yang kuat: relasi manusia dengan alam. Yang satu berbicara tentang keseharian petani di sawah, yang lain tentang simbol besar dalam kosmologi Nusantara.
Namun keduanya bertemu pada kesadaran yang sama: bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari lingkungannya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, karya-karya ini mengajak untuk berhenti sejenak, melihat kembali hal-hal yang sering dianggap biasa, tetapi sebenarnya menyimpan makna mendalam.
Orang-orangan sawah yang berdiri sunyi di ladang, dan gunung yang menjulang diam di cakrawala; keduanya adalah guru. Mereka tidak berbicara, tetapi mengajarkan tentang ketulusan, keteguhan, keseimbangan, dan kerendahan hati.
Dan di Studio Alam Bangket Gunung Pengsong, di kaki bukit yang menghadap langit senja, pelajaran-pelajaran itu menemukan bentuknya dalam warna, tekstur, dan imajinasi seorang seniman yang memilih untuk mendengar suara alam dan menerjemahkannya menjadi karya. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































