Empat Serangan Kehidupan: Hikmah Nuzulul Qur’an dari Masjid Baiturrahman

Sabtu, 7 Maret 2026 - 18:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi ruang refleksi bagi jamaah untuk merenungi perjalanan hidup (Foto: ppidkotamataram/ceraken.id)

Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi ruang refleksi bagi jamaah untuk merenungi perjalanan hidup (Foto: ppidkotamataram/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Malam peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Baiturrahman, BTN Kekalik Baru, Kelurahan Pagesangan Barat, Kecamatan Mataram, Jumat (06/03/2026), berlangsung dalam suasana yang khusyuk. Jamaah yang memenuhi ruang masjid mendengarkan dengan tenang uraian hikmah yang disampaikan Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman.

Dalam ceramahnya, ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia pada hakikatnya tidak pernah benar-benar tenang tanpa ujian. Ada empat “serangan” yang pasti akan dihadapi setiap manusia.

Empat hal ini, menurutnya, merupakan bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat dihindari siapa pun: kematian, perebutan harta oleh ahli waris, kehancuran jasad di alam kubur, serta tuntutan dari orang-orang yang pernah dizalimi selama hidup di dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pesan tersebut disampaikan sebagai refleksi mendalam pada momentum Nuzulul Qur’an, peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yang setiap tahun diperingati umat Islam sebagai pengingat akan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Kematian yang Tak Terelakkan

Dalam uraian hikmahnya, TGH. Mujiburrahman menjelaskan bahwa “serangan” pertama yang pasti datang kepada manusia adalah kematian. Setiap makhluk yang bernyawa akan mengalami saat ketika malaikat maut datang mencabut nyawa, tanpa seorang pun mengetahui kapan waktunya.

Kematian, menurutnya, adalah kepastian mutlak dalam kehidupan manusia. Tidak ada kekuasaan, harta, maupun kedudukan yang mampu menunda atau menolak datangnya takdir tersebut.

Karena itulah, ia mengingatkan jamaah agar memanfaatkan waktu hidup dengan sebaik-baiknya. Hidup bukan sekadar perjalanan untuk mengejar kepentingan dunia, melainkan kesempatan untuk menanam amal yang kelak akan dipanen di akhirat.

“Setiap orang akan menghadapi kematian, meskipun waktunya tidak pernah diketahui. Karena itu, kita harus memperbanyak amal saleh dan mempersiapkan bekal takwa,” ujarnya.

Pesan tersebut mengandung makna penting: kesadaran akan kematian seharusnya melahirkan sikap hidup yang lebih bijaksana. Manusia yang menyadari keterbatasan hidup akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih rendah hati, dan lebih peduli terhadap sesama.

Harta yang Tak Lagi Dimiliki

Serangan kedua yang diingatkan dalam ceramah tersebut adalah persoalan harta setelah kematian. Ketika seseorang meninggal dunia, seluruh harta yang selama hidupnya dikumpulkan akan berpindah kepada ahli waris.

Perpindahan itu sebenarnya merupakan ketentuan yang telah diatur dalam hukum waris Islam. Namun dalam praktiknya, persoalan harta sering kali menjadi sumber konflik dalam keluarga.

Baca Juga :  Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital

Tidak jarang, perebutan warisan memicu pertengkaran bahkan memutus hubungan persaudaraan. Ironisnya, orang yang meninggal justru tidak lagi memiliki kuasa terhadap harta yang dulu ia perjuangkan sepanjang hidupnya.

Dalam konteks inilah TGH. Mujiburrahman mengingatkan pentingnya memanfaatkan harta untuk kebaikan selama masih hidup. Sedekah, infak, dan berbagai bentuk amal sosial merupakan cara agar harta memiliki makna yang lebih luas.

“Harta yang kita miliki sebaiknya digunakan di jalan kebaikan, agar menjadi pahala yang terus mengalir bagi diri kita,” jelasnya.

Dalam ajaran Islam, konsep ini dikenal sebagai amal jariyah, amal yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Dengan demikian, harta tidak sekadar menjadi simbol kekayaan duniawi, tetapi juga sarana untuk membangun kebermanfaatan yang melampaui kehidupan seseorang.

Tubuh yang Akan Kembali ke Tanah

Serangan ketiga yang disampaikan dalam uraian hikmah tersebut adalah kehancuran jasad di alam kubur. Tubuh manusia yang selama hidup dirawat, dihias, dan dijaga dengan berbagai cara pada akhirnya akan kembali ke tanah.

Jasad manusia, menurut TGH. Mujiburrahman, pada akhirnya akan dimakan oleh cacing tanah dan mengalami proses kehancuran alami.

Pengingat ini dimaksudkan agar manusia tidak terlalu larut dalam kebanggaan terhadap penampilan fisik. Dunia modern sering kali menempatkan penampilan sebagai ukuran utama nilai seseorang.

Namun dalam perspektif spiritual, yang lebih penting justru adalah kebersihan hati dan keindahan akhlak.

Ia menekankan bahwa sikap rendah hati, tutur kata yang lembut, serta perilaku baik kepada sesama merupakan nilai yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar penampilan luar.

Pesan ini seolah mengajak jamaah untuk kembali menyeimbangkan perhatian antara aspek lahiriah dan batiniah. Tubuh memang penting dijaga, tetapi akhlak dan karakter jauh lebih menentukan kualitas kehidupan seseorang.

Tuntutan dari Orang yang Dizalimi

Serangan keempat yang diingatkan adalah tuntutan dari orang-orang yang pernah dizalimi selama hidup di dunia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali tanpa sadar menyakiti atau merugikan orang lain, baik melalui perkataan, perbuatan, maupun sikap yang tidak adil.

Dalam ajaran Islam, kezaliman terhadap sesama manusia tidak hanya berdampak pada hubungan sosial di dunia, tetapi juga memiliki konsekuensi di akhirat.

Baca Juga :  Lorong Pendidikan dan Semangat Sportivitas dari SMAN 8 Mataram

TGH. Mujiburrahman menjelaskan bahwa orang yang menzalimi orang lain dapat kehilangan pahala amal ibadahnya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Pahala tersebut akan diberikan kepada orang yang dizalimi, sementara pelaku kezaliman harus menanggung akibatnya.

Karena itu, ia mengingatkan umat Islam agar senantiasa menjaga perilaku dan menghindari perbuatan yang merugikan orang lain.

“Jangan sampai kita membawa banyak amal, tetapi habis karena tuntutan orang yang pernah kita sakiti,” ujarnya.

Pesan ini menggarisbawahi pentingnya keadilan, empati, dan penghormatan terhadap hak-hak orang lain dalam kehidupan sosial.

Kembali kepada Al-Qur’an

Momentum Nuzulul Qur’an sendiri memiliki makna yang sangat penting bagi umat Islam. Peristiwa turunnya Al-Qur’an menjadi titik awal hadirnya petunjuk ilahi yang membimbing kehidupan manusia.

Dalam kesempatan tersebut, jamaah juga diingatkan agar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan ritual.

Membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an diyakini membawa keberkahan dalam kehidupan. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an akan diganjar dengan pahala berlipat ganda.

Namun lebih dari sekadar membaca, nilai-nilai Al-Qur’an perlu dihidupkan dalam perilaku sehari-hari: kejujuran, keadilan, kepedulian terhadap sesama, serta kesadaran akan tanggung jawab moral sebagai manusia.

Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Baiturrahman malam itu menjadi ruang refleksi bagi jamaah untuk merenungi perjalanan hidup. Empat “serangan” kehidupan yang disampaikan dalam ceramah tersebut bukanlah ancaman yang menakutkan, melainkan pengingat tentang kenyataan hidup yang tidak dapat dihindari.

Kematian mengingatkan manusia tentang keterbatasan waktu. Perebutan harta mengajarkan bahwa kekayaan dunia tidak pernah benar-benar menjadi milik abadi.

Kehancuran jasad menunjukkan bahwa tubuh hanyalah titipan yang suatu saat akan kembali ke tanah. Sementara tuntutan dari orang yang dizalimi menegaskan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.

Dengan kesadaran tersebut, manusia diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.

Memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, menjaga hubungan sosial, serta memanfaatkan harta untuk kebaikan menjadi bekal penting dalam menghadapi perjalanan menuju kehidupan akhirat.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, pesan itu terasa semakin relevan: bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari seberapa jauh manusia mampu menyiapkan dirinya untuk kehidupan yang lebih abadi.**

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun ppid kota mataram

Berita Terkait

Sanitasi yang Memanusiakan
Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram
Takbir di Bawah Langit Mataram
Menyembelih Ego di Hari Raya
Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan
Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital
Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan
Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:38 WITA

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:42 WITA

Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:21 WITA

Takbir di Bawah Langit Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:24 WITA

Menyembelih Ego di Hari Raya

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:17 WITA

Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA