CERAKEN.ID — Mataram — Mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa percakapan tentang masa depan sebuah kota dimulai dari sebuah meja di sudut kafe. Bukan di ruang rapat berpendingin udara, bukan pula di aula pemerintahan dengan tata acara yang serba formal.
Melainkan di sebuah kafe sederhana di kawasan Dasan Agung, ditemani aroma kopi, sepiring kacang kedelai, dan pisang goreng hangat.
Di tempat itulah Forum Big Table Mataram 2026: Future City digelar. Mengusung tema “Mataram Kota yang Layak bagi Semua: Merancang Masa Depan Kota yang Cerdas, Inklusif, Rendah Karbon, dan Berdaya Hidup”, forum ini menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan, pengalaman, dan harapan tentang Kota Mataram yang ingin dibangun bersama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak ada podium. Tidak ada sambutan panjang. Tidak ada sekat antara pemerintah, akademisi, komunitas, maupun warga. Semua duduk dalam posisi yang sama: sebagai sesama warga yang peduli terhadap masa depan kota.
Kota Harus Lebih Sering Dibicarakan
Di tengah suasana santai khas kafe, moderator sekaligus penggagas kegiatan, Muhamad Bai’ul Hak, membuka forum dengan sebuah gagasan sederhana namun mendasar: kota harus lebih sering dibicarakan.
“Kita tidak bisa terus mengeluh lalu berhenti pada saling menyalahkan. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk menunjukkan apa yang bisa kita lakukan dan kontribusi apa yang bisa kita berikan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi benang merah sepanjang diskusi malam itu. Pembangunan kota, menurut para peserta, bukan semata urusan pemerintah. Masa depan kota merupakan hasil kerja kolektif yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Forum menghadirkan sejumlah pemantik dari beragam disiplin ilmu. Di antaranya Chrisna Trie Hadi Permana, Ph.D., dosen Perencanaan Wilayah dan Kota dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo; I Wayan Agus Arimbawa, Ph.D., dosen Teknik Informatika Universitas Mataram; dr. Wahyu Sulistya Afarah, MPH, Sp.KL., Subs PP.; serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, M. Ramadhani.
Dari perspektif perencanaan wilayah dan kota, Chrisna mengingatkan bahwa konsep smart city kerap dipahami secara keliru. Menurutnya, kota cerdas bukan diukur dari banyaknya teknologi yang digunakan, melainkan dari kemampuan memanfaatkan data dan inovasi untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Kota yang cerdas adalah kota yang mampu memahami kebutuhan masyarakatnya dan mengambil keputusan berbasis data,” ungkapnya.
Smart City Dimulai dari Smart Citizen
Pandangan lain disampaikan I Wayan Agus Arimbawa yang menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjawab tantangan perkotaan. Menurutnya, konsep smart city hanya dapat terwujud apabila ditopang oleh kehadiran smart citizen atau warga yang aktif, kritis, dan solutif.
Karena itu, kampus, komunitas, serta ruang-ruang belajar publik memiliki peran penting dalam membangun kapasitas warga agar tidak sekadar menjadi penerima kebijakan, melainkan bagian dari solusi.
Sementara itu, dr. Wahyu Sulistya Afarah mengajak peserta melihat kota dari perspektif yang lebih manusiawi. Berangkat dari latar belakang kesehatan masyarakat, ia menegaskan bahwa kualitas kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan infrastruktur.
Kota yang baik juga harus memperhatikan kesehatan mental, kesetaraan gender, aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, serta perlindungan terhadap kelompok rentan. Sebuah kota, menurutnya, harus mampu menghadirkan rasa aman dan kesempatan yang setara bagi seluruh warganya.
Menariknya, forum tersebut tidak hanya dihadiri akademisi dan pemerintah. Berbagai komunitas anak muda turut hadir membawa gagasan dan inovasi yang selama ini mereka kembangkan secara mandiri.
Ada Urban Creative Community yang memperjuangkan ruang ekspresi kreatif bagi warga kota. Ada AI.Kota yang mengembangkan layanan berbasis kecerdasan buatan untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara cepat.
Selain itu, hadir pula inisiatif digital yang fokus pada transisi energi terbarukan serta komunitas yang mengembangkan platform data karbon guna mendukung agenda kota rendah emisi.
Mereka datang bukan sekadar menjadi penonton, melainkan membawa energi baru bagi masa depan Mataram.
Mendengar Sebagai Awal Kolaborasi

Di tengah perbincangan yang semakin hangat, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, M. Ramadhani, mengaku terkejut sekaligus optimistis melihat tingginya perhatian masyarakat terhadap isu-isu perkotaan.
“Bagi saya ini luar biasa. Sebagai representasi pemerintah kota, saya melihat ini sebagai aset yang sangat berharga,” katanya.
Jika selama ini Dinas Kominfo sering disebut sebagai “mulut dan telinga” pemerintah, malam itu Ramadhani memilih mengambil peran sebagai telinga.
“Saya datang untuk mendengar. Mendengar gagasan, kritik, masukan, dan harapan. Semua yang disampaikan malam ini akan menjadi catatan penting untuk dirumuskan menjadi kebijakan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi bukan sekadar slogan. Ia dimulai dari kesediaan untuk mendengar, memahami, dan membuka ruang dialog yang setara.
Semakin malam, percakapan semakin hidup. Perwakilan Ikatan Ahli Perencana (IAP) NTB, Rahmawati, turut menyampaikan pandangannya berdasarkan pengalaman menyusun dokumen RTRW dan RDTR di berbagai daerah, termasuk Kota Mataram. Sejumlah organisasi masyarakat sipil dan NGO juga menyuarakan perhatian mereka terhadap berbagai isu, mulai dari sanitasi hingga kualitas ruang publik.
Tidak ada kesimpulan final yang dihasilkan malam itu. Namun justru di situlah letak kekuatan forum tersebut. Big Table Mataram tidak berpretensi menyelesaikan seluruh persoalan kota dalam satu malam.
Yang lahir adalah sesuatu yang lebih penting: komitmen untuk terus bertemu, berdiskusi, dan bekerja bersama.
Para peserta sepakat bahwa forum-forum serupa akan terus digelar dari kafe ke kafe, dari meja ke meja, dan dari percakapan ke percakapan. Sebab kota yang baik tidak dibangun oleh satu institusi, melainkan oleh jejaring orang-orang yang percaya bahwa perubahan harus diperjuangkan secara kolektif.
Mungkin inilah yang dimaksud Bung Karno ketika berbicara tentang anak muda yang berdiskusi di warung kopi sambil memikirkan bangsanya. Bukan soal kopinya, bukan pula soal tempatnya, melainkan tentang keberanian untuk peduli, bertukar gagasan, dan bergerak bersama.
Dan dari sebuah meja di sudut kafe di Kota Mataram, benih-benih kolaborasi itu tampaknya mulai tumbuh. (*)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: diskominfo kota mataram































































