CERAKEN.ID — Selasa malam, 28 April 2028, “Panggung” Warjack di Taman Budaya Provinsi NTB kembali menjadi ruang perjumpaan antara musik, “lirik”, dan kesadaran ekologis.
Dalam agenda rutin yang dikenal sebagai Pentas Selasa, kelompok Yoiakustik tampil membawakan pertunjukan bertajuk “Lob Nur Reportoar: Pentas Musik Hari Bumi.” Bukan sekadar konser akustik biasa, malam itu menjadi panggung refleksi tentang bumi, manusia, dan ingatan akan fitrah kehidupan.
Yoiakustik digawangi oleh Wing Sentot Irawan pada gitar dan vokal, Arif Prasojo pada biola, Yuga Anggana pada bass, serta Gde Agus Mega Saputra pada cajón.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Formasi ini dikenal menghadirkan musik yang tidak hanya mengandalkan bunyi, tetapi juga membangun ruang tafsir melalui lirik-lirik puitis yang kadang terdengar ganjil, asing, bahkan seperti teka-teki. Justru di situlah kekuatannya: musik mereka tidak selesai saat lagu berakhir, melainkan terus hidup dalam pikiran pendengar.
Pertunjukan malam itu terasa istimewa karena bertepatan dengan semangat Hari Bumi. Di tengah isu perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan kegelisahan global terhadap masa depan planet ini, Yoiakustik memilih menjawabnya lewat musik; cara yang senyap, namun kerap lebih menggetarkan.
Hari Bumi dan Ingatan untuk Menjaga
Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa bumi membutuhkan kesadaran kolektif manusia untuk tetap lestari. Riri Satria, Komisaris Utama PT Integrasi Logistik Cipta Solusi, dalam catatan media sosialnya menegaskan pentingnya momen ini.
“Tahukah Anda bahwa tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi atau Earth Day?” tulisnya.
Riri mengingatkan bahwa Hari Bumi pertama kali dirayakan pada 22 April 1970 di Amerika Serikat sebagai gerakan masyarakat untuk merespons kerusakan lingkungan yang semakin parah. Saat itu, istilah seperti green economy, economic sustainability, atau triple bottom line belum populer seperti sekarang. Namun kesadaran untuk menjaga bumi sudah tumbuh sebagai kebutuhan mendesak.
Gerakan itu kemudian menyebar ke seluruh dunia, menjadi simbol bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh lagi mengorbankan lingkungan hidup. Menurut Riri, konsep ekonomi ramah lingkungan harus menjadi panduan bersama agar bumi tidak terus rusak atas nama pertumbuhan.
“Lingkungan hidup tidak boleh rusak dengan dalih apa pun, terutama kepentingan ekonomi. Selamat Hari Bumi, yuk jaga bumi kita,” tulisnya.
Pesan itu sederhana, tetapi sangat relevan. Dalam banyak kasus, manusia sering merasa menjadi pemilik bumi, padahal sejatinya hanya penumpang yang diberi kesempatan singgah. Hari Bumi mengingatkan bahwa keberlanjutan bukan pilihan tambahan, melainkan keharusan.
Di sinilah musik menemukan perannya. Ketika data dan laporan ilmiah kadang terasa dingin dan jauh dari emosi manusia, seni hadir sebagai bahasa yang lebih dekat. Musik dapat membuat orang tidak hanya memahami krisis lingkungan, tetapi juga merasakannya.
“Lob Nur”, Garam, dan Fitrah Kehidupan
Pertanyaan menarik malam itu muncul dari judul pertunjukan: mengapa “Lob Nur”?
Bagi sebagian penonton, nama itu terdengar asing. Namun bagi Wing Irawan, atau akrab dipanggil Wing Sentot, judul itu menyimpan simbol yang dalam. Ia menjelaskan bahwa Lob Nur adalah nama sebuah wilayah di Xinjiang, Tiongkok.
“Lob Nur itu nama tempat di Cina, di Xinjiang sana. Di situ sebetulnya danau garam. Gurun, tapi isinya garam semua,” ujarnya.
Menurut Sentot, kawasan itu dahulu merupakan danau garam besar. Namun karena proses alam, garam itu menghilang, dan wilayah tersebut kemudian digunakan pemerintah Tiongkok sebagai lokasi uji coba nuklir.
Di sekitar Xinjiang pula pernah ditemukan mumi dari kaum Uighur, sebuah jejak sejarah yang mempertemukan alam, manusia, dan peradaban.
Bagi Sentot, Lob Nur bukan sekadar nama geografis. Ia adalah metafora.
“Oleh karena itu, kenapa saya kasih judul ‘Lob Nur’, ya tentu saja di dalam Peringatan Hari Bumi ini, kita semua menanamkan kesadaran fitrah diri. Ibaratnya kalau kita makan selalu disiapkan garam untuk mengingatkan fitrah dirinya. Nutfahnya,” bebernya sesaat sebelum melantunkan lagu “Anjing Hitam.”
Garam menjadi simbol penting. Ia kecil, sering dianggap biasa, tetapi tanpanya rasa menjadi hambar. Dalam konteks kehidupan, garam adalah pengingat akan asal-usul, kesederhanaan, dan kesadaran dasar manusia terhadap alam.
Ketika bumi rusak, sesungguhnya yang hilang bukan hanya hutan atau sungai, tetapi juga rasa. Kita perlahan kehilangan kemampuan untuk merasa cukup, merasa terhubung, dan merasa bertanggung jawab.
Melalui simbol Lob Nur, Yoiakustik seperti mengajak penonton untuk kembali menengok hal paling mendasar: manusia dan bumi tidak pernah benar-benar terpisah.

Lirik Puitik sebagai Perlawanan Sunyi
Setelah “Anjing Hitam”, pertunjukan berlanjut dengan sepuluh repertoar lain: “2 Puluh 2 Satu”, “Perawan”, “18 Kurang Sepuluh”, “Lupa Lupakanlah”, “7 Belas”, “Niskala”, “Ada Yang Diam-Diam”, “Selasa”, “Dua’Enam”, dan “Bunga Itu Debu”.
Penonton larut dalam suasana. Tidak ada ledakan visual berlebihan, tidak ada kemewahan panggung yang memaksa perhatian. Yang ada hanyalah bunyi, syair, dan ruang tafsir.
Menikmati Yoiakustik memang berarti menikmati harmoni bunyi sekaligus menerima kemungkinan tersesat dalam liriknya. Kata-kata mereka sering tidak langsung menjelaskan maksud, melainkan membuka lorong refleksi.
Dalam “Anjing Hitam”, misalnya, terdengar bait:
Anjing hitam
di puncak dinding karang
Cerita usang
Jika datang untuk pulang
Lalu berlanjut:
Musim berulang meringkuk pesan,
Didengkur malam lamat terdengar, ayam hutan mematuk fajar.
Dan ditutup dengan:
Anjing masih hitam
di puncak dinding karang memahat, diam
Lirik itu tidak menawarkan jawaban instan. Ia mengundang penonton untuk diam, merasakan, lalu menafsirkan sendiri.
Begitu pula pada lagu “2 Puluh 2 Satu” yang bahkan dimainkan dua kali malam itu, sebuah penegasan bahwa lagu tersebut memiliki posisi penting dalam keseluruhan pertunjukan.
Begitulah api sekam,
tungku perlu kayu menjadi abu
Begitupun rintik hujan,
Daun-daun kering tak hendak menjadi sungkan
Ada kesan filosofis yang kuat: bahwa kehidupan bergerak melalui kehilangan, perubahan, dan penerimaan.
Di tengah industri musik yang semakin dipenuhi produk instan, algoritma, dan kecerdasan artifisial, pendekatan seperti ini terasa seperti perlawanan sunyi.
Sidik Jari Manusia yang Tak Bisa Dipalsukan
Pementasan itu juga meninggalkan kesan mendalam bagi Imam Safwan, penyair dan penulis naskah dari Lombok Utara. Baginya, Wing Sentot adalah representasi dari seni yang masih memiliki napas manusia.
Ketika industri musik mulai dibanjiri oleh produk AI yang serba cepat dan serba praktis, Sentot justru tetap setia pada kedalaman rasa.
“Ia menawarkan apa yang gagal ditiru oleh baris kode: kedalaman rasa dan napas dalam setiap artikulasi. Lirik-liriknya yang puitis mengalir bak air segar, membasuh kejenuhan audiens,” ujar Imam.
Pernyataan itu terasa kuat karena lahir dari pengalaman langsung menyaksikan pertunjukan. Malam itu, langit sebenarnya mendung dan ancaman hujan menggantung di udara. Namun penonton tetap bertahan.
“Di bawah langit yang mendung, penonton terpaku di tempat duduk mereka, seolah-olah magis suara dan syairnya menjadi payung tak kasatmata yang melindungi mereka dari ancaman hujan yang ingin kembali pulang,” katanya.
Sebagai penulis buku puisi Kembali Melaut dan Langit Seperti Cangkang Telur Bebek, Imam memahami bahwa seni sejati bukan hanya tentang teknik, tetapi tentang jejak batin yang tertinggal.
Ia menyimpulkan dengan kalimat yang barangkali menjadi penutup paling tepat untuk malam itu:
“Sentot adalah pengingat bahwa seni sejati memiliki sidik jari manusia yang tak bisa dipalsukan oleh mesin.”
Di tengah dunia yang semakin otomatis, cepat, dan serba sintetis, Yoiakustik hadir sebagai pengingat bahwa bumi, musik, dan manusia sama-sama membutuhkan kejujuran. Hari Bumi tidak selalu harus diperingati dengan seminar atau kampanye formal.
Kadang, ia cukup hadir lewat petikan gitar, gesekan biola, ketukan cajón, dan lirik yang membuat seseorang pulang dengan kesadaran baru.
Bahwa menjaga bumi sesungguhnya adalah menjaga rasa. Dan menjaga rasa, sering kali, dimulai dari mendengarkan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































