Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan

Jumat, 24 April 2026 - 17:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buku

Buku "Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Air, Tradisi, dan Ingatan Kolektif di Lombok Timur" diserahkan kepada Sekretaris Disbud NTB, Arifin, SH., MH., didampingi Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan, Lalu Abdurrahim, S.Pd., MH. (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pada Hari Kartini, Selasa, 21 April 2026, sebuah kunjungan sederhana namun sarat makna berlangsung di Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar, Akeu Surya Panji, datang bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan membawa satu pesan penting tentang masa depan tradisi, lingkungan, dan ingatan kolektif masyarakat Lombok Timur.

Di tengah arus modernisasi dan pembangunan yang kerap menggeser nilai-nilai lokal, Akeu hadir dengan membawa semangat yang berbeda. Ia memperkenalkan kembali sebuah ritus yang telah lama hidup dalam denyut masyarakat Dusun Benyer, Desa Telagawaru: Molang Maliq Mualan Benyer.

Tradisi ini bukan sekadar upacara adat. Ia adalah cara masyarakat membaca hubungan antara manusia, alam, dan Yang Maha Kuasa. Ia adalah bahasa spiritual yang diwariskan turun-temurun untuk menjaga mata air sebagai sumber kehidupan. Dalam ritus itu, air tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan fisik, tetapi sebagai pusat peradaban yang harus dihormati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kunjungan ini dalam rangka silaturahmi dan menyampaikan rencana kegiatan Molang Maliq Mualan Benyer yang akan digelar bulan Juni 2026, di Dusun Benyer, Desa Telagawaru, Lombok Timur,” ujar Akeu ketika ditemui di Rumah Kucing Montong, Jumat, 24 April 2026.

Pernyataan itu sederhana, tetapi mengandung pesan besar: tradisi harus terus bergerak, bukan hanya dikenang.

Molang Maliq Mualan Benyer sendiri merupakan tradisi yang berfokus pada pelestarian mata air Mualan Benyer. Dalam masyarakat setempat, ritus ini menjadi bagian dari kebangru’an, sebuah laku adat yang menyatukan penghormatan kepada alam, nilai spiritual, dan solidaritas sosial.

Tradisi ini menempatkan adat bukan sebagai pajangan folklor, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Air dirawat bukan karena ia dibutuhkan semata, tetapi karena ia dihormati sebagai sumber kehidupan yang menghubungkan manusia dengan masa lalu dan masa depan.

Di sana, generasi muda tidak hanya menjadi penonton. Mereka dilibatkan sebagai pewaris utama.

Tradisi yang Tidak Sekadar Dipertontonkan

Di banyak tempat, upacara adat sering kali direduksi menjadi tontonan wisata. Nilai simbolik dikemas untuk kamera, sementara makna yang sesungguhnya perlahan memudar. Namun Molang Maliq Mualan Benyer justru bergerak dari arah sebaliknya.

Tradisi ini lahir dari kebutuhan masyarakat sendiri untuk menjaga sumber air yang menjadi pusat kehidupan mereka. Mata Air Mualan Benyer bukan hanya lokasi geografis, tetapi ruang batin yang menyimpan sejarah bersama.

Fokus utama tradisi ini adalah merawat air, tradisi, dan ingatan kolektif. Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan tidak bisa dilepaskan dari menjaga kebudayaan.

Baca Juga :  Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah

Ketika masyarakat berkumpul dalam ritus itu, sesungguhnya mereka sedang memperbarui perjanjian sosial dengan alam. Mereka sedang mengingatkan diri sendiri bahwa keberlanjutan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kebiasaan dan kesadaran.

Dalam konteks itulah, keterlibatan generasi muda menjadi sangat penting. Tradisi tidak akan bertahan jika hanya disimpan dalam nostalgia para tetua. Ia harus ditransformasikan menjadi pengalaman hidup yang relevan bagi anak-anak muda hari ini.

Karena itu, Molang Maliq bukan sekadar pelestarian ritual, tetapi pendidikan kebudayaan yang hidup.

Akeu memahami benar hal tersebut. Maka pada kesempatan kunjungannya ke Dinas Kebudayaan NTB, ia tidak hanya membawa agenda kegiatan, tetapi juga menyerahkan sebuah buku penting sebagai dokumen intelektual dari gerakan budaya itu.

Buku berjudul Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Air, Tradisi, dan Ingatan Kolektif di Lombok Timur karya Yuga Anggana diserahkan kepada Sekretaris Disbud NTB, Arifin, SH., MH., didampingi Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disbud NTB, Lalu Abdurrahim, S.Pd., MH.

Buku setebal xviii + 157 halaman yang diterbitkan Garudhawaca pada November 2025 itu menjadi penanda bahwa tradisi tidak cukup hanya dirayakan, ia juga harus dituliskan.

Buku sebagai Arsip Kesadaran

Dalam masyarakat lisan, ingatan sering diwariskan melalui cerita, simbol, dan ritus. Namun zaman bergerak cepat. Ketika generasi berganti, banyak hal berisiko hilang jika tidak didokumentasikan.

Di sinilah pentingnya buku karya Yuga Anggana itu.

Buku tersebut bukan hanya catatan akademik atau laporan kegiatan budaya. Ia adalah arsip kesadaran. Ia merangkum detail peristiwa, refleksi personal, dinamika sosial, hingga konflik yang menyertai perjalanan pelestarian tradisi.

“Kami berharap buku ‘Molang Maliq Mualan Benyer’ ini bukan hanya sebagai sumber inspirasi, tetapi juga bisa menumbuhkan semangat untuk menjaga, menghidupkan dan mengembangkan kebudayaan sebagai bagian dari identitas bangsa,” kata Akeu.

Harapan itu terasa sangat relevan. Sebab krisis terbesar yang dihadapi masyarakat hari ini bukan hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi juga hilangnya makna.

Dalam catatan ceraken.id pada Minggu, 22 Februari 2026, buku ini dinilai memiliki kekuatan pada detail peristiwa dan refleksi personal yang jujur. Penulis menyusun kronologi dengan rapi, memperlihatkan dinamika sosial, dan tidak menutup mata pada konflik maupun tantangan.

Namun yang paling penting, buku ini mengingatkan bahwa krisis ekologis sering berakar pada krisis makna. Ketika hubungan manusia dengan air direduksi menjadi sekadar utilitas, maka yang hilang bukan hanya kejernihan sumber, tetapi juga kejernihan kesadaran.

Air menjadi sekadar komoditas. Mata air berubah menjadi angka dalam laporan pembangunan. Dan manusia kehilangan kemampuan untuk mendengar pesan yang lebih dalam dari alam.

Baca Juga :  Menjaga Arah, Mempercepat Langkah: Pelantikan Pejabat Kebudayaan di Tengah Tuntutan Zaman

Buku ini menolak cara pandang seperti itu. Ia mengajak pembaca kembali melihat air sebagai bagian dari identitas budaya, bukan sekadar sumber daya.

Kembali Bukan Berarti Mundur

Molang Maliq Mualan Benyer adalah cerita tentang kembali. Kembali pada akar. Kembali pada air. Kembali pada kebersamaan. Tetapi kembali bukan berarti mundur. Ia justru adalah strategi untuk melangkah lebih kokoh ke depan.

Di tengah wacana pembangunan desa berbasis wisata dan ekonomi kreatif, buku ini menawarkan model pembangunan yang tidak tercerabut dari tradisi.

Ia menunjukkan bahwa ritual dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Seni tradisi bisa menjadi penggerak ekonomi. Pelestarian lingkungan bukan agenda yang terpisah dari kebudayaan.

Ini adalah pelajaran penting bagi banyak desa di Indonesia.

Sering kali pembangunan dipahami sebagai sesuatu yang harus menggantikan tradisi. Padahal justru tradisi yang sehat dapat menjadi fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

Yuga Anggana berhasil menggali ingatan kolektif yang berserak, menatanya, lalu menghidupkannya kembali dalam bentuk peristiwa budaya. Gerakan ini lahir dari denyut masyarakat sendiri. Ia bukan proyek instan yang datang dari luar, melainkan adaptasi memori kolektif yang menjelma menjadi energi baru.

Inilah kekuatan sesungguhnya: perubahan yang tumbuh dari akar sosial, bukan dari desain seremonial. Ketika masyarakat merasa memiliki tradisi itu, maka pelestarian menjadi gerakan bersama, bukan program formal yang bergantung pada anggaran.

Karena itu, Akeu juga menegaskan pentingnya dukungan kebijakan.

“Isi dan kegiatan-kegiatan dalam buku ini, diakomodir agar bisa mendapatkan perhatian dan dukungan dari semua pihak terutama dari pemerintah yang merupakan pemangku kebijakan,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar permintaan administratif, tetapi ajakan moral agar negara hadir dalam menjaga warisan yang hidup.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang Mualan Benyer. Ia adalah cermin bagi banyak desa di Nusantara yang memiliki mata air, ritual, dan ingatan, namun perlahan tergerus zaman. Ia mengingatkan bahwa modernitas tidak harus berarti melupakan akar.

Justru di tengah dunia yang semakin bising, manusia perlu kembali belajar mendengar hal-hal yang paling sederhana: gemericik air, doa-doa lama, dan nasihat adat yang diwariskan diam-diam.

Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendesak: apakah kita masih mau mendengar suara air? Karena ketika suara air hilang, yang sesungguhnya lenyap bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga bagian terdalam dari kemanusiaan kita sendiri. (aks)

 

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Di Lereng Pengsong: Keteguhan Estetik I Nyoman Sandiya dalam Abstrak Dekoratif
Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional
Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah
Merawat Irama, Menjaga Ingatan: Gamelan Wayang Sasak dalam Denyut Museum NTB
Dua Tafsir Alam di Kaki Gunung: Membaca “Orang-Orangan Sawah” dan “Gunung Merapi” Karya I Nyoman Sandiya
Enam Bulan Menggerakkan Kebudayaan: Ujian Kepemimpinan Muhamad Ihwan di NTB
Nyangkar Carik: Menata Ulang Ruang, Menjaga Ruh Bayan di Tengah Arus Modernitas
Dari Indonesiana ke IndonesiaRaya: Menata Ulang Ekosistem Pendanaan Kebudayaan

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 17:14 WITA

Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan

Jumat, 24 April 2026 - 00:03 WITA

Di Lereng Pengsong: Keteguhan Estetik I Nyoman Sandiya dalam Abstrak Dekoratif

Kamis, 23 April 2026 - 10:28 WITA

Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional

Kamis, 23 April 2026 - 09:51 WITA

Bandung Spirit dan Diplomasi Budaya: Menyulam Perdamaian dari Jejak Sejarah

Selasa, 21 April 2026 - 20:15 WITA

Merawat Irama, Menjaga Ingatan: Gamelan Wayang Sasak dalam Denyut Museum NTB

Berita Terbaru

Buku

BUDAYA

Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan

Jumat, 24 Apr 2026 - 17:14 WITA

Dari situlah lahir ruang yang sehat; tempat kritik dihargai, perbedaan dirawat, dan kebenaran tetap menjadi pijakan utama.(Foto: aks/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Menjaga Nalar Demokrasi: Antara Kritik dan Pembusukan di Ruang Publik

Jumat, 24 Apr 2026 - 01:14 WITA