CERAKEN.ID — Di sebuah sudut tenang di Perampuan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, kehidupan seni rupa menemukan denyutnya yang khas. Di sanalah I Nyoman Sandiya menapaki hari-harinya sebagai perupa sekaligus pengajar, merawat pilihan estetik yang ia yakini tanpa harus terjebak dalam kekakuan.
Tinggal “di lereng” Gunung Pengsong, ia seperti menemukan ruang kontemplasi yang memungkinkannya berdialog dengan warna, tekstur, dan bentuk-bentuk yang tidak selalu harus dimaknai secara harfiah.
“Abstrak dekoratif,” ujarnya singkat, seolah menegaskan identitas artistiknya. Namun, ia juga memberi ruang bagi tafsir lain. Baginya, penamaan bukanlah hal yang mutlak. Yang lebih penting adalah bagaimana karya itu hidup, beresonansi, dan memberi pengalaman visual bagi siapa pun yang melihatnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pilihan itu bukan tanpa dasar. Ia tumbuh dari proses panjang, dari ruang pendidikan hingga perjumpaan dengan berbagai pengaruh artistik yang membentuk cara pandangnya terhadap seni. Dalam setiap goresan, ada jejak perjalanan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga reflektif.
Abstraksi yang Membumi
Secara umum, seni abstrak dekoratif dikenal sebagai gaya yang memadukan bentuk non-representasional dengan unsur hias yang kuat. Fokusnya bukan pada representasi objek nyata, melainkan pada harmoni warna, garis, dan komposisi.
Dalam praktiknya, karya-karya seperti ini sering hadir sebagai elemen estetis dalam ruang modern, memberi aksen tanpa membebani makna.
Namun, pada tangan Sandiya, abstraksi tidak sepenuhnya menjauh dari realitas. Ia justru merangkum esensi dari pengalaman visual yang pernah ia temui. Warna menjadi bahasa utama, sementara bentuk-bentuk yang muncul adalah hasil dari dialog antara ingatan, rasa, dan intuisi.
Baginya, abstrak dekoratif adalah ruang kebebasan. Tidak ada keharusan untuk menyerupai objek tertentu, tidak ada batasan dalam memainkan komposisi.
Fleksibilitas ini memungkinkan karya-karyanya masuk ke berbagai ruang, baik secara fisik maupun emosional. Penikmatnya bebas memberi makna, tanpa harus dibatasi oleh narasi tunggal.
Dalam konteks ini, seni menjadi medium yang tidak menggurui. Ia hadir sebagai pengalaman; tenang, energik, bahkan kadang mewah dan hangat dalam satu tarikan napas visual.
Jejak Pendidikan dan Pengaruh Artistik
Pilihan estetik Sandiya tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari perjalanan panjang yang dimulai sejak masa pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa Negeri Denpasar. Di sana, ia mendalami bidang dekorasi, yang kemudian membentuk sensitivitasnya terhadap ruang dan komposisi visual.
Perjalanan itu berlanjut ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta, tempat ia bertemu dengan Amri Yahya. Sosok ini memberi pengaruh penting dalam cara Sandiya memahami abstraksi, khususnya melalui pendekatan batik abstrak yang kaya nuansa.
Dari Amri Yahya, ia belajar bahwa karya tidak harus selalu “dibaca” secara literal. Ada ruang bagi ketenangan, energi, dan kehangatan yang muncul dari perpaduan warna dan tekstur. Karya menjadi sesuatu yang hidup, tidak pernah selesai dalam satu tafsir.
Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa seni tidak harus rumit untuk menjadi bermakna. Justru dalam kesederhanaan yang terolah dengan baik, sebuah karya dapat menghadirkan kedalaman yang terus berubah setiap kali dipandang.
Tekstur, Relief, dan Dimensi Baru
Selain eksplorasi warna dan bentuk, Sandiya juga dikenal dengan karya-karya timbul yang menghadirkan dimensi berbeda dalam seni lukis. Pilihan ini berakar dari ketertarikannya pada relief candi di Jawa, yang ia pelajari secara langsung melalui kunjungan ke berbagai situs bersejarah seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, hingga Ratu Boko.
Relief-relief tersebut memberinya inspirasi tentang bagaimana kedalaman dapat dihadirkan dalam bidang datar. Dalam karya-karyanya, tekstur tidak hanya menjadi elemen tambahan, tetapi bagian integral dari ekspresi artistik. Ia menggunakan berbagai teknik, mulai dari impasto hingga kolase, untuk menciptakan efek tiga dimensi yang hidup.
Lukisan timbul, atau sering disebut relief painting, memang menawarkan pengalaman visual yang berbeda. Permukaannya yang tidak rata menciptakan bayangan alami, menghadirkan dinamika yang berubah sesuai pencahayaan. Tidak hanya dilihat, karya ini juga “dirasakan” melalui teksturnya.
Bagi Sandiya, pendekatan ini membuka ruang eksplorasi yang lebih luas. Warna bisa “dipahat”, komposisi bisa “dibangun”, dan ekspresi menjadi lebih bebas. Hasilnya adalah karya yang sederhana secara bentuk, tetapi kuat dalam karakter.
Keteguhan di Tengah Perubahan
Di tengah perkembangan seni rupa kontemporer yang terus bergerak cepat, keteguhan Sandiya pada abstrak dekoratif menjadi sikap yang menarik untuk dicermati. Ia tidak terjebak dalam tren, tetapi juga tidak menutup diri dari perubahan. Ada keseimbangan antara konsistensi dan keterbukaan.
Sebagai pengajar seni budaya di SMA Negeri 8 Mataram, ia juga membawa nilai-nilai tersebut ke dalam ruang kelas. Seni tidak diajarkan sebagai sekadar keterampilan teknis, tetapi sebagai cara memahami dunia; melalui warna, bentuk, dan rasa.
Pilihan estetiknya menjadi cerminan dari sikap hidup: bebas, tetapi bertanggung jawab; terbuka, tetapi tetap berakar. Dalam setiap karya, ada upaya untuk tetap relevan tanpa kehilangan jati diri.
Pada akhirnya, perjalanan I Nyoman Sandiya menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang bagaimana seorang perupa memaknai proses kreatifnya. Di lereng Pengsong, ia terus berkarya; menyulam abstraksi, merawat kebebasan, dan menghadirkan keindahan yang tidak selalu harus dijelaskan, tetapi selalu bisa dirasakan. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































