CERAKEN.ID — Satu tahun telah berlalu sejak 20 Februari 2025. Bagi Kota Mataram, rentang waktu itu bukan sekadar hitungan kalender, melainkan penegasan arah: ke mana kota ini hendak dibawa, nilai apa yang dijaga, dan harapan siapa yang diperjuangkan.
Di tanggal itu, pasangan Wali Kota H. Mohan Roliskana dan Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman, yang akrab dengan akronim HARUM, memulai episode kedua kepemimpinan mereka, dilantik serentak bersama 481 pasangan kepala daerah lain di Indonesia.
Tidak ada waktu untuk meraba-raba. Tidak ada jeda untuk sekadar “mengintip” kekuatan atau membaca ulang situasi. Fondasi birokrasi yang telah dibangun pada periode sebelumnya menjadi pijakan kokoh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kolektivitas aparatur yang terlatih membuat mesin pemerintahan tidak perlu dipanaskan terlalu lama. Dalam suasana pengetatan fiskal dan tuntutan efisiensi, Pemerintah Kota Mataram justru memilih berlari bahkan melompat meninggalkan keraguan.
Bagi duet kepemimpinan ini, masa depan bukan sesuatu yang ditunggu. Ia harus dirancang dan diciptakan.
Kepemimpinan yang Solid, Kota yang Percaya Diri
Chemistry kepemimpinan menjadi modal sosial yang tak kasatmata namun terasa dampaknya. Mohan Roliskana dengan gaya manajerial yang tenang dan terukur, berpadu dengan TGH Mujiburrahman yang komunikatif dan religius, membentuk harmoni kerja yang saling melengkapi.
Dalam banyak kesempatan, keduanya tampil sebagai satu tarikan napas kebijakan: solid, konsisten, dan teruji.
Ujian pun sempat datang. Banjir yang melanda sebagian wilayah kota menjadi pengingat bahwa pembangunan fisik tak pernah lepas dari tantangan alam. Namun dari situ justru lahir ketangguhan kolektif.
Warga bergerak bersama, relawan turun tangan, birokrasi merespons cepat. Kota ini bangkit dan pulih relatif lebih cepat. Kohesi sosial bukan lagi slogan, melainkan refleks yang terbentuk dari pengalaman bersama.

Solidaritas itu menjadi energi moral bahwa Mataram tidak mudah goyah.
Ekonomi yang Tumbuh di Tengah Keterbatasan
Di tengah tekanan fiskal dan dinamika global, roda ekonomi Kota Mataram tetap berputar. Pertumbuhan ekonomi tercatat 4,12 persen pada 2024.
Investasi tetap hadir, menandakan kepercayaan dunia usaha pada stabilitas kota ini. Angka kemiskinan turun menjadi 7,15 persen, dengan kemiskinan ekstrem tersisa 1,09 persen, sebuah capaian yang menunjukkan arah kebijakan yang tepat sasaran.
Inflasi pun relatif terkendali di angka 3,12 persen. Sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) membuahkan pengakuan nasional melalui TPID Award dari Bank Indonesia.
Stabilitas ini bukan sekadar statistik; ia berarti harga yang terjangkau, daya beli yang terjaga, dan ketenangan hidup warga.
Di pasar-pasar rakyat, denyut ekonomi terasa nyata. Pedagang kaki lima, pelaku usaha mikro, dan UMKM menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi lokal.
Dari lorong-lorong sederhana hingga pusat pelayanan modern, geliat ekonomi rakyat menjadi wajah sesungguhnya dari pembangunan: inklusif dan membumi.
Inovasi sebagai Jalan Bertahan dan Melompat
Pengetatan anggaran tidak membuat langkah melambat. Sebaliknya, keterbatasan memicu kreativitas. Pemerintah Kota Mataram justru memperkuat budaya inovasi.
Pada ajang Innovative Government Award Tahun 2025, yang digelar oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Mataram dinobatkan sebagai Kota Sangat Inovatif.

Tak hanya itu, dalam rilis Indeks Daya Saing Daerah oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional, Kota Mataram menempati peringkat kedua kota paling maju di luar Pulau Jawa dengan skor 4,29. Angka itu menegaskan bahwa kota ini tidak hanya bertahan, tetapi berakselerasi.
Inovasi bukan sekadar aplikasi atau sistem digital. Ia adalah cara berpikir: bagaimana memecahkan masalah dengan sumber daya terbatas, bagaimana melayani lebih cepat dengan proses lebih ringkas, dan bagaimana menghadirkan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Transparansi dan Era Digital: Jembatan Kepercayaan
Di era digital, jarak antara pemerintah dan warga semakin tipis. Komunikasi menjadi jembatan kepercayaan.
Pengelolaan media sosial Pemerintah Kota Mataram masuk tiga besar nasional dalam Anugerah Media Humas 2025 dari Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Kanal digital bukan lagi sekadar etalase informasi, tetapi ruang dialog.
Budaya keterbukaan publik juga menunjukkan capaian signifikan. Dengan skor 99,40, Mataram menjadi Pemerintah Daerah Terinformatif di Nusa Tenggara Barat.
Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) mencapai skor 3,96 dengan kategori “Sangat Baik”. Artinya, tata kelola digital semakin matang, proses administrasi makin transparan, dan pelayanan makin mudah diakses.
Transparansi adalah keberanian untuk dipercaya. Dan kepercayaan adalah mata uang termahal dalam pemerintahan.
Budaya sebagai Akar, Kemajuan sebagai Cabang
Namun pembangunan tidak hanya soal angka dan penghargaan. Ia juga soal jiwa. Kota yang tumbuh tanpa akar akan mudah rapuh. Karena itu, pembangunan di Mataram berupaya tetap berpijak pada nilai dan identitas budaya.
Wali Kota Mohan Roliskana menerima Anugerah Kebudayaan 2026 dalam rangka Hari Pers Nasional, sebuah pengakuan bahwa kebijakan pembangunan tidak melupakan tradisi dan ekspresi lokal. Di kota ini, kemajuan dan kebudayaan tidak dipertentangkan. Justru keduanya saling menguatkan.
Mataram memahami bahwa identitas adalah daya saing yang tak tergantikan.

Pelayanan Publik: Rakyat sebagai Raja
Pada akhirnya, seluruh capaian bermuara pada satu titik: pelayanan publik. Indeks Pelayanan Publik Kota Mataram mencapai 4,42 dengan kategori sangat baik. Prinsip bahwa rakyat adalah “raja” tidak berhenti pada retorika.
Di sektor kesehatan, cakupan Universal Health Coverage (UHC) tingkat madya telah mencapai 98 persen, dengan tingkat keaktifan 88 persen. Warga cukup menunjukkan KTP untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Inovasi seperti PSC 119 dan layanan unggulan lainnya dari RSUD Kota Mataram memperkuat sistem respons cepat kesehatan.
Evaluasi SAKIP Tahun 2025 mencatat nilai 72,39 dengan predikat BB (Sangat Baik), menandakan program yang direncanakan dan dianggarkan benar-benar berdampak. Indeks Reformasi Hukum bahkan mencapai 96,90 dengan kategori AA (Istimewa).
Ini bukan sekadar angka administratif, melainkan cerminan tata kelola yang makin akuntabel.
Integritas sebagai Cahaya
Puncak dari seluruh capaian itu adalah integritas. Dengan skor 91,85 kategori Istimewa, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Kota Mataram sebagai percontohan Kota Anti Korupsi.
Status ini bukan hanya kebanggaan, tetapi amanah untuk menularkan praktik baik kepada daerah lain.

Dalam kesempatan itu, Mohan Roliskana mengingatkan pentingnya bekerja dengan jujur dan tidak melampaui batas.
“Jangan ambil jika bukan punya kita, dan jangan lakukan jika kita sadar itu tidak benar,” pesannya.
Ia bahkan meminta untuk diingatkan jika keliru, sebuah sikap yang menunjukkan kerendahan hati dalam kepemimpinan.
Bagi Mataram, kepercayaan rakyat adalah kehormatan. Dan kehormatan harus dijaga dengan integritas.
Menuju Masa Depan yang Harum
Satu tahun episode kedua HARUM bukanlah garis akhir. Ia adalah awal babak yang lebih besar.
Harapan yang dirawat, doa yang dipanjatkan, gotong royong yang dijaga, serta kepemimpinan yang memberi teladan menjadi fondasi untuk melangkah lebih jauh.
Selama warga merasa bangga memiliki kotanya, selama pemerintah setia melayani dengan hati, dan selama integritas menjadi cahaya, Mataram akan terus bergerak.
Di sebuah kesempatan, Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman menutup sambutannya dengan pantun sederhana:
Ke Cakranegara membeli obat,
Mobil lewat depan museum.
Walau terkadang tugas kita berat,
Tetap semangat dan tersenyum.
Pantun itu mungkin ringan, tetapi menyimpan pesan mendalam: bahwa membangun kota adalah kerja panjang yang memerlukan ketekunan, ketulusan, dan optimisme.
Setahun telah berlalu. Dan dari kota kecil di Nusa Tenggara Barat ini, harum harapan terus ditebarkan, menuju masa depan yang lebih aman, nyaman, dan bahagia bagi seluruh warganya. (TK Kominfo)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : diskominfo kota mataram





















































