CERAKEN.ID — Beberapa waktu lalu, linimasa media sosial di Lombok diramaikan oleh tayangan terbaru dari Room Project Skena In, kerap disebut Skena-In atau Roomproject. Kali ini, bintang yang dihadirkan bukan sekadar musisi dengan lagu-lagu akustik yang renyah, melainkan seorang pengayuh jarak jauh yang akrab dengan “senyap”: Wing Sentot Irawan.
Dalam sesi bertajuk tantangan ringan namun reflektif itu, Wing, yang juga dikenal sebagai Mister Yoi, menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dengan gaya khasnya: jenaka, spontan, tapi menyimpan kedalaman. Ia seperti memainkan nada minor di tengah tawa.
“Kalau kamu mengubah namamu, nama apa yang kamu inginkan?” tanya sebuah teks yang diambil dalam tempat khusus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Wing tersenyum. “Sebetulnya nama saya Wing Irawan, tapi saya sering dipanggil Mister Yoi. Hanya untuk menyederhanakan persoalan supaya kalau kita tertarik sama hal tertentu, enggak muter-muter.” Jawaban itu terdengar ringan.
Namun di baliknya, terselip cara pandang seorang seniman terhadap identitas. Nama bukan sekadar sebutan, melainkan pintu masuk pada gagasan. “Mister Yoi” adalah cara Wing memadatkan kompleksitas hidup menjadi sesuatu yang cair dan mudah diterima.
Tentang Pulsa dan Hal-Hal Penting
Tantangan kedua terasa lebih personal: hubungi seseorang yang paling penting dalam hidupmu.
Wing menjawab dengan jujur dan apa adanya. “Saat ini saya tidak ada keinginan untuk menghubungi siapa-siapa. Pulsa saya habis.”
Ruangan tertawa. Namun Wing segera menambahkan, “Bukan berarti enggak ada yang penting. Tapi pulsa itu penting.”
Di titik ini, obrolan ringan berubah menjadi semacam satire kecil tentang realitas. Dalam dunia yang serba terhubung, nilai “penting” sering kali terukur oleh hal-hal teknis; pulsa, sinyal, kuota. Bukan karena cinta atau relasi kehilangan makna, tetapi karena medium kadang lebih menentukan daripada pesan.
Wing seperti mengingatkan: kadang yang sederhana justru paling menentukan.

Lembur dalam Mimpi
Pertanyaan ketiga terasa absurd sekaligus filosofis: jika kita pulang kerja lalu tidur dan bermimpi sedang bekerja, apakah itu dihitung lembur?
“Ya lemburlah,” jawab Wing cepat. “Karena saya lebih banyak mimpinya daripada kerja.”
Tawa kembali pecah. Namun pernyataan itu seolah mengandung ironi yang dalam. Bagi seorang kreator, mimpi bukan sekadar bunga tidur. Ia adalah ruang produksi yang tak terikat jam kantor. Gagasan lahir dalam perjalanan, di atas sepeda, di sela nada, bahkan dalam tidur.
Mimpi, bagi Wing, mungkin bukan lembur yang dibayar, melainkan kerja batin yang tak tercatat.
Cinta yang Tak Pernah Dinyatakan
Ketika ditanya berapa kali ia menolak orang yang menyatakan cinta, Wing menjawab polos, “Sampai sekarang belum ada.”
Ia tertawa kecil, seolah menertawakan mitos romantisme yang sering dilekatkan pada musisi. “Sudah lama saya tidak mengatakan hal seperti itu.”
Di sini, cinta menjadi konsep yang cair. Bukan soal pengakuan atau penolakan, melainkan bagaimana seseorang mengapresiasi realitas. Cinta tidak selalu hadir dalam deklarasi dramatis. Kadang ia ada dalam kesetiaan pada karya, pada perjalanan, pada obsesi yang tak pernah padam.
Obsesi 200 yang Selalu Berhenti di 15
Ketika sampai pada pertanyaan terakhir tentang obsesi, wajah Wing berubah lebih serius.

Ia mengaku memiliki obsesi memiliki studio sendiri, lengkap dengan alat-alat band akustik. “Saya suka yang akustik. Meski sound-nya sederhana, secara akustik enak. Saya pusing kalau lihat yang elektrik.”
Sebagai frontman dari Yoiakustik, Wing memang menempatkan kesederhanaan sebagai estetika. Grup musik ini digawangi oleh Wing pada gitar dan vokal, Arif Prasojo pada biola, Yuga Anggana pada bass, dan Gde Agus Mega Saputra pada cajón. Mereka bukan sekadar band, melainkan komunitas kecil orang-orang yang peduli pada kreativitas.
Namun yang paling menarik adalah obsesinya pada angka 200.
Ia mengibaratkan target albumnya seperti mengayuh sepeda sejauh 200 kilometer. “Kalau sudah 200 itu pas. Ada target.”
Faktanya, setiap kali ia memproduksi album, jumlahnya hanya 15 kopi. Ketika 15 itu habis, selesai. Tak ada cetak ulang, tak ada distribusi massal. “Kalau orang cari, sudah habis.”
Obsesi 200 itu seperti jarak ideal yang selalu dibayangkan, tetapi realitasnya berhenti di 15. Sebuah metafora tentang idealisme yang bertemu keterbatasan. Namun alih-alih kecewa, Wing menjadikannya bagian dari ritme hidup.
Mengayuh untuk Bumi
Obsesi pada angka 200 mungkin tak selalu tercapai dalam produksi album. Tetapi dalam perjalanan sepeda, Wing menaklukkan jarak yang jauh lebih ekstrem.
Pada 22 April 2024, bertepatan dengan Hari Bumi, Wing mengayuh sepeda dari Lombok menuju Lampung. Perjalanan itu bukan yang pertama.
“Sejak 2006 saya selalu melakukan perjalanan bersepeda menuju daerah-daerah tertentu,” ujarnya.
Tahun 2006, ia mengayuh dari kampung halaman menuju Titik Nol di Aceh. Dua tahun kemudian, ia kembali menantang diri dengan bersepeda dari Lombok menuju Sorong, Papua. Jarak ribuan kilometer itu ditempuh dengan tenaga sendiri tanpa mesin, tanpa percepatan instan.
Pada 2010, ia melintasi batas negara menuju Vietnam. Tahun 2014, ia mengayuh hingga Brunei. Asia Tenggara bukan lagi sekadar peta, melainkan jejak roda di aspal.

Bersepeda bagi Wing bukan olahraga, melainkan pernyataan. Ia seperti memperluas panggungnya dari ruang akustik ke bentang geografis.
Ruang Intim bagi Musisi Lokal
Kehadiran Wing di Room Project bukan kebetulan. Platform yang digagas oleh Rahadyan Shalat, yang akrab disapa Kang Oseng, itu memang dirancang sebagai ruang intim bagi musisi lokal Lombok.
Dengan konsep monocase dan live perform, Room Project Skena In memberi kesempatan bagi musisi untuk menampilkan karya dalam suasana dekat dan personal. Program “Skena-In Particular” bahkan menjadi panggung khusus untuk merangkum perjalanan musikal seorang seniman.
Di tengah arus industri musik digital yang serba cepat dan algoritmis, ruang seperti ini menjadi penting. Ia menghadirkan kembali relasi langsung antara musisi dan pendengar. Tanpa filter berlebihan, tanpa efek yang menutupi.
Wing, dengan segala kesederhanaannya, terasa cocok dengan konsep itu. Ia bukan musisi yang mengejar viralitas. Ia lebih seperti pengayuh jarak jauh yang menikmati setiap tanjakan.
Antara Mimpi dan Kayuhan
Menonton Wing dalam sesi tantangan Room Project seperti melihat potret seorang seniman yang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Ia tak malu mengakui pulsanya habis. Ia tak keberatan obsesinya berhenti di angka 15. Ia bahkan bercanda soal mimpi yang dianggap lembur.
Namun di balik itu semua, ada konsistensi yang jarang disorot: sejak 2006 ia terus mengayuh. Sejak lama ia terus bernyanyi. Ia mungkin tak mencetak 200 album, tetapi ia telah menempuh ribuan kilometer dengan sepeda.
Dalam dunia yang serba instan, Wing memilih tempo lambat. Dalam industri yang mengejar kuantitas, ia bertahan pada edisi terbatas. Dalam kehidupan yang mengukur sukses dari angka besar, ia nyaman dengan angka kecil yang bermakna.
Mister Yoi mungkin hanya nama panggung. Tetapi di baliknya, ada seorang lelaki yang percaya bahwa hidup tak selalu harus mencapai 200 untuk terasa utuh. Kadang 15 yang habis terjual sudah cukup. Kadang mimpi yang dianggap lembur justru lebih nyata daripada pekerjaan itu sendiri.
Dan mungkin, seperti kayuhan sepeda yang tak pernah benar-benar berhenti, obsesi itu bukan soal sampai atau tidak. Melainkan tentang terus bergerak. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































