CERAKEN.ID — Prestasi yang diraih Pemerintah Kota Mataram dalam ajang TOP BUMD Awards 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan tata kelola pelayanan publik daerah. Digelar di Hotel Raffles Jakarta pada Senin (13/04/2026), penghargaan tersebut menempatkan Mataram sebagai salah satu daerah dengan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang menonjol secara nasional.
Tiga capaian sekaligus diraih dalam momentum tersebut. Pertama, Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, dinobatkan sebagai Top Pembina RSUD 2026. Kedua, RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram meraih penghargaan Top BUMD Awards 2026 #RSUD Tipe B – Bintang 4. Ketiga, Direktur RSUD, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, dianugerahi gelar Top CEO RSUD 2026.
Ajang ini sendiri diselenggarakan oleh Majalah Top Business bersama Institut Otonomi Daerah, dengan dukungan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Dengan sistem penilaian yang komprehensif; meliputi kinerja keuangan, inovasi layanan, penerapan Good Corporate Governance (GCG), hingga kontribusi terhadap pendapatan daerah, penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan indikator kualitas pengelolaan yang terukur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, pertanyaan yang lebih mendasar justru muncul setelah panggung penghargaan usai: bagaimana menjadikan capaian ini tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan bertransformasi menjadi budaya kerja yang hidup dalam keseharian birokrasi dan BUMD? Bagaimana agar prestasi tersebut benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat?
Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai.
Menjadikan Prestasi sebagai Standar, Bukan Puncak
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menggeser cara pandang terhadap penghargaan. Prestasi tidak boleh diposisikan sebagai puncak pencapaian, melainkan sebagai baseline atau standar baru. Dengan kata lain, capaian “Bintang 4” bukanlah garis akhir, tetapi titik awal untuk menuju kualitas yang lebih tinggi.
Dalam praktik keseharian, hal ini berarti setiap unit kerja, terutama di lingkungan RSUD, harus menjadikan indikator penilaian TOP BUMD sebagai bagian dari sistem kerja rutin. Evaluasi kinerja keuangan, kualitas layanan, hingga kepatuhan terhadap prinsip GCG tidak lagi dilakukan hanya menjelang penilaian, tetapi menjadi siklus yang terus berjalan.
Budaya ini hanya dapat tumbuh jika kepemimpinan, baik di tingkat kepala daerah maupun manajemen BUMD, konsisten menanamkan orientasi pada kualitas dan akuntabilitas. Kepemimpinan yang sebelumnya diapresiasi melalui penghargaan harus diterjemahkan ke dalam praktik manajerial yang berkelanjutan.
Membumikan Inovasi sebagai Kebiasaan
Salah satu aspek penting dalam penilaian TOP BUMD adalah inovasi. Namun, inovasi sering kali dipahami sebagai proyek besar yang bersifat sesaat. Padahal, dalam konteks budaya organisasi, inovasi seharusnya hadir dalam bentuk kebiasaan kecil yang terus diperbaiki.
Di lingkungan RSUD, misalnya, inovasi tidak harus selalu berupa layanan baru berteknologi tinggi. Penyederhanaan alur administrasi pasien, peningkatan respons tenaga medis, hingga digitalisasi sistem antrean merupakan bentuk inovasi yang langsung dirasakan masyarakat.
Dengan demikian, budaya inovasi perlu dibangun dari bawah. Setiap pegawai didorong untuk melihat masalah sebagai peluang perbaikan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini akan menciptakan organisasi yang adaptif, bukan reaktif.
Menguatkan Orientasi Pelayanan Publik
BUMD, khususnya rumah sakit daerah, memiliki karakter ganda: sebagai entitas bisnis dan sebagai penyedia layanan publik. Tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara efisiensi keuangan dan kualitas pelayanan.
Penghargaan yang diraih RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram menunjukkan bahwa keseimbangan tersebut telah mulai tercapai. Namun, untuk menjadikannya budaya, orientasi pelayanan harus terus diperkuat.
Dalam keseharian, hal ini dapat diwujudkan melalui peningkatan empati dalam pelayanan, transparansi biaya, serta kemudahan akses bagi masyarakat. Pelayanan yang baik tidak hanya diukur dari kecanggihan fasilitas, tetapi juga dari pengalaman pasien secara keseluruhan.
Ketika masyarakat merasakan perubahan nyata, maka penghargaan yang diraih tidak lagi menjadi milik institusi semata, tetapi menjadi bagian dari kepercayaan publik.
Menjaga Konsistensi Tata Kelola (GCG)
Good Corporate Governance (GCG) sering kali menjadi jargon yang kuat di atas kertas, namun lemah dalam implementasi. Padahal, justru di sinilah fondasi keberlanjutan prestasi dibangun.
Transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness harus diterapkan dalam setiap keputusan organisasi. Mulai dari pengelolaan anggaran, pengadaan barang dan jasa, hingga pengambilan kebijakan strategis.
Konsistensi dalam menerapkan GCG akan menciptakan kepercayaan, baik dari pemerintah pusat, investor, maupun masyarakat. Tanpa tata kelola yang baik, prestasi yang diraih berisiko menjadi anomali yang sulit dipertahankan.
Menghubungkan Kinerja dengan Kesejahteraan Masyarakat
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan BUMD tidak berhenti pada penghargaan atau laporan keuangan, tetapi pada dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Pertanyaannya sederhana: apakah pelayanan kesehatan menjadi lebih mudah diakses? Apakah kualitas hidup masyarakat meningkat?
Untuk menjawab hal tersebut, diperlukan mekanisme evaluasi berbasis dampak (impact-based evaluation). Pemerintah Kota Mataram perlu memastikan bahwa setiap inovasi dan kebijakan memiliki indikator yang terhubung langsung dengan kesejahteraan masyarakat.
Misalnya, penurunan waktu tunggu pasien, peningkatan angka kesembuhan, atau perluasan jangkauan layanan kesehatan. Indikator-indikator ini harus dipantau secara berkala dan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan.
Membangun Ekosistem Kolaboratif
Prestasi dalam ajang nasional tidak lahir dari kerja individu, melainkan dari kolaborasi. Oleh karena itu, budaya kolaboratif perlu terus diperkuat, baik antar perangkat daerah maupun dengan sektor swasta dan masyarakat.
Kemitraan dengan institusi pendidikan, komunitas kesehatan, hingga sektor teknologi dapat membuka peluang inovasi yang lebih luas. Dalam konteks ini, RSUD tidak hanya menjadi penyedia layanan, tetapi juga pusat pengembangan pengetahuan dan inovasi kesehatan.
Kolaborasi juga memungkinkan transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, yang pada akhirnya memperkuat daya saing daerah.
Terakhir, namun tidak kalah penting, adalah menjaga spirit dan integritas. Prestasi sering kali membawa euforia, tetapi juga berpotensi menimbulkan rasa puas diri. Di sinilah pentingnya menjaga kesadaran bahwa tantangan ke depan akan semakin kompleks.
Integritas menjadi kunci agar setiap capaian tetap berada di jalur yang benar. Tanpa integritas, inovasi dan kinerja tinggi sekalipun dapat kehilangan makna.
Sebaliknya, dengan integritas yang kuat, setiap langkah kecil dalam keseharian akan menjadi bagian dari perjalanan besar menuju pelayanan publik yang lebih baik.
Hattrick prestasi yang diraih Pemerintah Kota Mataram dalam TOP BUMD Awards 2026 adalah pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, nilai sejatinya terletak pada bagaimana capaian tersebut diterjemahkan menjadi budaya kerja yang hidup dan berkelanjutan.
Dari inovasi hingga tata kelola, dari pelayanan hingga kolaborasi, semua harus bergerak dalam satu arah: meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ketika penghargaan tidak lagi menjadi tujuan, melainkan konsekuensi dari kerja yang konsisten, maka di situlah prestasi menemukan makna yang sesungguhnya.
Dan bagi Kota Mataram, perjalanan itu baru saja dimulai. (aks)


























































